Kain Gringsing berasal dari Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, salah satu desa Bali Aga. Kain gringsing boleh jadi satu-satunya kain tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat. Keseluruhan prosesnya ditenun dengan tangan dan menggunakan pewarna alami. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar 2-5 tahun. Sejarah dan asal mula kain gringsing tidak diketahui pasti. Dari bukti Prasasti Ujung, kain gringsing telah dikenal sejak abad ke-11 Masehi. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, adanya kain gringsing ini berawal dari Dewa Indra yang kagum akan keindahan langit di malam hari. Dewa Indra lalu mengajarkan para wanita Tenganan untuk menguasai teknik menenun kain gringsing yang melukiskan dan mengabadikan keindahan bintang, bulan, matahari, dan hamparan langit lainnya. Mitologi lainnya menyebutkan bahwa ketrampilan menenun gringsing diperoleh dari seorang nenek tua bernama Dadong Bungkut yang setiap hari menenun gringsing di bulan. Pengetahuan orang t...
Tarian manuk rawa pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer) , dan I Wayan Beratha (komposer). Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala karya tim sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980. Komposisi tari manuk rawa : Tarian yang dibawakan oleh sekelompok (antara 5 sampai 7 orang ) penari wanita ini merupakan tarian kreasis baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata. Dari Sejarah tari Manukrawa, Gerakan nya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan. Filosofi Seperti halnya tari Cendrwasih dan Tari Belibis dari Bali. Tarian Manukarawa terinspirasi dari burung Manukrawa sendiri.Manukrawa diambil dari kata...
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura , tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967). Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara . Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar . Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan co...
Bebeapa pendapat rmenyatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang berarti bekal. Ada juga pendapat lain yang menyatakan berasal dari kata ngabu yang berarti menjadi abu. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata Ngapen yakni penyucian dengan api. Dalam kepercayaan Hindu, dewa Brahwa atau dwa pencipta dikenal sebagai dewa api. Oleh karena itu, upacara ini juga bisa dianggap sebagai upaya untuk membakar kotoran yang berupa jasad kasar yang masih melekat pada roh dan mengembalikan roh pada Sang Pencipta. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi.Pada intinya upacara ini...
Mabuang atau tari abuang adalah tarian tradisional di karangasem bali, dilakukan saat upacara besar atau usaba puseh atau aci puseh di masing-masing desa. Tahun ini akan dilakukan pada tgl 1 Juli 2015 di desa pekarangan, ngis, manggis, karangasem
Tari Petik Teh umumnya dilaksanakan menjelang atau pada saat kegiatan memetik teh. Tarian ini menceritakan karakter pemetik teh yang cerita, suple semanagt dan tikda memliki beban. Dulu tarian ini kerap diperagakan di kebun teh, sambil memetik teh. Ritual tari ini bertujuan utnuk meminta keselamatan kepada Pencipta, agar diberikan kelancaran selama proses petik hingga distribusi teh kepada masyarakat.
Omed-omedan adalah upacara yang diadakan oleh pemuda-pemudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang diadakan setiap tahun. Omed-omedan diadakan setelah Hari Raya Nyepi, yakni pada hari ngembak geni untuk menyambut tahun baru saka. Omed-omedan berasal dari bahasa Bali yang artinya tarik-tarikan. Konon, tradisi Omed-omedan berasal dari warga Kerajaan Puri Oka yang terletak di Denpasar Selatan. Para warga dulunya berinisiatif membuat sebuah permainan tarik-menarik. Lama-kelamaan permainan ini semakin menarik, sehingga berubah menjadi saling rangkul. Tapi karena suasana jadi gaduh, Raja Puri Oka yang sedang sakit keras pun marah-marah, sebab terganggu dengan suara berisik tersebut. Namun, begitu Sang Raja keluar dan melihat permainan omed-omedan ini, dia malah sembuh dari penyakitnya. Sejak saat itu, Sang Raja pun memerintahkan warga agar omed-omedan diselenggarakan setiap tahun, setiap menyalakan api pertama atau Ngembak Gni selepas Hari Raya Nyepi. Omed-omedan, saling ke...
Bahan-bahan : 4 ekor kepiting 400 ml santan kental 2 batang serai digeprek 3 lembar daun salam Bumbu halus : 6 siung bawang merah 3 butir bawang putih 1 cm jahe 3-4 cm kunyit ½ sdt terasi 1 sdm garam ¼ sdt vetsin/1 sdm gula pasir 2 sdm air asam jawa 6 buah cabai merah Cara membuat : Kepiting dicuci bersih dan direbus sampai kepiting mati dan warna kemerahan kemudian potong jadi 2 bagian. Tumis bumbu halus sampai harum masukan serai, daun salam dan santan aduk-aduk. Terakhir masukan potongan kepitingan masak sampai kepiting matang dan mendidih siap untuk dihidangkan. Sumber: http://resep-khas-kalimantan.blogspot.com/2012/11/kalimantan-tengah-kari-kepiting.html
Permainan guak ngalih taluh diperkirakan muncul sekitar abad 16-19. Permainan ini merupakan jenis permainan untuk anak-anak di bawah usia antara 4-6 tahun. Sebelum masyarakat mengenalkan pendidikan formal kepada anak-anak, mereka terlebih dahulu mengenalkan pendidikan informal melalui sistem bermain. Minat belajar anak-anak mulai diarahkan dengan sarana permainan. Dengan sistem bermain ini, anak-anak mulai diperkenalkan dengan berhitung, ketrampilan serta ketekunan menghargai hak-hak orang lain. Dasar-dasar permainan dalam guak ngalih taluh cukup sederhana karena pemainan ini khusus untuk anak-anak yang belum memasuki bangku sekolah. Para pemain sudah diarahkan untuk berusaha mencari kemenangan. Dasar-dasar kompetitif mulai diperkenalkan. Tetapi dasar-dasar ini belum begitu kelihatan karena untuk menarik minat anak unsur hiburan yang lebih ditonjolkan. Selain itu anak-anak mulai ditananamkan rasa tanggung jawab, tenggang rasa dan toleransi sebagai sik...