Tradisi Nganta Kincouw merupakan tradisi menghantarkan bahan-bahan keperluan memasak untuk kebutuhan konsumsi dalam perkawinan. Bahan-bahan masakan inilah yang dikenal dengan sebutan kincouw. Kincouw ini seperti nangka, kelapa, bawang, dan bahan-bahan masakan lainnya. Nganta Kincouw dilakukan pada satu malam sebelum pesta perkawinan digelar oleh pihak laki-laki yang akan melaksanakan perkawinan dan kincouw tersebut diantarkan kepada pihak perempuan yang akan melaksanakan perkawinan. Nganta Kincouw ini dilakukan dengan berjalan kaki dan berarak-arakan dari rumah mempelai laki-laki menuju ke rumah kediaman mempelai perempuan. Tradisi Nganta Kincouw di Desa Tanjung Pauh Mudik dilaksanakan lewat serangkaian proses. Dimuai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan tahap akhir Nganta Kincouw. Tradisi Nganta Kincouw masih dilaksanakan dan eksis hingga sekarang di Desa Tanjung Pauh Mu...
Tari Sekapur Sirih merupakan salah satu tarian tradisional khas daerah Jambi. Tari ini biasa dipersembahkan untuk menyambut tamu penting atau tamu besar. Biasa juga disebut tari selamat datang. Terdiri dari sembilan penari, lengkap dengan payung untuk memayungi tamu, serta berpakaian adat khas Jambi, berupa baju kurung, kain songket, dan hiasan kepala berupa sunting. Tak lupa pula salah satu penari membawa Cerano (wadah) berisi daun sirih yang nantinya akan diberikan kepada tamu tersebut. (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Sekapur_Sirih).
Tari Sekapur Sirih merupakan salah satu tarian tradisional khas daerah Jambi. Tari ini biasa dipersembahkan untuk menyambut tamu penting atau tamu besar. Biasa juga disebut tari selamat datang. Terdiri dari sembilan penari, lengkap dengan payung untuk memayungi tamu, serta berpakaian adat khas Jambi, berupa baju kurung, kain songket, dan hiasan kepala berupa sunting. Tak lupa pula salah satu penari membawa Cerano (wadah) berisi daun sirih yang nantinya akan diberikan kepada tamu tersebut. (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Sekapur_Sirih).
Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki ciri khasnya masing-masing, termasuk dalam hal pakaian adat. Pakaian adat biasa digunakan jika dalam upacara adat/besar, termasuk salah satunya upacara pernikahan. Begitu pula propinsi Jambi. Dalam hal pakaian adat, Jambi tidak jauh berbeda dengan pakaian khas pulau Sumatera yaitu baju kurung dan berwarna mencolok (merah/orange). Tidak lupa pula dilengkapi dengan aksesoris/perhiasan yang memunculkan kesan mewah. Berikut beberapa perlengkapan dari pakaian adat Jambi : 1. Pesangkon : merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain beludru, yang pada bagian luarnya diberi hiasan menyerupai duri pandan. 2. Cincin pacat kenyang/cincin kijang/cincin capung 3. Anting berbentuk kupu-kupu 4. Gelang kilat bahu (dipasang pada masing-masing lengan), gelang kano, ceper, dan buku beban. Khusus untuk gelang buku beban terbuat dari permata berwarna putih. 5. Gelang nago betapo dan ular meli...
Pada tahun 70-an, gubernur Jambi mengadakan sebuah sayembara. Sayembara tersebut untuk menentukan rumah adat yang nantinya akan menjadi ciri khas Jambi. Akhirnya terpilihlah rumah yang bernama Kajang Leko. Kajang Leko merupakan rumah dengan konsep panggung yang berasal dari Marga Bathin. Saat ini masih banyak dijumpai di daerah Kampung Lamo, Rantau Panjang. Rumah panggung Kajang Leko memiliki ukurang kurang lebih 12 m x 9 m dan dihiasi ukiran-ukiran yang indah. Bagian atap bangunan disebut juga dengan Gajah mabuk. Bubungan atap disebut juga dengan jerambah atau lipat kajang dan terbuat dari anyaman ijuk untuk mencegah hujan. Rumah Panggung Kajang Lako memiliki 30 tiang yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. (Sumber : http://rumahadatdiindonesia.blogspot.com/2014/02/rumah-adat-jambi-panggung-kajang-leko.html).
