Sebelum memasuki dataran tinggi Dieng, pengunjung akan meleewati Tuk Bima Lukar. Tuk Bima Lukar menurut bahasa Jawa adalah mata air. Sedangkan Bima Lukar berarti Bima sedang membuka pakaiannya. Hal ini mengingatkan sebuah cerita pewayangan pada masa Pandawa dan Kurawa ketika mereka masih remaja. Ketika guru mereka, pendeta Durna ingin mandi, ia minta kepada mereka untuk membuat sungai untuk mandi. Pandawa dan Kurawa bekerjasama membuat sungai itu untuk mandi. Tetapi rupanya Bima bekerja sendiri. Ia membuka pakaiannya (Lukar: bahasa Jawa) dan menggunakan kemaluannya untuk menggali sungai itu. Tuk Bima Lukar sebenarnya merupakan sebuah mata air, yaitu mata air Sungai Serayu. Sungai ini melewati daerah Banyumas dan disana telah menjadi sungai yang besar. Cerita mengenai Bima adalah merupakan sebuah cerita pewayangan dan digunakan oleh warga masyarakat untuk menamai mata air ini. Mata air ini sendiri merupakan peninggalan pada masa Hindu dan berkaitan dengan Kompleks Percandian...
Monumen Palagan AmbarawaTempat wisata sejarah di di Indonesia yang pertama terdapat di kawasan Ambarawa. Sebagai salah satu bagian dari tempat wisata di Ambarawa, keberadaan dari monumen ini memang memiliki arti tersendiri. Pendirian monumen ini merupakan upaya untuk mengenang salah satu pertempuran yang sangat penting pada masa perebutan kemerdekaan. Monumen ini sendiri dibangun untuk mengenang sejarah pertempuran di Ambarawa para tanggal 12 Desember – 15 Desember 1945. Dalam pertempuran tersebut TKR atau Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Jendral Soedirman berhasil menghancurkan tentara sekutu. Maka dari itu untuk mengenang pertempuran tersebut setiap tanggal 15 Desember selalu diperingati sebagai hari Infanteri. Monumen ini sendiri secara resmi dibangun pada 1973, dan di resmikan oleh Presiden Soeharto pada 15 Desember 1974. Jika kalian berkunjung ke lokasi ini maka kalian akan bisa melihat beberapa peninggalan peperangan pada saat itu. Ada beb...
Sumber : (https://upload.wikimedia.org) Deskripsi Di Dataran Tinggi Dieng terdapat banyak bangunan candi. Beberapa candi mengelompok, sementara yang lain berdiri sendiri atau belum ditemukan kelompoknya. Kelompok candi yang tersisa terdapat di tengah cekungan Dataran Tinggi Dieng, yang disebut dengan Kompleks Percandian Arjuna. Di kompleks ini terdapat beberapa candi yang berderet utara-selatan. Dari utaran, candi-candi tersebut adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar.[1] Berbeda dari candi yang lain, Candi Semar merupakan candi perwara, yang mendampingi Candi Arjuna. Seperti umumnya candi-candi di Dieng, penamaan candi diambil dari nama wayang yang bersumber dari cerita Baratayuda. Pemeliharaan dan Pemanfaatan Lingkungan sekitar candi tidak mendukung pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap penduduk untuk lahan pertanian tanaman kentang, sayur-mayur, dan bung...
Makna lagu Bapak Pucung ini yaitu : Memberikan ilustrasi yang harmonis diantara sesama manusia. Tidak ada batasan sosial bagi semua kalangan. Tidak ada batasan di kalangan elit politik, pengusaha, ataupun rakyat kecil, semua sama, semua sejajar di hadapan Tuhan. Menceritakan seorang pekerja yang berasal dari daerah yang berbeda dan bekerja sebagai seorang buruh untuk Bupati atau atasan. Pekerja hidupnya terpontang panting. Melakukan pekerjaan serabutan, mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh atasan. Hubungan antara pekerja dan pengusaha. Seorang pengusaha yang mempunyai posisi lebih tinggi dari pekerja diharapkan dapat berperilaku adil dan arif, tidak ada pilih kasih diantara pekerja lain, memberi contoh tauladan terhadap pekerja. Menggambarkan jika manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia yang lain. https://budayajawa.id/makna-lagu-bapak-pucung-jawa-tengah/
Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud. Cerita Rakyat adalah bagian dari kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki setiap bangsa. Jika digali dengan sungguh-sungguh, negeri kita sebenarnya berlimpah ruah Cerita rakyatyang menarik. Bahkan sudah banyak yang menulis ulang dengan cara mereka masing-masing. Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut. Perkembangan kisah dalam Tantu Panggelaran dapat dibagi menjadi beberapa Babak: Awal Keberadaan Pulau Jawa Pada mulanya pulau Jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, kar...
Asmarandana: Kitab Musarar inganggit Duk Sang Prabu Jayabaya Ing Kediri kedhatone Ratu agagah prakosaTan ana kang malanga Parang muka samya teluk Pan sami ajrih sedaya Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa. Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani. Milane sinungan sakti Bathara Wisnu punika Anitis ana ing keneIng Sang Prabu Jayabaya Nalikane mangkana Pan jumeneng Ratu AgungAbala para Narendra Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja. Wusnya mangkana winarni Lami-lami apeputra Jalu apekik putrane Apanta sampun diwasa Ingadekan raja Pagedhongan tanahipun Langkung arja kang nagara Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negaranya. Maksihe bapa anenggih Langkung suka ingkang rama Sang Prabu Jaya...
Sobokartti, Perkumpulan Seni Budaya dan Gedung Cagar Budaya Semarang. *Banyak disebut dengan Sobokarti, nama asli Gedung Sobokartti (2 huruf t). Minat dan perhatian Thomas Karsten pada kebudayaan dan kesenian lokal ( Jawa ) sudah diperhatikannya semenjak kedatangannya di Nusantara. Ia termasuk pendiri Java Institut dan tokoh de Oudheidkundige Commissic. Kedua organisasi tersebut bergerak di bidang kebudayaan dan kesenian Jawa. Berdasarkan pengkajiannya dan pemahamannya tentang kesenian rakyat setempat, ia mengajukan usulan rancangan teater untuk mempertunjukkan kesenian tersebut. Teater ini sebagaimana ditandaskan berbeda dengan teater Barat, sehingga rancangan gedungnyapun harus menunjukkan hal tersebut . Di dalam gedung ini dapat dipertunjukkan baik wayang orang maupun wayang kulit. Teater Sobokarti merupakan karya Karsten kedua yang bertampang Jawa, setelah sebuah pendopo di komplek Istana Mangkunegara, Surakarta (1923). Nyata sekali bahwa ia belajar banyak dari bentu...
Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong (Tionghoa: ä¸ä¿æ´) adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an". Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya memiliki arsitektur bangunan cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-...
Sejarah singkat Wonosobo berdasarkan cerita rakyat, pada sekitar abad XVII tersebutlah tiga orang pengelana yang masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis suatu pemukiman di Wonosobo Selanjutnya Kyai Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar Kota Wonosobo sekarang ini. Sejak saat itu daerah di daerah ini mulai berkembang, tiga orang tokoh tersebut dianggap sebagai "cikal bakal" dari masyarakat Wonosobo yang dikenal sekarang ini. Makin lama daerah ini semakin berkembang, sehingga semakin ramai. Dikemudian hari dikenal beberapa nama tokoh penguasa daerah Wonosobo yang pusat pemerintahannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduta di Pacekelan Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok atau Plobangan saat ini. Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa di Wonosobo. Cucu Kyai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singo...