Atraksi seni yang menggunakan tetabuhan seperangkat kendang pencak silat dengan beberapa orang pendukungnya. Satu atau dua orang melakukan ibing pencak silat, juga terdapat delapan orang yang mengusung dua buah patung domba dari kayu yang bisa ditunggangi anak-anak dan dewasa. Kesenian ini lahir di Desa Panembong Kec. Bayongbong dan dipimpin oleh Bapak SAJIDIN.
Kawasan ini merupakan salah satu situs budaya yang sangat dijaga di Bali. Dibangun pada masa kerajaan Klungkung pada tahun 1686, tempat ini pada awalnya digunakan sebagai tempat diskusi tentang keadaan rakyat Bali. Penggagas pembangunan kawasan ini adalah Ida I Dewa Agung Jambe, pemegang kekuasaan di Bali kala itu. Di sini anda bisa melihat bangunan berarsitektur khas Bali yang sangat menggugah. Selain itu anda juga bisa menikmati lukisan-lukisan yang sangat indah. Hanya dengan uang Rp.12.000-, anda sudah bisa memasuki kawasan bersejarah ini. Jangan lupa, untuk menghormati tradisi setempat, anda harus menggunakan selendang atau sarung sebelum memasuki Kerta Gosa. Sumber : http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3RyYXZlbGluZ3l1ay5jb20vNS13aXNhdGEtYnVkYXlhLWRpLWJhbGkv
Masih berada di kawasan Kertha Gosa, anda akan menemui sebuah bangunan candi yang tertelak di tengah kolam bernama Bale Kambang. Bangunan ini terkenal akibat arsitekturnya yang mencengangkan. ukiran-ukiran yang ada di langit-langit Bale Kambang sering sekali membuat para turis, baik turis lokal dan mancanegara terkagum-kagum. Setiap baris dari lukisan yang ada di langit-langit Bale Kambang menceritakan kisah yang berbeda. Baris pertama menceritakan tentang peristiwa astrologi yang dipercaya oleh rakyat Bali. Baris kedua bercerita tentang kisah Pan dan Men Brayut yang memiliki 18 orang anak. Sementara baris paling atas menceritakan tentang kisah petualangan pahlawan Bali yang bernama Sutasona. Sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3RyYXZlbGluZ3l1ay5jb20vNS13aXNhdGEtYnVkYXlhLWRpLWJhbGkv
Museum Budaya Semaraja dulunya adalah gedung sekolah yang dipakai ketika masa penjajahan Belanda. Museum ini masih berada di kompleks yang sama dengan Kertha Gosa dan Taman Gili. Tidak hanya benda-benda yang merupakan produk budaya Bali, namun anda juga bisa menemukan benda-benda peninggalan prasejarah di ini. Benda-benda ini digunakan pada masa Perang Puputan Klungkung. Museum ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada 28 April 1992, bersamaan dengan peresmian Monumen Puputan Klungkung. Selain melihat benda-benda bersejarah yang ditata di 3 ruangan berbeda, anda juga bisa relaks di pelataran museum yang indah dan asri. Tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan jika anda sudah agak jenuh dengan pantai-pantai di Bali yang sangat ramai. Sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3RyYXZlbGluZ3l1ay5jb20vNS13aXNhdGEtYnVkYXlhLWRpLWJhbGkv
Tanah Lot adalah salah satu ikon wisata di Bali. Di bongkahan batu raksasa yang membentuk pulau mini ini terdapat dua buah pura. Satu pura berada di atas bongkahan batu sementara satu pura lagi ada di atas tebing. Pura ini bagian dari Pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura dimana umat Hindu di Bali melakukan pemujaan terhadap dewa-dewa penjaga laut. Objek Wisata yang luar biasa ini terletak di Beraban, Selemadeg Timur, Tabanan, sekitar 13 kilometer dari sebelah barat Kota Tabanan. Di sebelah utara Pura Tanah Lot, terdapat sebuah pura lain yang menjorok ke laut yang disebut sebagai Pura Karang Bolong. Anda bisa menikmati saat-saat terbaik di sini ketika matahari tenggelam ataupun terbit. Sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3RyYXZlbGluZ3l1ay5jb20vNS13aXNhdGEtYnVkYXlhLWRpLWJhbGkv
