Sumber : Arsip Museum Provinsi Sumatera Utara Sebelum memasuki museum yang terletak di pusat kota Gunungsitoli ini, pengunjung harus membayar tiket masuk dengan tarif Rp 2.500 untuk orang dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Tarif ini sudah termasuk parkir kendaraan yang ada di dalam museum. Dibangun oleh Yayasan Pusaka Nias pada 1995, museum yang berdiri di atas tanah seluas dua hektar tersebut menyimpan 6.000 lebih benda-benda bersejarah suku Nias, mulai dari perhiasan, alat rumah tangga, alat musik tradisional, dan patung-patung. Ada pula replika rumah adat dan kerajinan tangan khas Nias seperti bola nafo (tepak sirih) dengan berbagai motif. Di sini disimpan pula bola nafo ukuran raksasa, 3 meter x 3 meter yang tercatat dalam Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai tepak sirih terbesar di Indonesia. Untuk mengetahui sejarah, makna, dan fungsi setiap benda yang dipamerkan, pengunjung dapat membaca tulisan yang terletak di sisi benda tersebut, tersedia...
Sumber : Arsip Museum Provinsi Sumatera Utara Museum daerah Kabupaten Langkat terletak di kota Tanjung Pura. Keberadaan Museum Daerah ini memanfaatkan gedung bekas Kerajaan Sultan Langkat yang didirikan pada tahun 1905. Museum Daerah Kabupaten Langkat ini terletak di Jl. T. Amir Hamzah dan tidak seberapa jauh dari Mesjid Azizi Tanjung Pura. Keberadaan museum ini dalam kiprahnya terus berusaha untuk melengkapi benda-benda khasanah peninggalan sejarah dan juga benda-benda budaya dari beberapa etnis yang ada di Kabupaten Langkat seperti Melayu, Karo dan Jawa. Dengan luas gedung sekitar 1500 m2, terhimpun menyimpan, merawat dan memperkenalkan aneka ragam benda/barang antara lain: benda/barang milik pribadi T. Amir Hamzah, khasanah berbagai peralatan rumah tangga, alat musik, busana, alat permainan tradisonal dan lain-lain, peralatan buda dan miniatur rumah daerah Jawa, Budaya Karo dan juga miniatur rumah adat Karo, peralatan perjuangan pada masa sebelum keme...
Tari Tandok Tari Tandok adalah tarian dari Sumatera Utara yang erat kaitannya dengan budaya tanam masyarakat Batak. Tarian ini mengisahkan tentang kegiatan panen beras memakai tandok yang dikerjakan para ibu di ladang. Tarian Sumatera Utara ini juga memiliki arti akan nilai kekeluargaan antar sesama masyarakat. Tarian ini biasanya dilakukan para wanita yang memakai pakaian tradisional Batak dengan dominasi warna hitam dan merah. Sementara properti yang dipakai adalah tandok, ulos dan juga kain sarung yang biasanya dilakukan empat orang penari akan tetapi juga bisa dilakukan lebih dari empat orang asalkan jumlahnya gena Sementara untuk musik yang digunakan adalah musik Gondang yakni alat musik ansambel yang memiliki tangga nada beragam. Jika pada gamelan Bali dan Jawa variasi musik dihasilkan dari kehandalan pemain Salendro, dalam Gondang akan tergantung dari pemain Sarune dan Taganing. https://budayalokal.id/tarian-sumatera-utara/
Tari Rondang Bulan Tari rondang bulan merupakan tari daerah Sumatera Utara yakni Tapanuli Selatan. Tari ini mengisahkan tentang kegembiraan gadis Mandailing yang akan terlihat dari ekspresi para penari. Tari rondang bulan memang umumnya akan dibawakan dengan riang di bawah sinar bulan purnama dimana rondang bulan dalam bahasa Tapanuli Selatan memang memiliki arti terang bulan. Tarian Sumatera Utara ini menampilkan gerakan yang lincah dan riang dengan ekspresi penuh senyum dari para penari ketika di atas panggung. Para penari nantinya akan berlenggak lenggok sambil sesekali juga membentuk lingkaran sekaligus menjentikan jari mereka dan sesekali bertepuk tangan. https://budayalokal.id/tarian-sumatera-utara/
Tari Maena Tari maena menjadi tarian khas Sumatera Utara selanjutnya yakni tarian rakyat yang akan diperagakan secara massal atau bersama sama. Dari sejarah, tari maena ini menjadi tari tradisional masyarakat suku Nias yang sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun hingga sekarang. Tarian Sumatera Utara ini sejak dulu sering dijadikan seremonial adat masyarakat suku Nias sekaligus juga sebagai tarian hiburan. Untuk masyarakat Nias, tari ini memiliki makna khusus seperti kebersamaan dan persatuan. Ini bisa terlihat dari cara para penari melakukan gerakan dengan rasa suka cita. Semakin banyak orang yang ikut menari, maka suasana juga semakin semarak sekaligus hangat. https://budaya-indonesia.org/q/
Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya. Memiliki Tiga bangunan kuno yaitu Biaro Bahal I, II dan III. Saling berhubungan dan terdiri dalam satu garis yang lurus. Biaro Bahal I yang terbesar. Kakinya berhiasan papan-papan sekelilingnya yang berukiran tokoh yaksa yang berkepala hewan, yang sedang menari-nari. Rupa-rupanya para penari itu memakai topeng hewani seperti pada upacara di Tibet. Di antara semua papan berhiasan itu ada ukiran singa yang duduk Di Bahal II pernah ditemukan sebuah Arca Heruka...
Odap Odap adalah gendang dua sisi berbentuk konis. Odap juga terbuat dari bahan kayu nangka dan kulit lembu serta tali pengencang/pengikat terbuat dari rotan. Ukuran tingginya lebih kurang 34 –37 cm, diameter membran sisi satu 26 cm, dan diametermembran sisi 2 lebih kurang 12 –14 cm. Cara memainkannya adalah, bagian gendang dijepit dengan kaki, lalu dipukul dengan alat pemukul, sehingga bunyinya menghasilkan suara dap…, dap…, dap…, dan seterusnya. Alat musik ini juga dipakai dalam ensambel Gondang Sabangunan. https://www.silontong.com/2018/05/06/alat-musik-tradisional-batak-toba/
Rumah Adat Nias Rumah adat Nias dinamai Omo Hada, bentuk rumah adat ini adalah panggung tradisional orang Nias. Selain itu, juga terdapat rumah adat Nias dengan desain yang berbeda, yaitu Omo Sebua. Omo Sebua ini merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (Tuhenori), kepala desa (Salawa), atau kaum bangsawan. Rumah adat ini dibangun diatas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, serta beralaskan Rumbia. Bentuk denahnya ada yang bulat telu, ini di daerah Nias Utara, Timur, dan Barat. Sedangkan ada pula yang persegi panjang yaitu didaerah Nias Tengah dan Selatan. Bangunan rumah adat ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah. Dan sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, sehingga tahan goyangan gempa. https://www.silontong.com/2018/03/06/rumah-adat-suku-sumatera-utara/
Karih adalah sebutan Minang untuk senjata keris namun dengan ciri khas tersendiri. Senjata Sumatera Utara ini memiliki jumlah lekukan atau luk sedikit, sudut luk yang lebar dan hulu dilengkapi dengan ukiran melengkung ke bawah. Dulunya, senjata ini digunakan para bangsawan dan juga penghulu kerajaan. Namun untuk sekarang, karih hanya dijadikan pelengkap pada pakaian adat pengantin pria minang. Sumber : https://budayalokal.id/senjata-tradisional/