Kutau merupakan salah satu jenis permainan rakyat di Dusun Taba Pingin, Kecamatan Lakitan, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Permainan ini merupakan salah satu jenis beladiri yang lebih dikenal dengan nama Silat Kuntau. Silat Kuntau dimainkan oleh dua orang atau lebih pada perayaan adat oleh remaja laki-laki. Permainan dilakukan tanpa peralatan, akan tetapi biasanya diiringi oleh musik gamelan, gendang, kentongan atau lainnya. Sebelum dilakukan pertunjukan Silat Kuntau, dipersiapkan tempat duduk untuk tamu terhormat dan penonton umum. Setelah semuanya siap, dua pemain dipanggil ke arena pertunjukan dan diperkenalkan kepada penonton, baik nama maupun asalnya. Setelah diperkenalkan, kedua pemain saling bersalaman dan segera pasang aksi. Masing-masing mencari kelengahan lawannya dan dipimpin oleh seorang wasit. Keduanya juga berusaha saling memukul, dimana pukulannya berupa pukulan semu yang tidak menyakit...
Guritan Besemah adalah salah satu jenis sastra daerah masyarakat Besemah yang eksistensinya ditampilkan dalam bentuk “teater tutur”. Artinya, ia dituturkan secara monolog oleh seorang tukang cerita dalam bahasa Besemah dengan lagu tertentu dan memakai alat (bantu) yang disebut sambang yang dililit dengan kain (digetang) dan ditopangkan di bawah dagu, dan kadang-kadang pada kening penutur. Pada masa lalu guritan dituturkan pada malam hari di rumah warga dusun yang ditimpa musibah kematian, sejak hari pertama setelah jenazah dikebumikan sampai 3 malam berturut-turut. Penuturnya selalu laki-laki, biasanya berumur 50-an tahun ke atas. Tangan kanan penutur memegang pertengahan sambang atau agak ke bawah dan tangan kiri diletakkan di atas sambang, kemudian keningnya ditempelkan di atas tangan kiri itu. Penutur guritan tidak memandang penonton (audience) ketika sedang menuturkan cerita, ia memejamkan mata sebagai bentuk ekspresinya yang dalam. Lakon-lakon (judul) guri...
GLAMOR DAN ELEGAN Pakaian Adat Sumatra Selatan bisa dikatakan sebagai simbol peradaban budaya masyarakat Sumatra Selatan. Karena di dalamnya terdapat unsur filosofi hidup dan keselarasan. Hal ini bisa dilihat dari pilihan warna dan corak yang menghiasi pakaian adat tersebut. Ditambah dengan kelengkapannya, makin menambah kesakralan yang nampak pada tampilan pakaian adat yang berfungsi sebagai identitas budaya masyarakat Sumatra Selatan. Daerah yang dikenal dengan sebutan "Bumi Sriwijaya" dan masyarakatnya yang dipanggil sebagai "Wong Kito Galo" memiliki pakaian tradisional yang khas dengan keragaman corak di tiap kebupaten dalam propinsi tersebut. Dalam catatan sejarahnya, pakaian adat Sumatra Selatan berasal dari jaman kesultanan Palembang pada abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-19. Saat itu pakaian adat tersebut hanya boleh digunakan oleh golongan keturunan raja-raja atau priyai saja. Pakaian adat ini terinspirasi dari zaman kerajaan Sriwijaya yang pernah berjaya di daer...
Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu dan Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi. Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang Penenunan songket secara sejarah dikaitkan dengan kawasan permukiman dan budaya Melayu, dan menurut sementara orang teknik ini diperkenalkan oleh pedagang India atau Arab.[2] Menurut hikayat rakyat Palembang, asal mula kain songket adalah dari perdagangan zaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Orang Tionghoa menyediakan benang sutera sedangkan orang India menyumbang benang emas dan perak; maka, jadilah songket.[4] Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai Melayu. Pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper. Tidak diketahui secara pasti dari manakah songket...
