Serat Pararaton merupakan sebuah historiografi tradisi yang menjadi rujukan utama para sejarawan dalam mempelajari sejarah Singasari dan Majapahit. Posisi serat ini pun mampu menandingi kitab Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban Singasari dan Majapahit. Padahal kitab Nagarakretagama dan prasasti-prasasti ini lebih jelas asal-usulnya daripada Serat Pararaton itu sendiri. Seperti yang telah diketahui, historiografi tradisi adalah historiografi di mana bercampurnya antara fakta sejarah dengan mitos-mitos yang ada. Dengan bercampurnya antara fakta dan mitos ini tidak serta merta membuat historiografi tradisi diragukan kebenarannya. Sejarawan sendiri lebih banyak mengambil dari Serat Pararaton ketika membicarakan tentang sejarah Singasari dan Majapahit. Dan apa yang mereka dapat dari serat itu mereka bandingkan dengan Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang telah ditemukan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Serat Pararaton adalah inti cerita...
Hawya pegat n gudiya ronging budyayu Margane suk a basuki Dimen luwar kang kinayun Kalising panggawe sisip ngkang taberi prihatos Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin. Ulatna kang nganti bisane kepangguh Galedehan kan g sayekti Talitinen awya kleru Larasen sajroning ati Tumanggap dimen tumanggon Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan di dalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu. Pamanggone aneng pangesthi rahayu Angayomi ing tyas wening Eninging ati kang suwung Nanging sejatining isi Isine cipta sayektos Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong, namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati. Lakonana klawan sabaraning kalbu Lamun obah niniwasi Kas...
Ajaran Luhur dalam Serat Salokatama Naskah Serat Salokatama dikarang oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangku Nagara IV pada 1799 Jawa atau 1870 M. Serat Salokatama dikarang dalam bentuk tembang mijil, seluruhnya ada 31 "pada" (bait), sudah pernah diterbitkan oleh Nurhipkolep, Jakarta, 1953, dengan huruf Jawa. Saloka berarti perumpamaan atau cerita, sedang tama berarti utama atau baik. Salokatama berarti perumpamaan atau cerita yang utama atau yang baik. Ini terungkap pada bait terakhir dari tembang tersebut yang berbunyi: Itij panawunging ruwiyadi (telah selesai uraian cerita yang baik). Ada pun intisari isi Serat Salokatama selengkapnya berikut ini. Yang dilihat oleh pengarang adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengganggu pikirannya. Umumnya orang yang punya kemauan sering tidak mawas diri, berbuat tak terkendali dan akhirnya mendapatkan "nistha". Orang muda suka menonjolkan dirinya agar orang lain takut dan menghargai. Mereka tidak tahu bahwa perb...
Motif batik tujuh rupa dari Pekalongan ini sangat kental dengan nuansa alam. Pada umumnya, batik Pekalongan menampilkan bentuk motif bergambar hewan atau tumbuhan. Motif-motif tersebut diambil dari berbagai campuran kebudayaan lokal dan etnis cina. Pasalnya, dulu Pekalongan adalah tempat transit para pedagang dari berbagai negara. Sehingga, akulturasi budaya itulah yang membuat batik Pekalongan sangat khas dengan alam, khususnya motif jlamprang, motif buketan, motif terang bulan, motif semen, motif pisan bali dan motif lung-lungan. Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/02/10-motif-batik-populer-dari-berbagai-daerah
Motif batik Sogan sudah ada sejak zaman nenek moyang orang Jawa beberapa abad lalu. Batik ini, didominasi oleh warna cokelat muda dan memiliko motif yang khas seperti, bunga dengan aksen titik-titk atau lengkungan garis. Dulunya, batik ini dipakai raja-raja di Jawa khususnya keraton kesultanan Solo. Namun, sekarang dapat dipakai oleh siapa saja, baik warga keraton maupun orang biasa. Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/02/10-motif-batik-populer-dari-berbagai-daerah
Parang berasal dari kata pereng atau miring. Bentuk motifnya berbentuk seperti huruf “S” miring berombak memanjang.Motif Parang ini tersebar di seluruh Jawa, mulai dari Jawa Tegah, Jogjakarta dan Jawa Barat. Biasanya, perbedaannya hanya terletak pada aksen dari batik Motif parang tersebut. Misalkan, di Jogja ada motif Parang Rusak dan Parang Barong, di Jawa Tengah ada Parang Slobog, serta di Jawa Barat ada Parang Klisik. Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/02/10-motif-batik-populer-dari-berbagai-daerah
Motif batik Pring Sedapur memiliki ciri khas yang simpel namun elegan. Motif yang dipakai adalah motif bambu, sehingga sering juga disebut sebagai batik Pring. Batik ini tidak hanya indah dalam kesederhanaan motifnya, tetapi memiliki filosofi yang sederhana pula. Dimana bambu memberikan makna ketentraman, keteduhan dan kerukunan. Selain itu, bambu/pring juga mempunyai filosofi mendalam bagi orang Jawa, yakni apa saja dalam diri kita haruslah memberikan manfaat bagi orang lain, sejak lahir sampai mati. Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/02/10-motif-batik-populer-dari-berbagai-daerah
Satu lagi tari kreasi yang ada di Tegal, khususnya Kabupaten Tegal, yaitu tari Guci.Tari Guci mengangkat ciri khas Kabupaten Tegal dengan daerah wisata andalannya, yaitu Obyek Wisata Guci. Guci sendiri adalah salah satu daerah wisata kebanggaan Kabupaten Tegal yang terletak di kaki Gunung Slamet. Tarian ini terinspirasi dari keindahan alam, kesejukan udara pegunungan dan kehangatan air pancuran Guci. Tari Guci menggambarkan kelembutan gadis-gadis cantik, bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan. Dengan “ngindit” guci sebagai tempat mengambil air suci, mereka berdoa untuk keselamatan dan kelanggengan alam serta sumber mata air Guci arag tetao terjaga manfaat dan khasiatnya sebagai air kesehatan bagi kebersihan dan kehalusan kulit. Adalah ibu Kusti Muftiah S.Pd, seorang kepala SD Sumbaga 01, Bumijawa yang pertama kali mengagas tarian ini. Tarian ini juga mulai diperkenalkan secara luas bulan Juni tahun 2014 kemarin. “Tari Guci ini menggambarkan a...
Sesepuh desa membawa kendi air yang diambil dari sumber mata air Parwita saat prosesi tradisi Bajong Banyu di Dusun Dawung, Banjarnegoro, Magelang, Jateng. Bajong Banyu atau saling lempar air dilakukan warga setempat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Sumber: https://www.wego.co.id/berita/tradisi-di-indonesia-menyambut-bulan-ramadan/