Tari Tauh berasal dari daerah Lekuk 50 Tumbi Lempur, Gunung Raya. Tarian ini sering dipentaskan pada saat kenduri Sko atau penyambutan tamu besar. Sering pula tari ini ditarikan ketika Beselang Gedang atau panen besar. Tarian ini dimaksudkan untuk menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat Jambi. Tari Tauh ditarikan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Selain untuk mengungkapkan syukur dan suka cita, tari Tauh juga menggambarkan kisah percintaan dan adat istiadat. Para penari berbalutkan busana khas Lempur yang berwarna coklat dilengkapi dengan aksesoris kepala berupa perhiasan perak. Penari Tauh biasanya akan menari di lapangan terbuka dengan diiringi alunan musik berupa kelintang kayu, gong, dan gendang. (Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/908/tari-tauh-jambi).
Di kalangan masyarakat Jambi, jika seorang anak hendak melangsungkan pernikahan, terdapat beberapa ritual atau prosesi yang harus ia jalani. Ritual ini disebut dengan Berserambahan. Pada acara Berserambahan, calon mempelai pria dan wanita saling bertukar pantun, yang disebut juga dengan Sloka Mudo. Tahapan setelah Seloka Mudo adalah : Berusik Sirih, Bergurau Pinang Ritual ini adalah proses dimana kedua belah pihak (calon mempelai pria dan wanita) menjajaki perasaan mereka. Menilik lagi apakah mereka akan melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak. Duduk Bertuik, Tegak Bertanyo Tahapan ini adalah tahap dimana pihak pria menggali tentang calon mempelai wanita. Terkait tentang silsilah keluarga, sopan santun, serta persetujuan dari orangtuanya. Ikat Buatan Janji Semayo Merupakan tahapan dimana keluarga dari kedua belah pihak membicarakan tanggal yang tepat untuk pertunangan. Ulur Antarserah Terimo Pusako...
Terdapat beberapa upcara adat atau ritual yang diselenggarakan oleh masyarakat Jambi, yaitu : Mintak Ahi Ujan Ritual ini terbilang perpaduan antara sisi adat istiadat dengan agama. Upacara yang digelar untuk meminta turun hujan ini ditujukan kepada dewa hujan yaitu Dewa Mambang. Namun, dari sisi agama, peserta ritual akan melakukan shalat untuk memohon diturunkannya hujan. Nugal Bejolo Upacara ini berkaitan dengan kegiatan menanam padi. Disamping itu, kegiatan ini diharapkan dapat mendekatkan hubungan muda dan mudi. Kumau Masih berkaitan dengan kegiatan bertani. Acara ini dilakukan jika masyarakat hendak menanam padi di sawah. Diselnggarakan setahun sekali pada saat musim hujan. Urutan kegiatannya adalah Ngapak jambe (membuka lahan), Nyiram beneih padei (menyiram benih padi), Ngambau beneih (sebar benih), Memasang pupuh (memasang dedaunan di tengah ladang). Ngayun Luci Upacara ini digelar untuk memohon keberhas...
Rumah Adat Rantau Panjang terletak di Kampung Baruh, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi yang berada pada koordinat 01º51’04.86” LS dan 102º11’25.14” BT. Rumah Adat Rantau Panjang sampai saat ini masih ditempati oleh pemiliknya yang bernama Aminah sehingga termasuk living monument. Bangunan tersebut berdenah segi enam dengan ukuran 6,70 x 11,05 m dan menghadap ke utara. Bentuknya panggung yang ditopang oleh 24 buah tiang kayu. Dindingnya terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari seng. Atap rumah berbentuk pelana yang meruncing pada kedua ujungnya. Pada bagian ujung atap terdapat hiasan yang berupa ukiran terawangan dengan motif daun. Ruangan yang terdapat di dalam rumah ini antara lain beranda, ruang tamu, kamar untuk orang tua, kamar untuk anak yang telah berkeluarga, kamar untuk anak gadis, dan dapur. Untuk mengatur sirkulasi udara dan memperoleh cahaya maka dibuatlah jendela. Di atas kamar tidur orang tua dan anak ga...