Nama Putri Kembang Dadar sudah melegenda di Sumatera Selatan khususnya di Kota Palembang. Pemkot Palembang bahkan mengabadikannya dengan nama kapal pesiar yang melayani turis untuk menjelajahi Sungai Musi hingga Pulau Kemaro. Namun riwayat serta sejarah Putri Kembang Dadar yang dimakamkan di Bukit Siguntang masih misteri. Tidak ada catatan sejarah dari putri yang konon kabarnya memiliki kecantikan luar biasa tersebut. Bahkan, Ahmad Rusdi, kuncen (penjaga makam, Red) Putri Kembang Dadar mengaku hanya mendapatkan cerita seputar sosok putri tersebut berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.Itu pun tidak utuh. Keterangan pria berumur 50 tahun ini, awalnya ayahnya M Ani pertama kali menjadi kuncen makam sang putri. Itu setelah sang ayah mendapat wangsit langsung dari sang putri. Padahal, ayahnya kala itu masih anak-anak. Kondisi Taman Bukit Siguntang saat itu bukan seperti yang kita lihat sekarang sudah tertata rapih. Saat itu Taman Bukit Siguntang masih ber...
Batu betangkup menceritakan pada zaman dahulu adanya batu yang memiki mulut yang terus terbuka dan akan menutup apabila ada orang yang masuk ke dalam mulutnya. Dikisahkan ada seorang ibu yang memiliki dua anak yang sangat durhaka dan suka sekali melawan. Suatu hari karena tidak sanggup lagi dengan kedurhakaan anak-anaknya ibu tersebut kemudian pergi ke batu betangkup dan memasukkan dirinya ke dalam mulut batu betangkup, mulut batu betangkup menutup dan menyisakan se juntai rambut ibu tersebut di luar. Anak-anak ibu tersebut mulai mencari ibunya yang pergi entah kemana ketika mereka ke batu betangkup mereka melihat rambut ibunya yang ada keluar dari batu betangkup, merekapun menangis dan meminta maaf agar ibunya kembali tetapi ibu mereka tidak akan pernah bisa kembali karena ketika batu betangkup menutup mulutnya dia tidak akan pernah membuka kembali. Makna yang terkandung dari cerita tersebut hendaklah kita untuk tidak durhaka kepada orang tua karena jika mereka sudah tiada barulah ki...
Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu . Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya. Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih , dan garam . Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat...
Pakaian adat Suamtra Selatan sangat terkenal dengan sebutan Aesan gede yang melambangkan kebesaran, dan pakaian Aesan paksangko yang melambangkan keanggunan masyarakat Sumatera Selatan. Pakaian adat ini biasanya hanya digunakan saat upacara adat perkawinan. Dengan pemahaman bahwa upacara perkawinan ini merupakan upacara besar. Maka dengan menggunakan Aesan Gede atau Aesan Paksangko sebagai kostum pengantin memiliki makna sesuatu yang sangat anggun, karena kedua pengantin bagaikan raja dan ratu. Pembeda antara corak Aesan Gede dan Aesan Paksongko, jika dirinci sebagai berikut; gaya Aesan Gede berwarna merah jambu dipadu dengan warna keemasan. Kedua warna tersebut diyakini sebagai cerminan keagungan para bangsawan Sriwijaya. Apalagi dengan gemerlap perhiasan pelengkap serta mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, dan kelapo standan. Lalu dipadukan dengan baju dodot serta kain songket lepus bermotif napan perak. Pada Aesan Paksangkong. Bagi laki-laki menggunakan...
Putri Rambut Selako , Rambut Selako artinya adalah rambut yang berwarna keemas-emasan mungkin karena beliau ada keturunan barat. Nama aslinya sendiri adalah Putri Damar Kencana Wungsu dan menurut cerita beliau berasal dari Keraton Yogyakarta yang merupakan anak dari Prabu Prawijaya. Putri Rambut Selako adalah sanak famili dari Demang Lebar Daun. Beliau adalah salah satu dari 11 pengikut Ratu Bagus Kuning, yakni Penghulu Gede, Datuk Buyung, Kuncung Emas, Panglima Bisu, Panglima Api, Syekh Ali Akbar, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Idrus, Putri Kembang Dadar, dan Bujang Juaro. Beliau dimakamkan di Kawasan Bukit Siguntang yang berada di Bukit Besar Palembang. Kawasan ini memiliki ketinggian sekitar 27 meter di atas permukaan laut tepatnya di Kelurahan Bukit Lama. Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan karena di sini terdapat beberapa makam Raja Sriwijaya. Di antaranya Raja Si Gentar Alam, Putri Kembang Dadar, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang,...