Alat musik ini merupakan bagian dari kesenian Jaranan Sentherewe. Alat musik ini terbuat dari kayu dan tanduk. Jaranan Sentherewe merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal sejak abad ke-13 M. Secara visual kesenian ini terpahat pada relief candi Penataran di Blitar. Perangkat kesenian ini terdiri dari dua buah jaranan dan satu buah jejaplok yang diiringi satu buah kendang, dua buah serone dan satu buah kempul. Kesenian ini berkisah tentang keperkasaan pasukan berkuda milik Raja Klana Sewandana, pasukan ini bertempur melawan musuhnya yang diwujudkan dalam bentuk barong atau jejaplok. kesenian jaranan sentherewe dilaksanakan untuk mengumpulkan warga pada acara bersih desa. Dewasa ini kesenian jaranan sentherewe ditampilkan untuk hiburan pada upacara hari kemerdekaan RI.
Alat musik ini merupakan bagian dari kesenian Jaranan Sentherewe. Alat musik ini terbuat dari kayu. Jaranan Sentherewe merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal sejak abad ke-13 M. Secara visual kesenian ini terpahat pada relief candi Penataran di Blitar. Perangkat kesenian ini terdiri dari dua buah jaranan dan satu buah jejaplok yang diiringi satu buah kendang, dua buah serone dan satu buah kempul. Kesenian ini berkisah tentang keperkasaan pasukan berkuda milik Raja Klana Sewandana, pasukan ini bertempur melawan musuhnya yang diwujudkan dalam bentuk barong atau jejaplok. kesenian jaranan sentherewe dilaksanakan untuk mengumpulkan warga pada acara bersih desa. Dewasa ini kesenian jaranan sentherewe ditampilkan untuk hiburan pada upacara hari kemerdekaan RI.
Kempul merupakan bagian dari kesenian Jaranan Sentherewe. Alat musik ini terbuat dari kayu dan kuningan. Jaranan Sentherewe merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal sejak abad ke-13 M. Secara visual kesenian ini terpahat pada relief candi Penataran di Blitar. Perangkat kesenian ini terdiri dari dua buah jaranan dan satu buah jejaplok yang diiringi satu buah kendang, dua buah serone dan satu buah kempul. Kesenian ini berkisah tentang keperkasaan pasukan berkuda milik Raja Klana Sewandana, pasukan ini bertempur melawan musuhnya yang diwujudkan dalam bentuk barong atau jejaplok. kesenian jaranan sentherewe dilaksanakan untuk mengumpulkan warga pada acara bersih desa. Dewasa ini kesenian jaranan sentherewe ditampilkan untuk hiburan pada upacara hari kemerdekaan RI.
Gendang ini merupakan bagian dari kesenian Jaranan Sentherewe. Alat musik ini terbuat dari kayu, rotan dan kulit binatang. Jaranan Sentherewe merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal sejak abad ke-13 M. Secara visual kesenian ini terpahat pada relief candi Penataran di Blitar. Perangkat kesenian ini terdiri dari dua buah jaranan dan satu buah jejaplok yang diiringi satu buah kendang, dua buah serone dan satu buah kempul. Kesenian ini berkisah tentang keperkasaan pasukan berkuda milik Raja Klana Sewandana, pasukan ini bertempur melawan musuhnya yang diwujudkan dalam bentuk barong atau jejaplok. kesenian jaranan sentherewe dilaksanakan untuk mengumpulkan warga pada acara bersih desa. Dewasa ini kesenian jaranan sentherewe ditampilkan untuk hiburan pada upacara hari kemerdekaan RI.
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pag...
