7.617 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Candi Sojiwan #DaftarSB19
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Candi Sojiwan yang merupakan candi yang dibangun oleh raja penganut agama Budha pada abad ke-IX dan berada di area seluas 401,312 m2. bagian atap candi sudah runtuh, sedangkan bagian dinding kaki candi dihiasi relief cerita Jetaka yang diambil dari kisah Kamandoko yang menceritakan tentang binatang yang mengandung nilai-nilai filsafat. Candi induk menghadap ke arah barat. Candi ini terletak kurang lebih dua kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, dari gerbang Taman Wisata Candi Prambanan meyeberang jalan raya Solo-Yogyakarta masuk ke jalan kecil menuju ke arah selatan, menyeberang rel kereta api, lalu pada perempatan pertama berbelok ke kiri (timur) sejauh beberapa ratus meter hingga candi terlihat di sisi selatan. Candi ini telah rampung dipugar pada tahun 2011. Menurut beberapa prasasti yang sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Candi Sojiwan kurang lebih dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi, kurang lebih pada kurun yang sama dengan Ca...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Candi Merak
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Candi Merak yang merupakan bangunan candi berlatar belakang agama Hindu yang didirikan pada abad IX – X Masehi oleh keluarga Kerajaan Mataram Kuna yang beragama Hindu. Di komplek candi terdapat arca-arca Hindu seperti Ganeca, Durga Mahisasuramardhini dan Yqni.   Sumber: http://lugtyastyono.blogspot.co.id/2010/10/wisata-peninggalan-sejarah-kab-klaten.html

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
Condroso
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Pada zaman dahulu, wanita-wanita didaerah jawa sangat dikenal sebagai wanita yang mandiri, dan mampu menjaga dirinya dengan baik. Di masa lalu, wanita-wanita jawa ini sering membawa senjata condroso ini digunakan untuk melindungi diri dari hal-hal kejahatan yang tidak di inginkan. Namun senjata yang dibawa bukanlah senjata yang berbentuk seperti senjata-senjata pada umumnya, senjata yang dibawa oleh wanit-wanita jawa pada zaman dahulu ini adalah condroso, yang mana condroso ini bentuknya hampir sama dengan tusuk konde. Condroso adalah senjata kecil mirip hiasan pada rambut. Condroso masuk dalam kelompok senjata tikam yang digunakan apabila musuh telah lengah. Pada zaman dahulu, condroso banyak dipakai oleh wanita yang bertugas sebagai mata-mata. Condroso dipakai sebagai hiasan sanggul sehingga tidak diketahui musuh.apabila musuh tengah lengah, condroso digunakan untuk membunuh.   Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2015/03/senjata-tradisional-daer...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Asrah Batin
Ritual Ritual
Jawa Tengah

Tradisi asrah batin kembali digelar warga dua desa di Kecamatan Kedungjati. Yakni, warga Desa Ngombak dan Karanglangu.   Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu dilangsungkan setiap dua tahun sekali. Biasanya, tradisi ini dilangsungkan pada hari Minggu Kliwon di Bulan September. Namun, untuk tahun ini pelaksanaannya dimundurkan karena September masih bersamaan dengan Bulan Muharam.   Setiap digelar, tradisi ini selalu dipadati ribuan orang. Selain warga dari dua desa, banyak orang dari luar daerah yang antusias menyaksikan jalannya tradisi ini.   Tradisi ini dilakukan dengan adanya kunjungan Kepala Desa Karanglangu bersama ratusan warganya menuju Desa Ngombak. Kunjungan dilakukan dengan menyeberangi Sungai Tuntang yang memisahkan kedua desa tersebut.   Kades Karanglangu Agus Slamet beserta istri menaiki rakit beralas karpet yang dihias dengan janur, dan bendera merah putih. Meski arus sungai saat itu cukup deras prosesi penyeb...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Janggrungan / Tayuban
Ritual Ritual
Jawa Tengah

Tradisi Janggrungan / Tayuban sudah diadakan turun temurun para leluhur desa, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. acara syukuran bersih dusun dan syukuran setelah masa panen padi. Dan biasanya bertempat di dek at punden / makam / tempat yang dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya desa. Para penari janggrungan/tayub di sebut ledek. Bagi panjenengan yang ketiban sampur, wajib ikut menari bersama. Dan biasanya mereka yg ketiban sampur akan memberikan saweran yang diselipkan di kembennya ledek/penari.   Video Janggrungan: https://www.youtube.com/watch?v=14Az2ck7G4Q   Sumber: https://www.facebook.com/lawu.karanganyar/photos/a.383805414968578.112177.382951175054002/1151701114845667/?type=1&theater   Sumber: https://www.facebook.com/lawu.karanganyar/photos/a.383805414968578.112177.382951175054002/1151701114845667/?type=1&theater

