Permainan gasing sudah merupakan kebudayaan masyarakat Aceh sejak kurang lebih 150 tahun yang lalu. Siapa yang pertama kali membawa permainan ke Aceh (catatan di Simelue) tidak ada referensi yang jelas. Biasanya Gasing terbuat dari tiga jenis kayu yang sering digunakan, sesuai dengan jenis permainan gasing itu sendiri, yaitu : Pohon Waru (awak balu), Pohon jambu Kelutuk (piawe), pohon jeruk nipis (alimao). Bahan tambahan lainnya adalah besi yang dit]runcingkan untuk bagian bawahnya. Cara memainkan Gasing Pada gasing putar, arena permainan berbentuk lingkaran. Lingkaran ini dibentuk oleh para penonton. Sedangkan para pemain berada pada lingkaran tersebut. Di tengah-tengah di buat lingkaran kurang lebih berdiameter 30 cm. Kemudian di tengah lingkaran kecil di buat satu titik biasanya titik itu ditandai oleh sobekan kecil daun kering. Apabila dari satu permainan seorang peserta melemparkan gasingnya persis pada sobekan kecil daun kering di tengah lingkaran kecil tersebut dengan mengel...
Satu-satunya alat yang dipergunakan untuk menampi beras adalah jeu'ee, yang dalam bahasa Indonesia disebut niru. Jeu'ee berbentuk hampir serupa dengan segitiga sama kaki yang tidak bersudut, yang pada pangkalnya lebih besar sedangkan pada bagian paling ujung lebih runcing. Sebuah jeu'ee mempunyai lebar pada bagian pangkal sekitar 50 cm. Pada bagian ujung sekitar 20 cm dengan panjangnya sekitar 60 cm. Terkait Jeu'ee dalam kehidupan masyarakat Aceh terdapat hal-hal yang bersifat magis. Ada suatu kepercayaan yang tumbuh, terutama pada masa pengobatan secara medis belum begitu berkembang, alat ini dipergunakan berhubungan dengan kesehatan. Niru sering dipergunakan untuk menangkal penyakit sapa bila seseorang menderita sakit seperti demam panas. Orang tersebut menurut keyakinan mereka telah disapa oleh setan-setan jahat. Untuk menyembuhkannya, setan tersebut harus diusir dan salah satu alat untuk mengusirnya dipergunakan niru. Oleh karena itu, dalam lingkungan masyaraka...
Cupak adalah alat takar/ukur tradisional masyarakat Aceh. Cupak terbuat dari tempurung kelapa. Biasanya cupak setara dengan 2 litre beras atau 3 kaleng susu.
Pakaian yang dikenakan di kepala, utamanya dikenakan oleh masyarakat Aceh muslim ketika beribadah. Juga biasa digunakan untuk acara adat dan sehari-hari.
Disebutkan keterampilan mengukir kayu awalnya dipelajari masyarakat aceh dari orang Arab. Motif jenis ini biasanya diukirkan pada rumah dan meunasah bagian kap (bara), dinding (binteh), balok miring bagian kap (indreng) dan tulak angen. Di mesjid, motif seperti ini biasanya dipakai menghiasi mimbar.
Surat dihiasi motif tetumbuhan khas yang juga banyak dijumpai di masyarakat Aceh. Misalnya ukiran kayu di mesjid dan rumah. Pengaruh Islam juga nampak melalui penyusunan bingkai menyerupai kubah yang menghiasi surat. Surat beraksara Jawi yang dominan warna keemasan ini ditujukan pada Raja Inggris James I pada 1615. Menggunakan bahasa Melayu, surat ini menyampaikan penolakan Sultan Aceh atas permohonan Inggris yang memintanya berdagang di Tiku dan Pariaman. Dan Sultan meminta Inggris melakukan aktivitas perdagangan dilakukan di Kesultanan Aceh. Sebagian besar surat tersebut berisi paparan tentang keluasan wilayah dan kejayaan kesultanan Aceh dibawah Sultan Iskandar Muda.
Manisan Pala ini berasal dari Tapak Tuan, Aceh Selatan. Hampir 50 persen perkebunan di daerah ini di isi dengan tanaman yang terkenal sejak berabad silam. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari buah Pala ini, diantaranya dapat mengatasi rasa mual, sakit maag, dan mengatasi penyakit pencernaan, karena buah pala mengandung minyak atsiri yang mampu mencerna bahan kimia beracun di dalam tubuh.Tak heran dengan kehebatan buah ini, banyak masyarakat Tapak Tuan Aceh, memanfaatkannya menjadi makanan dan cemilan. Sekarang kita ulas cara membuatnya yuk, Buah pala yang akan di jadikan manisan adalah buah pala yang sudah matang dengan cirri daging buah besar dan empuk. Belah buah pala dan pisahkan dari bijinya, lalu kupas kulitnya serta potong daging buah dengan pola memanjang. Buah Pala mengandung getah, untuk menghilangkan getahnya rendam buah pala selama tiga hari dan cuci hingga bersih untuk siap diolah menjadi manisan. Untuk menghilangkan pahitnya, Pala di rebus di air mendidih...
Es Timun adalah minuman khas Aceh. ‘Ie boh timon’ begitulah yang familiar kita dengar di masyarakat untuk menyebutkan minuman segar ini. Timun serut memang banyak dinikmati masyarakat di saat berbuka puasa. Rasanya yang manis dan menyegarkan memang betul-betul pas untuk menghilangkan dahaga selama menjalankan puasa. Sesuai dengan namanya, es timun serut ini berbahan dasar timun. Timun yang digunakan adalah timun sayur, setelah dikupas kulit tipisnya lalu diserut secara manual. Setelah itu, serutan timun pun kadang sering dicampur dengan sirup manis, dan es batu. Disajikan saat berbuka puasa atau saat terik merupakan pilihan yang sangat pas. Pemilihan timun sebagai bahan dasarnya didasarkan karena tidak memerlukan biaya banyak untuk menghidangkan minuman yang segar. Resep sederhana untuk es timun serut hanya butuh 3 buah timun, cuci dan kemudian serut memanjang. Campurkan dengan gula pasir sesuai selera atau pun dengan sirup pilihan. Jangan lupa tambahkan air ma...
Alat musik ini terbuat dari kayu. Rampai Geurimpheng ditampilkan oleh sepuluh hingga dua puluh pemain dalam posisi duduk bersila membentuk saf. Lantunan syair-syair bernuansa Islam dalam kesenian geurimpheng berpadu dengan iringan musik rapai. Tradisi menyanyikan pujian berfungsi untuk membimbing serta menanamkan rasa keagamaan yang menjadi pandangan hidup masyarakat. Melalui pertunjukan ini, pesa-pesan religius dapat disampaikan secara indah.