Candi Boyolangu merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara. Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Candi ini ditemukan kembali oleh masyarakat pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Bangunan pertama disebut dengan bangunan induk perwara, karena bangunan ini berukuran lebih besar dibanding dengan bangunan kedua dan bangunan lainnya. Letak bangunan ini di tengah bangunan lainnya. Candi Boyolangu berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulunaggung, Wilayah Provinsi Jawa Timur. Bangunan induk perwara terdiri dari dua teras berundak yang hanya tinggal bagian kakinya. Bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan panjang dan lebar 11,40 m dengan sisa ketinggian kurang lebih 2,30 m (dengan mengambil sisi selatan). Di dalam bangunan ini terdapat sebuah sempalan arca w...
Tombak Kyai Upas adalah pusaka Kabupaten Tulungagung. Sebagaimana ditulis dalam buku Sejarah Babad Tulungagung, menurut latar belakang budayanya atau cerita rakyat dari versi keluarga Raden Mas Pringgo Kusumo Bupati Tulungagung yang ke X. Konon, pada akhir pemerintahan Mojopahit banyak keluarga Raja yang membuang gelarnya sebagai bangsawan, dan melarikan diri ke Bali, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Salah seorang kerabat Raja bernama Wonoboyo melarikan diri ke Jawa Tengah dan babat hutan disekitar wilayah Mataram dekat Rawa Pening-Ambarawa. Setelah membabat hutan Wonoboyo bergelar Ki Wonoboya. Selanjutnya hutan yang dibabad itu dikemudian hari menjadi suatu pedukuhan yang sangat ramai. Dan sesuai dengan nama putranya, oleh Ki Wonoboyo dukuh itu dinamakan Dukuh Mangir. Pada suatu hari, Ki Wonoboyo mengadakan selamatan bersih desa. Banyak para muda-mudi yang datang membantu. Namun ada sal...
Istana Gabang atau dalam bahasa Jawa disebut dengan ndalem Gebang merupakan rumah tempat tinggal Orang tua Bung Karno. Rumah ini letaknya tidak jauh dari Makam Bung Karno kira-kira 2 km ke arah selatan, tepatnya di Jalan Sultan Agung No. 69 Kota Blitar. Rumah ini sebenarnya milik bapak Poegoeh Wardoyo suami dari Sukarmini, kakak kandung Bung Karno. Selain ditempati oleh kedua orang tua Bung Karno, ditempat ini pula Sang Proklamator pernah tinggal ketika masa-masa remajanya. Istana Gebang berdiri di atas lahan sekitar dua hektar. Keseluruhan bagiannya terdiri dari rumah utama, bagian ini terdiri dari ruang tamu yang cukup luas dengan perabot kursi model lama. Dan beberapa meja dan lemari kecil di sisi barat. Selain itu juga terdapat ruang keluarga yang juga cukup lapang dengan deretan kursi kayu berkombinasi anyaman rotan. Di sana juga terdapat kursi kayu santai lengkap dengan bangku kecil sebagi penopang kaki di bawahnya. Kursi ini biasa digunakan Soeka...
Cerita Rakyat Legenda Suku Tengger dan Gunung Bromo cerita ini menceritakan asal usul nama suku Tengger yang berada di kawasan Gunung Bromo Cerita bermula ketika di suatu dusun ada seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan. Anehnya ketika lahir, anak perempuan itu sama sekali tidak menangis. Lalu sang ibu memberi nama anaknya Roro Anteng. Roro Anteng tumbuh menjadi wanita yang dicintai dan dikagumi oleh banyak pria. Itu karena kecantikannya yang luar biasa. Suatu seorang perampok yang sakti mandraguna mendengar tentang kecantikan Roro Anteng. Perompak itu akhirnya datang dan melamar Roro Anteng. Awalnya roro Anteng hendak menolak lamaran tersebut. Tetapi karena takut terjadi apa-apa dengan dusunnya, ia menerima lamaran perompak tersebut dengan syarat. Syaratnya adalah perompak tersebut harus membangun sebuah danau dalam satu malam. Singkat kata, usaha tersebut digagalkan oleh roro Anteng. Perompak tersebut kemudian marah dan batok kelapa yang dipegangnya b...