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
4_Keris Solo
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Dalam dunia perkerisan, dikenal istilah pamor daden. Pamor daden adalah pamor atau “cahaya” yang terbentuk secara spontan, tanpa rekayasa sang empu pembuat keris. Menurut percobaan yang dilakukan, keris biasanya memiliki kandungan radioaktivitas yang tinggi, oleh karenanya perlu ada cara untuk menetralkannya. Salah satu cara menetralkan bahaya radiasi itu dengan menyarungkan bilah keris ke dalam rangka kayu tertentu. Kayu-kayu yang biasa digunakan adalah kayu Timoho, Trembalu, Cendana, Awar-awar, Galih asem, Liwung, atau gading gajah. Selain itu, ada pula istilah pamor rekan atau pamor buatan. Pamor rekan adalah jika sejak awal pembuatan keris, sang empu keris menginginkan “cahaya” tertentu dari kerisnya. Ciri khas keris Solo, biasanya memiliki aksesoris banyak yang bertahtakan emas berlian serta berangka kayu cendana wangi. Dalam budaya Jawa tradisional keris tidak hanya dianggap sebagai senjata tradisional yang memiliki keunikan bentuk dan pamor...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
4_Kudhi
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Kudhi bagi masyarakat Banyumas adalah salah satu perkakas yang serba guna, selain juga sebagai senjata tajam yang digunakan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Dan sebagai sub budaya masyarakat Jawa, masyarakat Banyumas (dan seperti kebanyakan masyarakat Jawa) didalam kesehariannya selalu menggunakan simbol-simbol atau lambang. Simbol atau lambang tersebut bisa berbentuk benda, tulisan, ucapan maupun upacara dan kesenian, salah satunya Kudhi. Kudhi yang dianggap memiliki daya linuwih ini hanya dipakai sebagai senjata jimat. Sebab kudhi semacam ini jarang dan sangat sulit didapat. Masyarakat Banyumas sering menyebutnya dengan Kudhi Trancang. Ada beberapa macam kudhi yang ada di Banyumas yaitu Kudhi Biasa atau yang sering dipakai untuk segala keperluan. Kudhi ini memiliki ukuran panjang 40 cm dan lebar 12 cm. Kemudian Kudhi Melem, kudhi yan pada bagian ujungnya seolah-olah berbentuk ikan melem. Ukurannya lebih kecil kira-kira 30 cm panjangnya dan lebar 10 cm. Kudhi...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Kisah Kamandoko
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Legenda Raden Kamandaka atau dikenal sebagai Lutung Kasarung diceritakan dalam beberapa versi. Cerita dibawah ini merupakan versi cerita rakyat Lutung Kasarung dari Kebumen Jawa Tengah yang divisualisasikan di Obyek Wisata Goa Jatijajar. Kisah ini bermula pada zaman dahulu Raja Kerajaan Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi memiliki 3 orang putra dan 1 orang putri dari dua permaisuri. Pangeran Banyak Cotro dan Pangeran Banyak Ngampar adalah putra prabu Siliwangi dari permaisuri yang pertama. Kemudian ketika permaisurinya meninggal, prabu Siliwangi menikah lagi dengan putri Kumudaningsih yang melahirkan pangeran Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.   Suatu hari prabu Siliwangi memanggil pangeran Banyak Cotro dan Banyak Ngampar untuk menghadap. “Anakku, aku merasa sudah saatnya aku menyerahkan tampuk kerajaan ini kepada penerusku. Karena kalian berdua adalah anakku yang paling tua, maka aku akan menyerahkannya pada salah satu dari kalian,” ujar prabu Siliwangi. “...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
5_Legenda Desa Logandu
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Asal mula desa kami berupa Pedukuhan namanya Pesawahan.Yang membuka wilayah adalah seorang prajurit Mataram pengikut dari Pangeran Diponegoro yang menyingkir karena pimpinanya tertangkap oleh Belanda, yang bernama Ki Sarahita. Kemudian disusul oleh Ki Suradiwangsa putra Ki Somadiwangsa dan cucu Mbah Untung Surapati ( Mbah Kepadangan ) karena waktu itu masih berupa hutan belantara. Keberadaan Pedukuhan Pesawahan akhirnya diketahui oleh Bupati Kebumen saat itu yaitu Arum Binang IV. Berdasarkan kesepakatan dengan ndara Siten di Pagebangan mengangkat Ki Ketadikrama sebagai Kepala Desa I di Pedukuhan Pesawahan. pada tahun 1847 yang kemudian dijadi tahun berdirinya desa kami. Wilayahnya diperlebar yakni dari Dukuh  .Karanganyar dan Jombor yang asalnya ikut desa Kebakalan sampai Kali Sadang.Karena daerahnya banyak ( dalam istilah jawa LOH ) batunya (dalam bahasa lokal namanya GANDU ) kemudian dijadikan nama desa kami LOGANDU.Ki Ketadikrama memerintah di Logandu dari tahun 1847 &n...

avatar
Sobat Budaya