Kekayaan hasil bumi di tanah Indonesia memang tidak dapat dipungkiri melimpahnya. Berbagai jenis tumbuhan sangat subur tumbuh di tanah Indonesia tercinta ini. Sayur-sayuran, buah-buahan, umbi-umbian dan lainnya, sangat banyak ditemukan saat musim panen. Oleh karena banyaknya hasil bumi tersebut, sampai-sampai banyak juga sisa dari hasil panen yang terbuang sia-sia karena mengalami pembusukan. Berbagai teknik dilakukan untuk mengawetkan hasil bumi yang jumlahnya terlampau banyak. Salah satunya adalah Lempok Cempedak ini. Lempok merupakan makanan asli Melayu, dalam hal ini khususnya Melayu Bangka. Lempok Cempedak awalnya dibuat karena banyaknya hasil Cempedak disaat panen, yang akan membusuk jika dibiarkan. Lempok Cempedak ini adalah Oleh-oleh khas Bangka Belitung yang tergantung musim. Musim Cempedak biasanya berada di bulan Oktober sampai Desember tiap tahunnya. Lempok Cempedak ini pada dasarnya adalah dodol. Jika Lempok dari daerah Lampung menggunakan durian sebagai bahan u...
Bolu Kujo, cemilan tradisional khas Pulau Bangka yang satu ini tentu tidak asing di telinga masyarakat Bangka. Bolu Kujo terbuat dari bahan baku utama santan kelapa yang segar, sehingga membuat Bolu Kujo tidak hanya memiliki rasa yang enak & lezat, tetapi memiliki tekstur yang lembut & gurih, serta aroma yang harum ketika disajikan. Biasanya bolu kujo ini dihidangkan saat tamu datang dan sangat cocok disantap bersama kue apem mangkok . Namun hal yang berbeda ada di Kecamatan Sungailiat Tradisi membuat kue bolu kojo atau orang Bangka menyebutnya bolu kujo menjadi tradisi turun-menurun yang dilakukan masyarakat Kelurahan Kenanga Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka setiap memperingati 1 Muharam. Kue bolu kujo ini sudah menjadi icon masyarakat Kelurahan Kenanga setiap peringatan Tahun Baru Islam. Setiap tahunnya, selalu lebih dari 300 kue bolu kujo dihidangkan. #OSKMITB2018
Bagi orang yang tidak mengetahuinya, mungkin kata - kata Tahukok akan terdengar asing di telinganya. Tahukok ini merupakan makanan khas dari Provinsi Bangka Belitung yang merupakan sup panas yang diisi dengan daging ikan tenggiri. Daging ikan ini biasanya akan diolah menjadi bakso ikan, tahu isi, dan fukian, sejenis bakso yang dibalut dengan kulit tahu sehingga menghasilkan rasa yang nikmat. kuah yang di hidangkan dalam sup ini juga bukan kuah biasa, melainkan kuah kaldu yang menambah kenikmatan makanan ini. Makanan ini dapat ditemukan di hampir seluruh daerah di pulau Bangka, karena makanan ini bisa dikatakan sudah mendarah daging dalam orang di daerah itu. Orang - orang biasanya menikmati makanan ini disertai dengan bakmi khas Bangka, atau juga bisa dinikmati dengan nasi putih. Untuk ukuran porsinya, makanan ini dapat dibilang cukup besar, anda cukup memakan satu porsi dan anda pasti kenyang. Dengan porsi yang besar dan rasa yang nikmat, mungkin anda akan berpikir harganya pa...
Buah ini adalah salah satu buah khas Bangka. Buah ini disebut Manglek di Bangka. Mungkin buah ini tidak cukup familiar di telinga anak muda sekarang. Apalagi mereka yang merupakan masyarakat pendatang atau anak yang lahir di perkotaan. Buah ini berbuah secara musiman sehingga hanya dapat ditemui dalam waktu-waktu tertentu. Buah ini memiliki daging buah seperti alpukat dan teksturnya agak lembek. Buah ini biasanya dijadikan sebagai lauk dan dimakan dengan nasi. Buah ini disebut juga sebagai buah Kalangkala di daerah kalimantan. Cara penyajian buah ini sebagai berikut 1. Pertama-tama, buah yang sudah matang (berwarna hijau kemerahan) direndam dengan air hangat (tidak boleh dengan air mendidih karena bisa menyebabkan gatal jika dimakan). 2. Rendam buah antara 10 sampai 15 menit, kemudian angkat buah dan lepaskan dari potongan tangkainya. 3. Taruh buah di dalam baskom, kemudian berikan gula dan garam. 4. Goyangkan baskom sebentar agar taburan gu...
Penjelasan Singkat mengenai Lempuk Durian khas Bangka Lempuk durian khas Bangka adalah durian yang diambil dagingnya, dimasak menggunakan gula yang jumlahnya banyak dengan perbandingan 1:1, sampai kering (dengan api yang kecil). Lempuk durian biasanya dibuat pada saat musim durian. Bahan-bahannya: 1. 1 mangkuk daging durian 2. 1 mangkuk gula, berat sama dengan durian Alat-alatnya: 1. Pisau besar/golok 2. Wajan/penggorengan 3. Sodet Cara pembuatannya: 1. Durian dibelah untuk diambil dagingnya dengan menggunakan golok. Setelah itu, dagingnya dipisahkan dari bijinya. 2. Ukur jumlah gula hingga sama beratnya dengan daging durian. 3. Persiapkan api dan taruh penggorengan di atas tungku. 4. Masukkan daging dan gula ke dalam penggorengan, lalu dimasak dengan menggunakan api kecil sambil diaduk-aduk sampai mengental. 5. Matikan api, jemur masakan sampai kering. Jadilah lempuk durian k...
