Hari Pendidikan Nasional
204 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Prasasti Kedukan Bukit
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Selatan

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Prasasti Talang Tuo
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Selatan

Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, dan dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.   Keadaan fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuna, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor D.145.

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Prasasti Telaga Batu
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Selatan

Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatra Selatan, pada tahun 1935. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti. Pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.   Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pembasuh. Tulisan pada prasasti berjumlah 28 baris, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kun...

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Kalender Bugis
Ritual Ritual
Sumatera Selatan

Kalender dan sistem penanggalan tradisional Bugis diaebut "Kotika Bilangeng duappulo", mengacu pada siklus dua puluh hari. Kutika Bilangeng Duappulo menggunakan 20 nama hari yaitu sebagai berikut : Pong, Pang, Lumawa, Wajing, Wunga Wunga, Telettuq, Anga, Webbo, Wagé, Ceppa, Tulé, Aiéng, Beruku, Panirong, Maua, Dettia, Soma, Lakkaraq, Jepati, dan Tumpakale. Nama Bulan dalam kalender Bugis, yaitu: Naagai, Palagunai, Bisaakai, Jettoi, Sarawanai, Pe'dawaranai, Sujiwi, Pacciekai, Pociyai, Mangasierai, Mangase'tiwi dan Mangalompai. Nama-nama hari dalam satu Minggu : aha', seneng, selasa, raba'/arabang, kammisi, juma' dan sattu.

avatar
hokky saavedra
Gambar Entri
Cerita Antu Ayek (Hantu Air)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sumatera Selatan

Sumatera Selatan merupakan wilayah yang banyak dialiri sungai-sungai. Setidaknya ada sembilan sungai besar yang mengalir di propinsi ini, sehingga gelar lain propinsi ini adalah Negeri Batanghari Sembilan. Batanghari dalam bahasa melayu Palembang diartikan sebagai sungai besar. Nah, ada banyak hikayat atau cerita yang berkembang di masyarakat yang mengiringi keberadaan sungai-sungai tersebut. Seperti legenda cinta Pulau Kemaro di sungai Musi. Cerita lain yang aku kenal di kampungku adalah legenda Antu Ayek yang sering kudengar semasa kanak-kanak, entah adakah kisah ini di daerah lain. Antu Ayek dalam bahasa Indonesia berarti Hantu Air. Penasaran? Baca dong posting ini sampai selesai.   Konon kabarnya, dahulu kala hiduplah seorang gadis dari keluarga sederhana bernama Juani. Juani merupakan gadis kampung yang elok rupawan, berkulit kuning langsat dan rambut panjangnya yang hitam lebat. Keelokan rupa Gadis Juani sudah begitu terkenal di kalangan masyarakat. Sehingga wajar...

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Adang-adangan (Hadang)
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Sumatera Selatan

Hadang adalah permainan olahraga tradisional yang tidak mempergunakan alat apapun sebagaimana permainan tradisional sebelumnya. Olahraga tradisional hadang dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 8 orang, terdiri dari 5 orang sebagai pemain inti dan 3 orang selebihnya sebagai pemain cadangan.  Ada sedikit perbedaan pada permainan olahraga tradisional ini, selain dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Namun yang membedakan dengan permainan olahraga tradisional lainnya adalah pada permainan ini tidak hanya dilakukan sebagai permainan untuk dilombakan pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus atau peringatan hari jadi Kabupaten atau Kota saja, tetapi juga sering dilakukan sebagai pengisi waktu senggang.   Permainan olahraga tradisional hadang ini dapat dibuat di ruangan terbuka (stadion, lapangan terbuka, halaman rumah, lapangan, atau jalan raya bila memungkinkan) maupun tertutup (gedung...

avatar
Roby Darisandi
Gambar Entri
Serunting dan Rie Tabing
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sumatera Selatan

Pada zaman dahulu di Sumatera Selatan ada seorang pemuda sakti bernama Serunting. Dia dikenal karena kesaktiannya , apabila ia marah makan yang diucapkannya akan menjadi kenyataan , seperti seorang pemuda yang menyerangnya kemudian ia mengutuknya menjadi batu , maka seketika lawannya menjadi batu.Serunting memiliki seorang adik bernama siti yang telah menikah dengan lelaki sakti bernama Rie Tabing. Pada suatu hari Serunting da Rie Tabing bermaksud membuat kebun di dekat hutan , "Kebun ini kita bagi dua sebbagian untukmu , sebagian untukku"ucap Serunting yang diamini oleh Rie Tabing. Kemudia mereka membuat pembatas kebun mereka dengan sebatang pohon. Hari-hari pun berlalu ... Suatu ketika , batang pohon pembatas sisi kebun Rie Tabing ditumbuhi jamur liar yang buruk sementara, disisi kebun Serunting ditumbuhi jamur emas. Rie Tabing menjadi iri dan dengki ,dengan diam-diam ia memutar batang pohon pembatas itu. Namun tuhan berkehendak lain esok harinya ... Jamur emas...

avatar
Nonik Puji
Gambar Entri
kalender bugis
Ritual Ritual
Sumatera Selatan

Kalender dan sistem penanggalan tradisional Bugis diaebut "Kotika Bilangeng duappulo", mengacu pada siklus dua puluh hari. Kutika Bilangeng Duappulo menggunakan 20 nama hari yaitu sebagai berikut : Pong, Pang, Lumawa, Wajing, Wunga Wunga, Telettuq, Anga, Webbo, Wagé, Ceppa, Tulé, Aiéng, Beruku, Panirong, Maua, Dettia, Soma, Lakkaraq, Jepati, dan Tumpakale. Nama Bulan dalam kalender Bugis, yaitu: Naagai, Palagunai, Bisaakai, Jettoi, Sarawanai, Pe'dawaranai, Sujiwi, Pacciekai, Pociyai, Mangasierai, Mangase'tiwi dan Mangalompai. Nama-nama hari dalam satu Minggu : aha', seneng, selasa, raba'/arabang, kammisi, juma' dan sattu.

avatar
Yulius Dwi Kristian
Gambar Entri
Clempungan
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Selatan

Orang lebih tau kalau makanan khas dari palembang adalah  empek-empek  padahal ada makanan lain dari palembang yang rasanya tidak kalah dari empek-empek, makanan itu adalah celimpungan. Celimpungan adalah makanan yang berbahan dasar sagu dan ikan. klik disini  untuk melihat resepnya. Kota palembang memang identik dengan makanan-makanan yang berbau ikan dkk. Celimpungan bisa disajikan dengan lontong dan sayur dan lauknya, bisa juga hanya disajikan sendiri. Kalau lagi ada hari raya, biasanya celimpungan adalah salah satu menu favorit. Perbedaan di antara celimpungan dan empek-empek terletak pada bentuk dan kuahnya. Celimpungan berbentuk bulat dengan diameter 10 cm dan tipis (pipih). Kuahnya terbuat dari santan dan racikan bumbu-bumbu lainnya. Celimpungan dimakan bersama sambal gorengnya

avatar
Meta Indriyani Kurniasari