Budaya Indonesia
563 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Tradisi Bersirih
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Tradisi bersirih atau makan pinang adalah warisan budaya yang terdiri dari pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, cengkih.   Awalnya kebiasaan ini dilakukan sebagai penyedap mulut, yang lambat laun menjadi kebasaan masyarakat. Tradisi ini disamakan seperti merokok, meminum kopi, teh, sebagai kenikmatan nan sehat. Bersirih ini mempunyai manfaat yang baik bagi gigi karna dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut, menghentikan pendarahan gusi, serta sebagai obat kumur.   Sirih sangat terkenal dikalangan kebudayaan masyarakat melayu. Selain dimakan oleh banyak orang kebanyakan, sirih juga dikenal sebagai simbol budaya yang tidak dapat dipisahkan dari adat istiadat melayu. Sirih digunakan sebagai menyambut tamu, penyambutan tami tersebut divisualisasian dalam bentuk tarian. Dari pemetikan daun sirih, sampai penyajian ditampilkan dengan tarian yang akhirnya menjadi tarian tradisional Aceh yang dinamakan Tari Ranub Lampuan. &n...

avatar
OSKM18_19718128_tamimma tamimmah disma lestari
Gambar Entri
Prasasti Lobu Tua
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Prasasti Lobu Tua Prasasti Lobu Tua , atau  Prasasti Barus , merupakan salah satu prasasti di Indonesia dalam bahasa Tamil, yang ditemukan pada tahun 1873. Prasasti ini berangka tahun Saka 1010 atau 1088 Masehi. Prasasti ini dipublikasikan dalam laporan yang berjudul " Madras Epigraphy Report " tahun 1891-1892 oleh E. Hultzsch, ahli epigrafi Inggris di India. Prasasti ini menyebutkan tentang adanya suatu serikat dagang bangsa Tamil di daerah Barus. Serikat dagang tersebut disebutkan bernama “Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah” ( Disai-Ayirattu- Ainnurruvar ). Menurut Prof. Y. Subbarayalu dari Universitas Thanjavur, serikat dagang ini yang bernama lain  Ayyavole , juga meninggalkan prasasti berbahasa Tamil pula di Aceh. Di Barus, mereka membeli berbagai komoditas dari penduduk setempat, dan kepada para anggotanya menarik cukai berupa emas yang didasarkan pada harga kasturi, dengan objek...

avatar
OSKM18_16718255_Jeremiah Tjandra
Gambar Entri
Daun Pirdot
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Sumatera Utara

Daun Pirdot Pirdot ( Saurauia bracteosa  DC.), dikenal juga dengan nama pirdot (Bahasa Batak) merupakan jenis tanaman pionir yang dapat diandalkan dalam merehabilitasi kawasan yang terdegradasi terutama yang terdapat di dataran tinggi. Tanaman ini jarang ditemukan, namun pohon ini banyak ditemukan di daerah Girsan Sipangan Bolon, daerah di pinggiran Danau Toba. Pohon yang berwarna coklat dan mudah patah ini berukuran kecil-sedang, dengan tinggi 3 sampai 15 m. Selain sebagai tanaman pionir, pirdot memiliki banyak manfaat terutama sebagai tanaman obat.   Tanaman ini memiliki daun berbentuk lonjong-jorong, panjang 18 – 36 cm, lebar 8 – 18 cm, bergerigi, meruncing di ujung, dan bulat di bagian dasar. Permukaan bawah daun seperti beludru kelabu atau berbulu cokelat, bersisik pada permukaan atas daun remaja, licin pada daun dewasa. Daunnya dilaporkan mempunyai kemampuan dalam mengobati penyakit kanker, diabetes, dan menurunkan kolesterol, karena pada daun...

avatar
Oskm_16718483_rosemary
Gambar Entri
Manulangi Natua-Tua
Ritual Ritual
Sumatera Utara

Menghormati orang tua adalah salah satu kewajiban anak yang sangat penting. Dalam kehidupan suku Batak, terdapat sebuah tradisi di mana anak-anak dari orang tua (yang sudah tua dan telah memiliki cucu) berkumpul untuk menyuapi orang tua tersebut. Dalam bahasa Batak, tradisi ini disebut  Manulangi Natua-Tua  atau dalam bahasa Indonesia 'menyuapi orang tua'. Anak-anaknya yang telah berkeluarga menyuapi orang tuanya dengan makanan-makanan yang lezat.  Selain untuk menghormati orang tua sebagai bentuk pengabdian, Manulangi Natua-Tua juga bertujuan untuk memohon doa restu kepada orang tua, misalnya memohon kelancaran proses kelahiran, dan bahkan memohon doa bagi anaknya yang belum dikaruniai keturunan. Upacara ini juga biasa dilakukan ketika orang tua tersebut sedang memasuki masa kritis sebagai bentuk pengabdian dan rasa terima kasih seorang anak kepada orang tuanya. Upacara ini dapat juga dimaksudkan agar penyakit dan bencana menjauh dari orang tua. Umumnya a...

avatar
OSKM18_16118087_Rolina ITB_2018
Gambar Entri
Minuman Tuak Dalam Adat Batak Toba
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Tuak adalah suatu jenis minuman beralkohol Nusantara yang dihasilkan dari hasil fermentasi nira kelapa atau jenis pohon lain penghasil nira (seperti aren) serta beras. Minuman ini berasal dari beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatera Utara, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Tuak memiliki kekhasan dari masing-masing daerah asalnya. Khusus untuk tradisi Batak, minuman ini sering ada saat acara adat, acara kekeluargaan, di lapo (tempat makan orang Batak), dan juga sebagai jamuan kepada tamu. Popularitas minuman tuak di kalangan Batak Toba menjadikan tuak sebagai minuman khas dan simbolis dari suku Batak. Fungsi tuak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba sering dibahas, namun studi mengenai tuak yang berfokus pada aspek sosial-budaya Batak masih kurang. Tuak yang biasa digunakan dalam adat Batak adalah tuak tangkasan, tuak yang tidak bercampur dengan raru. Tuak tersebut berasal dari tumbuhan mayang bagot (sejenis tumbuhan Aren). Pohon bargot dahulu diperca...