Tempat wisata ini adalah pilihan yang baik jika anda perlu untuk merelaksasi syaraf anda yang tegang. Terletak di dataran tinggi, tempat wisata ini secara menakjubkan memiliki Danau yang disebut Danau Beratan. Karena terletak di dataran tinggi, Bedugul memiliki suhu udara yang sejuk, sekitar 17 hingga 25 derajat celcius. Di sini, anda juga akan menemukan pura terkenal yang disebut dengan Pura Ulun Danu. Sumber : http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3RyYXZlbGluZ3l1ay5jb20vNS13aXNhdGEtYnVkYXlhLWRpLWJhbGkv
Subak adalah kata yang berasal dari bahasa Bali. Kata tersebut pertama kali muncul dalam prasasti Pandak Bandung yang berangka tahun 1072 M. Kata subak tersebut mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, mempunyai pengaturan tersendiri, asosiasi-asosiasi demokratis dari petani dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi. Subak bagi masayarakat Bali bukan hanya sekedar sistem irigasi, melainkan juga merupakan filosofi kehidupan bagi rakyat Bali itu sendiri. Dalam pandangan masyarakat Bali, Subak adalah cerminan langsung dari filosofi dalam agama Hindu Tri Hita Karana (tiga penyebab kebaikan), yang mempromosikan hubungan yang harmonis antara individu dengan alam semangat ( parahyangan), dunia manusia ( pawongan), dan alam ( palemahan). Sebagai suatu sistem pengaturan hidup bersama, Subak mampu bertahan selama satu abad lebih karena masyarakatnya setia kepada tradisi leluhur. Pembagian...
Bali punya tradisi makan yang unik. Megibung merupakan tradisi turun-temurun yang berlangsung sejak abad 17. Dalam tradisi Megibung, satu paket makanan dimakan bersama-sama oleh beberapa orang. Megibung berasal dari kata gibung yang mendapat awalan me- (melakukan suatu kegiatan). Gibung berarti kegiatan dilakukan banyak orang, dimana saling berbagi satu dengan lainnya. Saat berlangsung megibung, orang-orang akan duduk makan bersama sambil bertukar pikiran, berbagi cerita hingga bersenda gurau. Tradisi ini dilakukan masyarakat Karangasem yang terletak di ujung timur Bali. Megibung sudah menjadi tradisi masyarakat Karangasem dalam melakukan upacara keagamaan, adat ataupun kegiatan sehari-hari. Baik masyarakat beragama Hindu maupun Islam, ikut menjalankannya. Misalnya saat pernikahan, perayaan pura, acara tiga bulanan, ngaben hingga Maulid Nabi. Perbedaan terletak pada bahan untuk lauk pauknya. Megibung awalnya diperkenalkan Raja Karangasem, I Gusti Ag...
Komantan Korong, Kabupaten Situbondo Upacara adat Komantan Korong merupakan upacara temu pengantin khas masyarakat Kabupaten Situbondo. Dalam upacara ini, sebelum pengantin dipertemukan diawali dengan mamaca, yakni pembacaan doa-doa oleh seorang pemuka adat dengan membakar kemenyan. Maksud dan tujuan mamaca adalah agar dalam pelaksanaan upacara tidak terjadi hambatan, dan akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Setelah mantra dibaca, pemuka adat membakar kemenyan pada dua buah pilar terop, dan menaburkan beras kuning pada pihak keluarga perempuan, dengan tujuan agar pelaksanaan upacara pernikahan memperoleh perlindungan dari Allah SWT. Keesokan harinya dilangsungkan acara temu pengantin dengan diiringi musik ketepongan. Dalam upacara Komantan Korong ini terdapat acara Sambit Nyaut, yaitu kedua wakil dari masing-masing mempelai berbicara bersahut-sahutan, diselingi dengan pantun. Pertunjuk...