Makotek/Makotekan/Ngerebeg merupakan upacara untuk memohon keselamatan dan tolak bala oleh warga Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Makotek digelar setiap enam bulan sekali pada hari raya Kuningan. Mulanya, upacara ini dikenal dengan istilah Ngerebeg. Kata ‘Ngerebeg’ berasal dari kata ‘Rebeg’ yang berarti tombak, melakukan penombakan terhadap seseorang. Prosesi ini menggambarkan perasaan senang dan gembira menyambut kemenangan raja Mengwi atas Kerajaan Blambangan, sebagai gambaram tentang keperkasaan, keperwiraan, kewibawaan bala tentara Kerajaan Mengwi. Sejarah Makotek Pada zaman kerajaan dahulu, Desa Adat Munggu di bawah kekuasaan Puri Mengwi, yaitu Ida Cokorda Mengwi sebagai rajanya, dan pembantu raja di dalam kepemerintahannya kebanyakan berasal dari Desa Munggu. Di bawah pemerintahan raja Mengwi, ternyata sangat bijaksana dan baik dengan rakyatnya. Begitu pula sebaliknya rakyatnya juga sangat berbakti terhadap rajanya yang m...
Perang pandan adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Tenganan , Kecamatan Karangasem , Bali . [1] Perang pandan juga disebut dengan istilah makere-kere. [1] Upacara perang pandan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing. [2] Peran pandan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk menghormati dewa Indra atau Dewa perang. [1] Perang pandan merupakan bagian dari ritual Sasihh Sembah. [1] Sasih sembah ialah ritual terbesar yang ada di Desa Tenganan. [1]
Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. Bentuk bentuk Upacara Ngaben 1. Ngaben Sawa Wedana Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kuru...
Bali punya tradisi makan yang unik. Megibung merupakan tradisi turun-temurun yang berlangsung sejak abad 17. Dalam tradisi Megibung, satu paket makanan dimakan bersama-sama oleh beberapa orang. Megibung berasal dari kata gibung yang mendapat awalan me- (melakukan suatu kegiatan). Gibung berarti kegiatan dilakukan banyak orang, dimana saling berbagi satu dengan lainnya. Saat berlangsung megibung, orang-orang akan duduk makan bersama sambil bertukar pikiran, berbagi cerita hingga bersenda gurau. Tradisi ini dilakukan masyarakat Karangasem yang terletak di ujung timur Bali. Megibung sudah menjadi tradisi masyarakat Karangasem dalam melakukan upacara keagamaan, adat ataupun kegiatan sehari-hari. Baik masyarakat beragama Hindu maupun Islam, ikut menjalankannya. Misalnya saat pernikahan, perayaan pura, acara tiga bulanan, ngaben hingga Maulid Nabi. Perbedaan terletak pada bahan untuk lauk pauknya. Megibung awalnya diperkenalkan Raja Karangasem, I Gusti Ag...
Rindik merupakan alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu yang bernada selendro. Alat musik ini dimainkan oleh 2 sampai 4 orang, 2 orang menabuh rindik sisanya meniup seruling. Alat musik ini digunakan untuk pementasan tarian jogged bumbung dan untuk acara pernikahan.
Bahan-bahan : 4 ekor kepiting 400 ml santan kental 2 batang serai digeprek 3 lembar daun salam Bumbu halus : 6 siung bawang merah 3 butir bawang putih 1 cm jahe 3-4 cm kunyit ½ sdt terasi 1 sdm garam ¼ sdt vetsin/1 sdm gula pasir 2 sdm air asam jawa 6 buah cabai merah Cara membuat : Kepiting dicuci bersih dan direbus sampai kepiting mati dan warna kemerahan kemudian potong jadi 2 bagian. Tumis bumbu halus sampai harum masukan serai, daun salam dan santan aduk-aduk. Terakhir masukan potongan kepitingan masak sampai kepiting matang dan mendidih siap untuk dihidangkan. Sumber: http://resep-khas-kalimantan.blogspot.com/2012/11/kalimantan-tengah-kari-kepiting.html
Permainan guak ngalih taluh diperkirakan muncul sekitar abad 16-19. Permainan ini merupakan jenis permainan untuk anak-anak di bawah usia antara 4-6 tahun. Sebelum masyarakat mengenalkan pendidikan formal kepada anak-anak, mereka terlebih dahulu mengenalkan pendidikan informal melalui sistem bermain. Minat belajar anak-anak mulai diarahkan dengan sarana permainan. Dengan sistem bermain ini, anak-anak mulai diperkenalkan dengan berhitung, ketrampilan serta ketekunan menghargai hak-hak orang lain. Dasar-dasar permainan dalam guak ngalih taluh cukup sederhana karena pemainan ini khusus untuk anak-anak yang belum memasuki bangku sekolah. Para pemain sudah diarahkan untuk berusaha mencari kemenangan. Dasar-dasar kompetitif mulai diperkenalkan. Tetapi dasar-dasar ini belum begitu kelihatan karena untuk menarik minat anak unsur hiburan yang lebih ditonjolkan. Selain itu anak-anak mulai ditananamkan rasa tanggung jawab, tenggang rasa dan toleransi sebagai sik...
Variasi Pembuatan Corak Tenun Ikat Sumba Timur pada Wilayah-Wilayah Sentra Produksi 1. Kambera, memiliki 18 corak, seperti Patuala Ratu (kain petola), Habaku (c icak terbang), Karihu (kupu-kupu purba), Andung (tugu tengkorak), Mahang (singa), Kurang (udang), Manu (ayam), Liakat (tangga turun-tangga naik), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Lodu (matahari), Wulang (bulan). 2. Kanatang, memiliki tiga corak, yaitu Ruha (rusa), Mahang (singa), Kaka (kakatua). 3. Rindi, memiliki 11 corak, seperti Andung (tugu tengkorak), Mahang (singa), Kurang (udang), Habaku (cicak terbang), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Karihu (kupu-kupu purba), Ularu/Mandu (ular), Kaka (kakatua), Ngganda (sejenis bunga), Tanga Wahil (tempat sirih) 4. Umalulu, memiliki delapan corak, seperti: Andung (tugu tengkorak), Patuala Ratu (kain petola), Habaku (cicak terbang), Wuya (buaya), Karawulang (penyu), Karihu (kupu-kupu), Kurang (udang), Ruha (rusa). 5. Kaliuda, memiliki tiga...
Ketika bayi bunda mengalami mencret atau diare, bunda harus dapat mengatasinya dengan segera. Mengapa segera ? Jangan menganggap enteng mencret yang menyerang pada bayi. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, bayi akan terus kekurangan cairan dan menyebabkannya dehidrasi. Ketika bayi mengalami mencret, keseimbangan air serta garam (elektrolit) pada dalam tubuhnya mengalami gangguan. Keadaan tersebut ini yang bisa memicu bayi mengalami dehidrasi. Ada beberapa penyebab mencret pada bayi yang antara lain adalah infeksi yang disebabkan oleh kuman, bakteri, atau virus kemudian masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, atau mungkin tangan yang kotor, kemudian bisa juga disebabkan oleh alergi pada makanan atau minuman, alergi obat-obatan tertentu, dan lain sebagainya. Apabila bayi bunda mengalami mencret, lakukanlah beberapa langkah ini untuk menanganinya : 1. Pastikan Asupan ASI mencukupi Ketika beberapa gejala mencret mulai dialami bayi, seperti BAB berulang kali, ke...