avatar
OSKM_16918233_INDIRA ANJANIQUE
Gambar Entri
Minuman Tradisional Tuak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Tuak merupakan sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren (Arenga pinnata). Kalau dalam bahasa Indonesia, sadapan dari enau atau aren disebut nira. Nira tersebut manis rasanya, sedangkan ada dua jenis tuak sesuai dengan resepnya, yaitu yang manis dan yang pahit (mengandung alkohol). Di daerah Tapanuli Utara, biasanya laki-laki yang menyelesaikan kerjanya berkumpul di kedai pada sore hari. Mereka berbincang-bincang, menyanyi, memain kartu, bercatur dan menonton televisi, sambil minum tuak. Pada umumnya seorang petani biasa minum tuak beberapa gelas sehari. Pada tahun 1997 segelas tuak berharga Rp. 300 di desa LNH. Kalau laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai, tetapi jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki, kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli tuak di kedai dan membawa botol yang terisi tuak ke rumahnya atau ke rumah kawannya untuk minum tuak di situ.   Tuak yang ada hubu...

avatar
OSKM18_16318141_Golden Putra
Gambar Entri
Ulos Tintin Marangkup
Ritual Ritual
Sumatera Utara

            Suku Batak, merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih terkenal kental akan budayanya yang khas dan juga marganya. Salah satu budaya yang akan saya angkat dari suku terkenal ini adalah budaya  Ulos Tintin Marangkup. Ulos sendiri merupakan budaya diadakannya pemberian simbolis sebagai penyalur berkat terhadap pengantin baru dan keluarganya. Namun tidak semua orang berhak memberi Ulos. Sebenarnya terdapat beberapa macam kategori pemberi dan penerima Ulos, tapi kali ini saya akan membawa kita lebih fokus kepada Ulos Tintin Marungkup. Kondisi Ulos Tintin Marungkup bisa terjadi jika orang tua dari keponakan sang paman tidak mampu menikahkan anaknya dengan anak dari pamannya (atau dalam bahasa batak yaitu tulangnya) sehingga sang anak menikah dengan anak dari tulang yang lain. Maka agar anak tersebut diakui sebagai anak sendiri bagi sang tulang atau pamannya, maka ulos pun diberikan pada kedua pengantin sebagai bentuk restu dar...

avatar
OSKM18_16618005_Yusuf Ferdiansyah Batubara
Gambar Entri
Mangkaroan
Ritual Ritual
Sumatera Utara

Adat mangkaroan itu adalah salah satu dari sekian banyak adat dari budaya Batak. Mangkaroan atau yang biasa dikenal sebagai Melek-melekan adalah salah satu adat batak untuk menyambut kelahiran seorang bayi yg baru lahir. Adat mangkaroan atau melek-melekan dilaksanakan pada saat bayi berumur 1-4 minggu. Pada saat acara tersebut, orangtua ibu dari si bayi datang dengan membawa dekke (ikan mas arsik), ulos dan beras di tandok. Sementara dari pihak keluarga suami (ayah dari si bayi) menyediakan menu makanan utama. Kakek dan nenek dari si bayi akan memberikan ulos ke bayi tersebut yang dinamakan ulos holong atau selendang kasih sayang. Ulos ini diberikan sebagai simbol memohon berkat dan panjang umur untuk si bayi. Lalu dilanjutkan dengan keluarga dari pihak Ibu akan menyuapi si Ibu dengan nasi, dekke (ikan mas arsik), dan air. Nasi atau dalam adat Mangkaroan disebut beras sipirni ni tondi melambangkan agar selalu teguh imannya. Dekke menjadi alas dalam menyampaikan harapan, doa dan mim...

avatar
Oskm18_19718268_gabriella
Gambar Entri
Rumah Adat Pakpak dari Sumatera Utara
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sumatera Utara

Rumah Adat dari Sumatera Utara Seperti yang sudah diketahui, Indoneisa adalah suatu negara besar yang terdiri dari masyarakat dari berbagai suku ,ras,etnis,agama yang berbeda-beda.Oleh karena keanekaragaman itu,tentunya Indonesia juga memiliki berbagai jenis budaya baik budaya asli yang diwariskan nenek moyang kita maupun budaya luar yang masuk ke Indonesia sebagai akibat proses akulturasi.Melalui artiket ini saya akan menjelaskan sedikit tentang budaya Indonesia berupa rumah adat yang berasal dari daerah asal saya Provinsi Sumatera Utara. Rumah adat tersebut adalah rumah adat Pakpak. Di bawah ini adalah contoh gambar rumah adat Pakpak.    Gambar: https://www.google.co.id/search?q=rumah+adat+sumatera+utara&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiE-JfUw9rcAhXGr48KHToIDKQQ_AUICigB&biw=756&bih=683#imgrc=WgXDa_1TpwHCPM : Rumah adat Pakpak memiliki bentuk yang khas yang dibuat dari bahan kayu dengan atap dari bahan ijuk...

avatar
OSKM18_16518282_STEPHEN THAJEB