Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional yang dimiliki oleh Bali. Alat musik pukul tersebut terbuat dari susunan bambu. Terdapat lima nada dasar yang dimiliki oleh Rindik. Rindik biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat "Joged Bumbung. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu. (Sumber : http://blog.isi-dps.ac.id/evayadnya/category/karya).
Kecak berasal dari kata yang keluar dari mulut para penari, yaitu "cak-cak-cak". Tarian tersebut awalnya adalah pengiring pada tari Sahyang. Karena tari Sahyang merupakan tarian sakral dan hanya bisa ditarikan di pura, oleh karena itu seorang seniman Bali (Wayan Limbak) mengembangkan tari Kecak. Hal tersebut ia lakukan agar gerakan tari Sahyang dapat dipentaskan untuk umum. Tari Kecak pada dasarnya tersusun dari kisah Ramayana, dimana Dewi Shinta diculik oleh Rahwana. Jumlah penari Kecak bisa mencapai puluhan orang yang didominasi oleh kaum pria. Tari Kecak kini juga dikenal dengan sebutan The Monkey Dance. (Sumber : http://kebudayaan1.blogspot.com/2013/07/asal-muasal-munculnya-tari-kecak-bali.html).
Meong-meong… Alih je bikule… Bikul gede gede… Buin mokoh-mokoh… Kereng pesan ngerusuhin… ------------------------------------------------ Yang artinya sebagai berikut: Kucing-kucing… Carilah tikusnya… Tikus besar-besar… Juga gemuk-gemuk… Selalu membuat masalah…
Putri cening ayu ngijeng cening jumah Meme luas malu kapeken meblanja Apang ada darang nasi Putri cening ayu ngijeng cening jumah Meme luas malu kapeken meblanja Apang ada darang nasi Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah Sambilan mangempu ajak titiang dadua Ditekane nyen gapgapin Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah Sambilan mangempu ajak titiang dadua Ditekane nyen gapgapin Putri cening ayu ngijeng cening jumah Meme luas malu kapeken meblanja Apang ada darang nasi Putri cening ayu ngijeng cening jumah Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Jangi Janger, sengsenge sengseng janger, Sengsenge sengseng janger. Serere nyo mane nyore Kelap kelap ngalap bunga Langsing lanjar pamulune nyandat gading Saluat jani mejangeran Seriang ngentur rora roti Jangi Janger, sengsenge sengseng janger, Sengsenge sengseng janger. Serere nyo mane nyore Kelap kelap ngalap bunga Langsing lanjar pamulune nyandat gading Saluat jani mejangeran Seriang ngentur rora roti Arasijak Jangi Janger Arasijak Jangi Janger Arasijak Jangi Janger Arasijak Jangi Janger
Oi kaba oi kaba ngapo belum beringak Apau kaba nidau ka berayak Malam ini adau bimbang di sebeghang Melah kitau pegi berandunan Oi kaba oi kaba jangan lupaukah Janji kaba ngan adiak senandutan Malam ini janji kaba k betandang gadis sebeghang diau keciak lentiak Kelintang bebunyi hujan angin Budak gadis pakai baju kembang libaah Meruang luak medu disasai beghuang Binguang miliah diau manau Kelintang bebunyi hujan angin Budak bujang ndalak pada becelatu Ngengkeng ke ulu ngengkeng ke iligh Ikak berikak urung galau Oi kaba oi kaba ngapo belum beringak Apau kaba nidau ka berayak Malam ini adau bimbang di sebeghang Melah kitau pegi berandunan Oi kaba oi kaba jangan lupaukah Janji kaba ngan adiak senandutan Malam ini janji kaba k betandang gadis sebeghang diau keciak lentiak Kelintang bebunyi hujan angin Budak gadis pakai baju kembang libaah Meruang luak medu disasa...
Lasan dalam bahasa Bali berarti kadal atau sejenis binatang reptile. Kemudian diberi awalan “ma” (me) dan diucapkan berulang-ulang menjadi Malasan-lasanan . Biasanya permainan ini dimainkan pada saat terang bulan dalam suasana meriah dan mengasyikan. Permainan malasan - lasanan dapat melatih anak-anak untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan sejak anak-anak karena permainan ini dapat dimainkan oleh anak-anak dari berbagai lapisan tanpa membedakan asal-usul dan keturunan. Malasan-lasanan dimainkan oleh anak laki-laki dan/atau perempuan usia 6 sampai 10 tahun. Untuk bermain ini, anak-anak tidak perlu membuat peralatan khusus. Yang diperlukan hanyalah tempat bermain dan lagu pengiring. Tempat bermain bisa di halaman rumah atau tanah lapang yang cukup luas (kira-kira 6 x 6 m). Syair lagu yang dinyanyikan pada saat bermain adalah sebagai berikut: “La la sai nga lie ikut ” (dinyanyikan berulang-ula...
Di Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Bagening. Sang Raja memiliki banyak istri, dan istri terakhirnya bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji, dan masih keturunan Kyai Pasek Gobleng. Suatu waktu, Ni Luh Pasek mengandung. Oleh suaminya, ia dititipkan kepada Kyai Jelantik Bogol. Tak berapa lama, anaknya pun lahir. Anak itu diberi nama I Gede Pasekan. I Gede Pasekan mempunyai wibawa besar sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh pemuka masyarakat maupun masyarakat biasa. Suatu hari, ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ayahnya berkata padanya, “Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.” “Mengapa ayah?” “Karena di sanalah tempat kelahiran ibumu.” Sebelum berangkat, ayah angkatnya memberikan dua buah senjata bertuah, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan sebatang tomba...
Nilai-nilai budaya nenek moyang yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Gianyar di Bali salah satunya melalui Upacara Nangluk Mrana (upacara membendung hama dan penyakit) yang berlangsung di Desa Lebih, Desa Pantai, 6 km di Selatan Pusat Kota Gianyar, kurang lebih 34 km dari Denpasar. Gangguan penyakit ( mrana ) dipercaya datang dari Laut Selatan, dapat juga merupakan kutukan dari Betara Gunung Batur. Untuk mengantisipasi timbulnya hama dan penyakit pada tumbuhan, hewan, dan manusia, penduduk harus melaksanakan upacara untuk ‘tolak bala’ dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase agar memperoleh keselamatan hidup dengan melakukan “ buta yadnya ”. Upacara Nangluk Mrana diselenggarakan secara turun-temurun pada hari tilem ke enam (menurut penanggalan Bali) atau setiap bulan Desember. Upacara Nangluk Mrana bermaksud untuk memohon keselamatan dan kesuburan tanah pertanian. Sebelum diselenggarakan Upacara Nangluk Mra...