4.516 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Arca Wisnu Majapahit
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Arca Wisnu menunggang Garuda, perwujudan Raja Airlangga . Arca disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Foto dari Instagram Ibu Ani Yudhoyono, 4 Januari 2014.

avatar
hokky saavedra
Gambar Entri
Tempayan peninggalan Majapahit
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Tempayan peninggalan kerajaan Majapahit. Saat ini disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Koleksi foto dari Instagram ibu Ani Yudhoyono, 4 Januari 2014.

avatar
hokky saavedra
Gambar Entri
Ul-Daul
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Jawa Timur

Ul-Daul sebenarnya berasal dari perulangan kata Daul. Pada bahasa Madura, sebuah kata yang merupakan perulangan, biasanya kata pertama diambil satu suku kata terakhir. Sebagaimana nama daerah Batang-Batang (daerah asal budayawan Madura, D. Zawawi Imron) disebut sebagai "Tang-Batang", atau Guluk-Guluk yang diucapkan dengan "Luk-Guluk". Demikian pula dengan "Ul-daul" ini. Ul-Daul secara umum adalah musik perkusi yang merupakan pengembangan musik Tong-tong, yakni semacam kentongan dari batang bambu yang bisa dibawa kemana-mana, secara umum panjangnya sekitar se-lengan orang dewasa. Musik yang berciri khas Madura yang dimainkan dengan pukulan monoton namun melahirkan irama dinamis sebagaimana musik-musik perkusi umumnya. Sebagai musik. Tong-tong, membuhkan alat-alat sederhana yang didapat disekitar masyarakat yang semuanya terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis ukuran yang terbuat dari potongan bambu; dari mulai ukuran besar panjang sekitar setengah sampai satu meter dengan dia...

avatar
Usman
Gambar Entri
BANTENGAN
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Jawa Timur

SENI  TRADISIONAL  BANTENGAN adalah  sebuah  seni pertunjukan  budaya  tradisi  yang menggabungkan  unsur  sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan  nuansa  magis. Pelaku  Bantengan  yakin  bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans”  yaitu  tahapan  pemain  pemegang  kepala  Bantengan menjadi kesurupan arwah  leluhur Banteng  (Dhanyangan). Cikal bakal Seni  Bantengan  berkembang sejak  jaman  kerajaan Singasari  (situs  candi  Jago  –  Tumpang)  sangat  erat kaitannya dengan Pencak Silat. Walaupun pada tersebut bentuk kesenian bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala bantengan yang menari. Gerakan tari yang dimainkan mengadopsi  dari  gerakan  Kembangan  Pencak  Silat. T...

avatar
PENGGIAT BUDAYA
Gambar Entri
Aeng Laos
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Timur

 Aeng Laos, minuman yang beraroma lengkuas dengan rasa Asam berasal dari Madura berkhasiat mencegah rematik.

avatar
mariska apriani
Gambar Entri
Legenda Asal-usul Gunung Kelud
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

  Cerita Rakyat Kediri Bagi warga Jawa Timur, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut Sejarah Gunung Kelud | Legenda Asal-Usul Kelud bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami, seperti Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat. asal usul Gunung Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro.   Informasi dari berbagai sumber, kala itu, dikisahkan Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.   Sejarah gunung kelud di lanjutkan dengan adanya sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa kepada mereka berdua, oleh Dewi Kilisuci sendiri yang bertujuan untuk menolak lamaran tersebut, yaitu membuat dua sumur di atas...

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Legenda Gunung Semeru
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan luas dan terombang-ambing dipermainkan ombak. Pada suatu saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau tersebut dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Namun pulau tersebut masih terombang ambing tak menentu.    Para Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut. Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya...

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Prasasati Mula Malurung
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.   Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Prasasti Dinoyo
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Prasasti Dinoyo bertarikh 682 Saka atau 760 Masehi, ditulis dengan aksara Jawa Kuno (Kawi) dan menggunakan bahasa Sansekerta, dengan candrasengkala “ Nayana Vasu Rasa ”. Prasasti ini ditemukan di dekat pasar Dinoyo lama (sekarang menjadi pertokoan), dan sekarang menjadi koleksi Museun Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.113. Meski sudah lama dijumpai penduduk sekitar, tetapi baru tahun 1916 dipublikasikan oleh Dr. F.D.K. Bosch dengan judul “ De Sanskrit-Inscriptie op den Steen van Dinaya ”. Prasasti Dinoyo ini terpahatkan pada batu andesit dengan tinggi 1,10 meter, yang pada waktu ditemukan dalam keadaan pecah menjadi tiga bagian. Bagian terbesar berada di Dinoyo, sedangkan dua pecahan kecil lainnya ditemukan di Merjosari. Prasasti ini ditulis oleh salah seorang cucu Raja Gajayana yang bernama Anana, dan isinya menurut Poerbatjaraka adalah sebagai berikut:   1.        âsîn  narap...

avatar
Roby Darisandi