Ukiran jepara merupakan seni ukir khas yang berasal dari Jepara. Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir, kini berubah menjadi Kota Ukir Dunia. Setelah meningkatkan citra Jepara "The World Carving Center" , karena produk-produk ukir Jepara sudah sangat terkenal dan sangat banyak penyuka seni ukiran Jepara dari berbagai negara. AS Merupakan Negara Tujuan Ekspor Terbesar Jepara. Negara tujuan ekspor mebel Ukiran Jepara tahun 2015 juga mengalami kenaikan menjadi 113negara dengan jumlah eksportir sebanyak 296 pengekspor, sedangkan tahun 2014 nilai ekspornya hanya 114,78 juta dolar AS dengan 223 pengekspor untuk negara tujuan 106 negara. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Relief_Ukir_Jepara.jpg https://id.wikipedia.org/wiki/Ukiran_Jepara Â
Hi Kawula Budaya, sebagai Warga Negara Indonesia pastilah kita bangga dengan keanekaragaman budaya negara kita. Budaya bisa kita lihat dari berbagai hal, salah satunya adalah kuliner. Kesempatan kali ini, kita akan sekilas membahas tentang kuliner khas di Jawa Tengah yaitu Dawet Ayu Banjarnegara. Dawet ayu Banjarnegara adalah minuman khas dari Kabupaten Banjarnegara yang memiliki rasa lezat dan segar serta cocok diminum saat musim kemarau maupun saat bersantai bersama keluarga. Dawet Ayu Banjarnegara terbuat dari tepung beras, daun pandan atau daun suji sebagai pewarna hijau alami, gula aren dan santan. Bagi kawula budaya yang akan melewati kota Banjarnegara, akan dengan mudah menemukan minuman khas tersebut di sekitar alun-alun kota maupun pinggiran jalan utama wonosobo-purwokerto atau sebaliknya. Berikut informasi cara pembuatan Dawet Ayu Banjarnegara ; Bahan :
Upacara adat Jawa sering disebut “selametan”. Upacara ini dilakukan secara turun temurun sebagai peringatan doa. Upacara ini dilakukan untuk mendoakan para leluhur agar diberinya ketentraman. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Dalam pernikahan adat Jawa ada yang dikenal juga upacara perkawinan yang sangat unik dan sakral. Banyak tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat Jawa yang satu ini, mulai dari siraman, siraman, upacara ngerik, midodareni, srah-srahan atau peningsetan, nyantri, upacara panggih atau temu penganten, balangan suruh, ritual wiji dadi, ritual kacar kucur atau tampa kaya, ritual dhahar klimah atau dhahar kembul, upacara sungkeman dan lain sebagainya. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Upacara larung sesaji adalah upacara yang digelar orang Jawa yang hidup di pesisir pantai utara dan Selatan Jawa. Upacara ini digelar sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan selama mereka melaut dan sebagai permohonan agar mereka selalu diberi keselamatan ketika dalam usaha. Berbagai bahan pangan dan hewan yang telah disembelih akan dilarung atau dihanyutkan ke laut setiap tanggal 1 Muharam dalam upacara adat Jawa yang satu ini. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Ritual Unjungan dilakukan oleh masyarakat Purbalingga dan Banjarnegara. Konon asal muasal dilaksanakannya tradisi berawal dari para petani yang berebut air untuk mengairi sawahnya saat musim kemarau. Perebutan ini membuat para petani cekcok hingga saling memukul dan melukai satu sama lain. Sama dengan ritual Ojung, tradisi ini juga menggabungkan antara seni musik, tari, dan bela diri. Dalam acara ini, laki-laki juga saling memukul dengan sebilah rotan. Bagian yang boleh dipukul hanya bagian kaki ke bawah. Sumber: https://www.boombastis.com/ritual-mendatangkan-hujan/59364
Mitoni adalah upacara mempersiapkan kelahiran bayi saat usia kehamilan 7 bulan. Upacara adat Jawa ini lekat dengan budaya Islam. Jika diselenggarakan dengan adat Jawa utuh, prosesi mitoni membutuhkan seharian penuh dan biaya yang relatif besar. Upacara ini mirip-mirip dengan pernikahan Jawa, ada sungkeman dan siraman. Keluarga yang menggelar upacara ini juga harus mengundang tetangga dan kenalan untuk ikut mendoakan si jabang bayi. Sumber: https://www.moneysmart.id/5-tradisi-yang-masih-berlaku-di-indonesia-meski-butuh-banyak-biaya/
Tari Jurit Ampil Kridha Warastra adalah tarian yang berasal dari Kota Salatiga. Tarian tersebut menggambarkan tentang pasukan garwa ampil (selir) dari Mangkunegara I atau Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyawa) dalam Perjanjian Salatiga. Tarian ini merupakan tarian lepas, artinya dapat ditampilkan secara beregu, berpasangan, dan tunggal. Unsur klasik tarian tersebut terdapat dalam gerakan, iringan lagu, busana, dan tata riasnya, tetapi saat ini telah dipadukan dengan unsur-unsur baru yang mengikuti perkembangan zaman. Arti tarian Tari Jurit Ampil Kridha Warastra memiliki arti, yaitu jurit yang berarti "prajurit", garwa ampil yang berarti "selir" – dari Mangkunegara I, dan warastra yang berarti "gendewa". Tarian ini menggambarkan tentang pasukan garwa ampil (selir) dari Mangkunegara I dalam Perjanjian Salatiga yang dilaksanakan tanggal 17 Maret 1757. Dalam perjanjian tersebut masing‑masing pihak (Hamengkubuwana I, Pakubuwana III, dan Mangkun...
Tari Luyung ini adalah tarian kreasi baru karya Tejo Sulistyo pada tahun 2010 di Klaten, Jawa Tengah, turut mempromosikan potensi daerah Klaten yakni lurik dan payung, hingga terbentuk kata “Luyung”. Payung dibuat oleh pengrajin di kecamatan Juwiring dan Lurik dibuat oleh pengrajin di kecamatan Pedan. Dalam tarian ini menggunakan properti Payung dan penarinya mengenakan pakaian Lurik, menggambarkan sekelompok remaja putri yang sedang belajar menenun kain. Hasil karya mereka berupa kain lurik yang indah dan elok yang dibuat pakaian tradisional yang sangat menawan, sambil bermain payung yang beraneka ragam warnanya, mereka memamerkan keindahan pakaian lurik tersebut kepada teman-temannya. Ge rakan tarian ini berupa gerak tari cara membuat kain lurik, seperti gerakan menenun, memintal benang, menjemur sampai melipat dan menyimpan kain lurik. Sedangkan busana yang di kenakan para penari berupa hiasan rambut, anting, kalung, kebaya lurik, kemben lurik, sabuk, da...