Tari Sere pada jaman dahulu merupakan tari klasik Istana Bima. Tari Sere dari Bima Nusa Tenggara Barat ini diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Tari Sere dari NTB dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh - musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri). Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini diberinama mpa'a sere , yang berarti melompat sambil berlari (sere). Tari Sere diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Tari Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA di Nusa Tenggara Barat. Sumber: http://www.tradisikita.my.id/2016/04/6-tari-tradisional-nusa-tenggara-barat.html?m=1
Slober adalah salah satu jenis musik tradisional Lombok yang tergolong cukup tua, alat-alat musiknya sangat unik dan sederhana yng terbuat dari pelepah enau dengan panjang 1 jengkal dan lebar 3 cm. Kesenian slober didukung juga dengan peralatan yang lainnya yaitu gendang, petuq, rincik, gambus, seruling. Nama kesenian slober diambil dari salah seorang warga desa Pengadangan kecamatan Pringgasela yang bernama Amaq Asih alias Amaq Slober. Kesenian ini salah satu kesenian yang masih eksis sampai saat ini yang biasanya dimainkan pada setiap bulan purnama.
Redad merupakan tari tradisional yang pada penampilannya mengikuti penampilan musik tradisional ratib rebana ode, sebagai bagian yang tak terpisahkan. Biasa ditarikan kaum pria Sumbawa sambil menembang syair - syair hadrah dan dilakukan duduk bersyaf. Melalui berbagai upaya dan pengelolaan dengan gerak dasar tari sumbawa serta pemanfaatan rebana sebagai property pendukungnya, lahirlah tari redad kreasi, olahan komposisinya yang ditata sedemikian rupa dihajatkan agar tari ini dapat menjadi sebuah pertunjukkan yang berdiri sendiri dari ratib rebana ode. Musik pengiring sudah ditata untuk menunjang dinamika tari. Sumber: http://samawaculture.blogspot.co.id/p/kesenian-tari-sumbawa.html?m=1
Tari Gendang Beleq merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Lombok. Dinamakan demikian sebab menggunakan gendang yang sangat besar. Bahkan kesenian Gendang Beleq ini telah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak sejak lama dan merupakan kesenian peninggalan dari Kerajaan Selaparang Lombok yang pernah menguasai sebagian wilayah dipulau Lombok bagian timur di zaman kerajaan Anak Agung. Disebut Gendang Beleq, sebab memakai gendang berukuran besar yang didalam bahasa suku sasak disebut dengan Beleq. Kesenian Gendang Beleq ini awal dipakai oleh para tokoh agama dalam menyebarkan islam di daerah ini. Ketika itu, kesenian ini dimainkan untuk mengumpulkan para warga, yang akan diberikan ceramah agama ataupun kegiatan keagamaan lainnya. Dalam memainkannya, membutuhkan kekompakan di dalam kelompok, sehingga harus dimainkan secara utuh. Untuk musik yang dimainkan, biasanya menggambarkan jiwa ksatria dari masyarakat Suku Sasak Lombok didalam mempertahank...
Gendang Beleq atau Gendang Besar dalam bahasa Indonesia adalah salah satu kesenian berupa instrumen musik yang berupa Gendang besar yang berjumlah dua buah atau lebih. Alat musik ini biasanya dimainkan bersama dengan alat musik lainnya berupa suling, Gong, Kencrengan, dan sebagainya dalam personil yg berjumlah lebih dari 10 orang. Gendang Beleq biasanya digunakan dalam acara Nyongkolan (Mengantar Pengantin) atau pun sebagai Musik penyambut tamu.
Alat musik tradisional Cungklik yaitu kayu dan logam. Cungklik merupakan alat musik silofan yang artinya adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan 2 pemukul. Cara memainkan alat musik ini biasanya pemain akan duduk dengan kaki diluruskan kedepan lalu alat musik diletakkan di atas paha pemain karena rongga yang berada dibawah digunakan sebagai lubang resonansi. Alat musik tradisional Cungklik dulu sering dimainkan secara solo dan hanya dimainkan oleh laki-laki saja pada saat bosan disawah. Lalu dengan perkembangan zaman, Cungklik sekarang dimainkan oleh perempuan juga dan sudah menjadi bagian dari orkestra musik yang sering dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang berirama cukup cepat. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-ntb/
Musik ini terdiri atas bermacam-macam alat yakni : 1. Alat petik, gambus ada dua buah masing-masing berfungsi sebagai melodi dan akor. 2. Alat gesek, biola ada dua buah berfungsi sebagai pembawa melodi. Gambus terbuat dari kayu gerupuk dan kulit kambing sebagai resonatornya. Bentuknya menyerupai gitar, hanya pada bagian perutnya tidak berpinggang. Senarnya terdiri atas empat nada, masing –masing satu senar. 3. Alat tiup, suling dan pererat yang berfungsi sebagai pembawa melodi. 4. Alat pukul, gendang ada tiga buah, masing –masing berfungsi sebagai pembawa irama, pembawa dinamika dan tempo, juga sebagai gong. Rerincik digunakan sebagai alat ritmis. Fungsi orkestra ini adalah sebagai hiburan pada acara perkawinan, khitanan atau hari-hari besar nasional dan daerah. Orkestra ini datang pad...
Wa’a Masa Nika merupakan salah satu prosesi dalam pernikahan adat Bima dan merupakan rangkaian ke-7. Sesuai keputusan dalam Mbolo ro dampa , maka beberapa hari menjelang lafa (akad nikah), akan dilangsungkan upacara wa’a masa nika (pengantaran emas nikah) atau wa’a co’I (pengantaran mahar). Upacara dilaksakan sore hari sesudah sholat ashar, diikuti oleh keluarga, ompu panati, ulama, tokoh adat dan para kerabat. Para peserta akan berangkat dari rumah orang tua penganten laki – laki, berbusana adat yang sesuai dengan status sosial masing – masing. Rombongan pengantar mahar (dende wa’a co’i) akan dimeriahkan dengan atrasi kesenian Jiki Hadra (jikir hadrah) diiringi musik Arubana (rebana). Setibanya di rumah calon penganten putri akan disambut dengan tarian wura bongi monca (tari menabur beras kuning) dan atrasi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.
Kalondo Wei merupakan salah satu prosesi dalam pernikahan adat Bima dan merupakan rangkaian ke-8. Kalondo Wei merupakan upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksakan pada bulan purnama sesuai sholat Isya. Calon penganten putri diturunkan ( kalondo ) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka ( rumah penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai. Dimeriahkan dengan atrasi jiki hadra (jikir hadra) diiringi musik rebana.Pada waktu yang bersamaan di uma ruka sedang berlangsung “Ngaji kapanca” (tadarusan pada upacara kapanca). Ngaji kapanca akan berakhir bersamaan dengan setibanya rombongan calon penganten putri di uma ruka. Setibanya di uma ruka, rombongan penganten disambut dengan tari wura bongi monca dan dimeriahkan dengan atraksi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.