Budaya Selikur adalah budaya yang hanya muncul pada bulan Ramadhan. Biasanya, budaya ini berlangsung selama satu minggu; dimulai dari malam puasa ramadhan yang ke-21 hingga malam takbiran. Budaya Selikur, pada awalnya, ditandai oleh lampu sulur, atau lampu minyak tanah tradisional, yang dipasang di halaman depan rumah warga. Biasanya, pada hari pertama, dipasang satu lampu. Kemudian, pada hari kedua, dipasang dua lampu, dan seterusnya hingga malam takbiran. Kebiasaan ini memeriahkan datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan lampu-lampu yang meriah dan indah. Lampu-lampu tradisional tersebut dibuat menggunakan bahan yang bervariasi seperti bambu dan botol bekas. Budaya Selikur ditemani dengan permainan Bedil, yaitu meriam bambu yang dibuat sendiri. Permainan ini dimulai ketika waktu maghrib tiba. Selain itu, mulainya Selikur menandakan permulaan acara jual beli kue tanah. Kue tanah ini merupakan kue mainan yang dibentuk dari tanah liat, kemudian dibakar seperti kue y...
Budaya Selikur adalah budaya yang hanya muncul pada bulan Ramadhan. Biasanya, budaya ini berlangsung selama satu minggu; dimulai dari malam puasa ramadhan yang ke-21 hingga malam takbiran. Budaya Selikur, pada awalnya, ditandai oleh lampu sulur, atau lampu minyak tanah tradisional, yang dipasang di halaman depan rumah warga. Biasanya, pada hari pertama, dipasang satu lampu. Kemudian, pada hari kedua, dipasang dua lampu, dan seterusnya hingga malam takbiran. Kebiasaan ini memeriahkan datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan lampu-lampu yang meriah dan indah. Lampu-lampu tradisional tersebut dibuat menggunakan bahan yang bervariasi seperti bambu dan botol bekas. Budaya Selikur ditemani dengan permainan Bedil, yaitu meriam bambu yang dibuat sendiri. Permainan ini dimulai ketika waktu maghrib tiba. Selain itu, mulainya Selikur menandakan permulaan acara jual beli kue tanah. Kue tanah ini merupakan kue mainan yang dibentuk dari tanah liat, kemudian dibakar seperti kue y...
pada umumnya, ada banyak sekali versi Kroket di setiap daerah di Indonesia maka tidak aneh jika Kroket ada versi Bangka juga. Kroket Bangka ini sudah menjadi Jajanan yang cukup khas di Bangka. Gorengan ini terbuat dari Singkong dan Terigu dengan Isi yang sebenarnya bisa dibuat sesuai selera dan cukup mudah untuk dibuat sendiri dirumah. Makanan ini juga cukup mengenyangkan dan bisa menjadi alternatif pengganti nasi. Berikut dibawah ini resep kroket yang biasa keluarga saya buat: Bahan-Bahan; 1) Bahan 1 (Adonan): 1 kg Singkong 250 gr Terigu Minyak goreng secukupnya (untuk menggoreng) Air secukupnya 2) Bahan 2 (Isi): 250 gr Wortel 250 gr Kentang 250 gr Daging Ayam 100 gr Udang Kering (opsional) 3 btg Seledri 2 btg Bawang Daun 3 sdm Minyak Goreng (untuk menumis) 3) Bahan 3 (Bumbu): 1 sdm Merica utuh (bisa juga yang sudah halus) garam dan gula secukupnya 3 siung Bawang Putih 3 siung Bawan...
Tradisi Ceng Beng atau lebih dikenal Festival Qingming ( æ¸...æ˜Å½ç¯€) di Bahasa Mandarin adalah ritual tahunan bagi etnis Tionghoa. Festival ini diadakan pada tanggal 5 April (4 April jika tahun kabisat) dan ziarah makam diadakan antara 10 hari sebelum dan sesudah hari Ceng Beng (25/24 Maret-15/14 April) dengan puncaknya pada hari minggu terakhir sebelum 5 April. Di Indonesia, tradisi ini dapat disamakan dengan 'nyekar'. Untuk Orang Tionghoa biasanya ritual ini dilakukan untuk menghormati dan mengingat nenek moyang, berdoa di depan kuburan nenek moyang, membersihkan sekitar kuburan, atau memberi sesaji. Biasanya, setelah selesai membersihkan makam, Orang Tionghoa membakar kertas berwarna keemasan (kim cua) dan kertas yang berwarna keperakan (gin cua) untuk upacara sembhayang. Sesudah acara Ceng Beng, biasanya Orang Tionghoa akan berkumpul bersama keluarga besar dan berwisata ke wilayah sekitar. #OSKMITB2018...