Di sebuah desa di pulau Tanimbar (Maluku), hiduplah seorang pria kaya bersama istri dan 2 orang anak yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda dan seorang gadis, mereka berdua sangat dimanjakan oleh ayah mereka sehingga mereka mempunyai sifat yang malas dan sombong. Mereka memiliki banyak pelayan yang siap melayani semua keinginan mereka. Ketika ayah mereka meninggal, semua pelayan pergi karena tidak tahan dengan perlakuan mereka. Sehingga sang ibulah yang menggantikan tugas-tugas para pelayan itu. Mulai dari mempersiapkan makanan, menyapu, mengepel, hingga menyetrika dikerjakan oleh ibunya dengan ikhlas. Namun, sungguh tidak terpuji. Kedua anak itu memperlakukan ibu mereka seperti pelayan. Jika ada yang salah mereka tak segan-segan membentak, seperti seorang majikan yang sedang marah kepada budaknya. Hati ibu yang malang sungguh sangat sakit, tetapi hanya bisa pasrah. Bagimanapun juga, mereka adalah putra-putrinya tercinta. Sekurang-ajar apapun perlakuan mereka, ibunya tetap...
Ada satu Desa di jazirah Baguala namanya Desa Poka, biasa orang bilang akakng Desa Poka-Rumah Tiga. Dolo di Desa ini tinggal satu keluarga yang sangat sederhana tapi dong hidup bahagia. Kepala keluarga nama Bapa Bram antua pung kerja sebagai petani dan biasa panggayo parau bawa orang dari Poka Rumah Tiga ke Galala pulang pergi, sedangkan antua pung bini nama mama Mina, mama Mina ini cantik, rajin deng ada karja par bantu-bantu Bapa Bram par tambah penghasilan keluarga yaitu dengan cara bakar sagu. Bapa Bram deng mama Mina pung satu orang anak paranmpuang yang paling cantik, saat itu anak itu berusia 16 tahun. Anak itu pung nama Martha, kulit itam manis, rambut pata mayang panjang taure sampe di bitis kaki. Suatu sore abis mama Mina bakar sagu, biasanya nona Martha bajalang jual par orang-orang disekitar Desa Poka, dia selalu pakai baju cele merah muda, konde boch yang cantik, sagu taruh di atas dulang. Martha keku di kepala lalu bajalang jual sagu. Nona Martha...
Ole sio, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Mana kala beta sakit Hati beta tra senang Duduk murung serta tangis aer mata tumpahlah bale muka kanan kiri Tak seorang jualah Siapa sempat tolong beta Beta ini asingla reff. Ole sio, Sayang lah di la..le apa tempo Balik lah kembali inga Ambon tanah tumpa da..rah Lagi i..bu, bapa dan sauda..ra Ambon negri yang kucinta Sungguh indah pantainya Akan dikau takkan lupa Slama ada napasku Beta ingin mau pulang Jika panjang u..murku Asal saja Tuhan sayang Bila ada sertaku Kembali ke reff.
Sarinande, putri Sarinande Mengapa tangis matamu bangka Aduh mama, aduh la papa La asap api masuk dimata Aduh mama, aduh la papa La asap api masuk dimata
B'rapa puluh tahun lalu Beta masih kacil'e Beta inga tempo itu, mama gendong, gendong betaeee... Sambil mama bakar sagu, mama manyanyi sio bujuk-bujuk La sampe basar bagini Beta seng lupa mama..eee... Sio mama e....beta rindu mau pulang'e Sio mama e....mama su lia...kurus lawang'e Beta balom balas mama... Mama pung cape sio dolo'e Sio Tete Manis'e, jaga beta pung mama.ee.
Tari Lenso menggambarkan tentang pergaulan antara muda dan mudi daerah setempat. Jumlah penarinya berkisar antara 6 sampai 10 orang. Tari Lenso juga terkenal sebagai ajang mencari pasangan bagi muda mudi Maluku. Biasa dipentaskan pada acara pernikahan, panen cengkeh, atau acara tahun baru. Sering pula Lenso dipentaskan jika hendak menyambut tamu penting. Kostum para penari Lenso biasanya menggunakan baju yang menyerupai kebaya sebagai atasan dan kain panjang untuk bawahannya. Agar penampilan makin manis, penari memakai hiasan berupa bunga mawar di sanggul mereka. Alat m usik pengiringnya antara lain adalah tambur minahasa, suling, kolintang (alat musik yang terbuat dari barisan gong kecil yang bersuara tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa), tetengkoren, dan momongan. Para penari juga tak lupa membawa sapu tangan berwarna merah dan putih yang melambangkan kasih dan sayang (bisa juga warna lainnya). (Sumber : http://www.indonesia.travel/id/destin...
Tari Cakalele sering pula disebut sebagai tarian kebesaran oleh masyarakat Maluku. Tari tersebut menggambarkan seni perang masyarakat setempat. Jumlah penari Cakalele mencapai tiga puluh orang. Terdiri dari pria dan wanita. Untuk para pria, kostum mereka secara dominan adalah merah dan kuning. Mereka akan memegang parang di tangan kanan dan tameng di tangan kiri. Sementara penari wanita akan mengenakan pakaian putih dengan sapu tangan di kedua tangan mereka. Alat musik yang mengiringi Cakalele terdiri dari tifa, drum, fluet, dan bia. Makna yang terkandung di tari Cakalele diantaranya adalah, merah menggambarkan keberanian dan perjuangan dalam menghadapi perang. Sedangkan parang dan tameng adalah alat untuk menjaga harga diri masyarakat Maluku hingga mati. Masyarakat juga percaya bahwa ketika mereka menarikan Cakalele, arwah leluhur akan merasuki mereka. Dan hal tersebut hanya akan dirasakan oleh masyarakat asli Maluku itu sendiri. (sumber : http://citizendaily.net/tari-...
Goro gorone epetoka toka dia Loko sana loko mari loko lengso lamanari Kata nyong minta nona sioh nona e balagu Dengar donci su babunyi sioh nona sandar bahu meski nona dudu jauh belum di panggil su manyau Laju laju la lekas datang kemari e Pura pura tidak mau belum ditanya sumanyau la itu nona punya suka sandiri la la la la la la la la la la la la ...
Ole sio, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Mana kala beta sakit Hati beta tra senang Duduk murung serta tangis aer mata tumpahlah bale muka kanan kiri Tak seorang jualah Siapa sempat tolong beta Beta ini asingla reff. Ole sio, Sayang lah di la..le apa tempo Balik lah kembali inga Ambon tanah tumpa da..rah Lagi i..bu, bapa dan sauda..ra Ambon negri yang kucinta Sungguh indah pantainya Akan dikau takkan lupa Slama ada napasku Beta ingin mau pulang Jika panjang u..murku Asal saja Tuhan sayang Bila ada sertaku Kembali ke reff.