Bagi masyarakat indonesia makanan yang sering disebut dengan dadar guling sudah sangat terkenal. Makanan ini bisa ditemukan bukan hanya di dumai saja namun ternyata makanan ini merupakan makanan khas dumai. Isian dari dadar guling adalah kelapa manis yang dibungkus dengan kulit yang lembut. Jika dilihat memang terlihat seperti lumpia atau kue lemper namun rasanya bukan gurih melainkan rasa manis yang menggugah selera. Dadar gulung bisa dinikmati bersama dengan makanan lainnya sambil minum teh atau kopi sambil bersantai. Sumber : https://makananoleholeh.com/makanan-khas-dumai/
Makanan lainnya yang juga bisa anda jumpai di dumai adalah gulai asam kuning. Banyak makanan dari wilayah riau yang memiliki rasa asam yang gurih. Gulai asam kuning ini biasanya terbuat dari bahan daging ayam atau bahkan ikan. Banyak sekali masyarakat yang telah membuat variasi masakan ini sehingga isiannya bisa berbeda-beda. Namun jika anda ingin mencoba rasa gulai yang otentik bisa mendapatkannya dengan datang ke rumah makan yang menjual makanan khas dumai terutama rumah makan tradisional. Sumber : https://makananoleholeh.com/makanan-khas-dumai/
Jika anda ingin menikmati makanan yang segar dari kota dumai maka minuman yang sering disebut dengan es samudra ini bisa menjadi pilihan yang wajib anda coba. Namanya es samudra karena menawarkan kelegaan dan kesegaran yang tiada tara. Minuman ini terbuat dari bahan dari pandan yang kemudian dicampur dengan durian. Minuman ini akan semakin melengkapi kenikmatan saat anda menikmati makanan khas dumai. Lihat juga makanan khas palu Setelah mengetahui mengenai 10 makanan khas dumai, selanjutnya anda bisa berpetualang untuk menemukan makanan tersebut satu persatu. Makanan khas dumai memang kebanyakan memiliki rasa yang gurih dan pedas. Makanan khas dari dumai akan menggoyang lidah karena kaya akan rempah dan juga begitu pas dilidah masyarakat indonesia. Menikmati makanan khas dari suatu daerah memang akan lebih nikmat jika datang langsung ke tempat asalnya. Sumber : https://makananoleholeh.com/makanan-khas-dumai/
Kecamatan Sungai Apit merupakan daerah penghasil nanas di Kabupaten Siak. Selain untuk dijual, nanas kerap dijadikan sebagai oleh-oleh khas daerah bagi pendatang yang berkunjung ke Sungai Apit. Namun penyajian nanas yang sudah biasa sebagai oleh-oleh khas daerah membuat masyarakat menciptakan inovasi baru dalam penyajiannya. Selai nanas, sirup nanas, asinan nanas, dodol nanas, kue nastar dan manisan nanas merupakan beberapa contoh produk yang dihasilkan dalam olahan nanas. Olahan ini cukup diminati oleh pendatang yang berkunjung ke Sungai Apit. Bahkan produk-produk olahan dari nanas ini dapat mendatangkan keuntungan yang menjanjikan bagi pelaku industri rumah tangga yang ada di Sungai Apit. Baik itu buah nanas ataupun olahannya menjadi identitas yang kuat bagi Kecamatan Sungai Apit. Diharapkan dengan kepedulian kita terhadap oleh-oleh khas daerah ini mampu menjaga keberadaannya (bahkan dikembangkan), menarik wisatawan yang tentunya membuat Kecamatan Sungai Apit semakin dikenal,...
Lampu colok merupakan sebuah tradisi masyarakat Bengkalis turun temurun. Lampu colok ini biasanya dipasang serentak tiap-tiap 27 Ramadan atau sering disebut malam 7 likur jelang hari raya Idul Fitri. Lampu colok memiliki arti tersendiri bagi warga Bengkalis. Dahulunya, lampu colok merupakan sarana penerang jalan bagi warga yang ingin membayar Fitrah tiap malam 27 Ramadan ke rumah masyarakat atau Pak Lebai. Kala itu, infrastruktur di Bengkalis tidak sepesat saat ini. Jalan-jalan masih berbentuk lorong diselimuti semak kiri kanan. Lampu coloklah penerang jalan, penghindar bahaya terhadap warga membayar zakat fitrah. Lampu Colok, ketika itu tidak berbentuk atau terbuat dari kaleng bekas. Colok terbuat dari bambu atau buluh, namanya waktu itu disebut dengan obor. Kemajuan Tradisi Colok saat ini sudah sangat luar biasa. Apalagi, Pemerintah Kabupaten Bengkalis setiap tahunnya menggelar Festival Colok agar pelestarian lampu tetap terjaga. Lampu col...
Seri Monografi Komunitas Adat yang membahas tentang suku Akit di Pulau Rupat, Provinsi Riau ini merupakan salah satu upaya untuk menginventarisasi berbagai macam komunitas adat yang terdapat di Indonesia. Penginventarisasian komunitas adat yang dilakukan sekarang ini sifatnya masih dalam tahap-tahap awal, artinya ada upaya yang dilakukan untuk lebih melhat secara lebih mendalam tentang keberadaan komunitas adat tersebut dan disusun dalam bentuk mononografi. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7746/
Hidangan dari Selatpanjang, Meranti, Riau, ini sudah mulai jarang ditemukan, kecuali di meja makan keluarga masyarakat Riau. Awalnya, mi dibuat dari batang pohon sagu yang dikeringkan dan ditumbuk hingga halus. Bahan: Mi sagu: 750 ml air panas 150 g tepung sagu 225 g tepung beras 2 sdm air kapur sirih Isi: 1 sdm minyak sayur 3 butir bawang merah, iris halus 2 siung bawang putih, cincang 2 sdm ikan teri goreng 50 g wortel, potong bentuk korek api 100 g kol, cincang kasar 2 buah cabai rawit merah, iris tipis 2 sdm kecap manis 1 sdm kecap ikan ½ sdt garam ¼ sdt merica putih bubuk ¼ sdt gula pasir 50 g taoge 3 tangkai kucai, cincang halus Taburan: Bawang merah goreng Cara Membuat: 1. Mi sagu: Aduk rata semua bahan. Saat panasnya berkurang, uleni adonan hingga tidak lengket di tangan. 2. Potong adonan menggunakan alat penggiling pasta, taburi t...
Tanjak melayu, topi khas adat Melayu Siak, Riau. Dulunya, topi ini dipakai para bangsawan dan raja-raja Melayu, tapi saat ini telah dipakai pula oleh masyarakat. Alat dan bahan yang digunakan untuk buat tanjak adalah jarum, gunting, setrika, kain songket, benang, dan kain pelapis. Prosesnya dimulai dari menggunting kain songket menjadi bentuk segitiga, lalu kain pelapis juga digunting sesuai dengan bentuk kain songket yang telah digunting. Setelah itu, kain pelapis yang diletakkan di atas kain songket disetrika. Langkah selanjutnya, kain yang telah disatukan mulai dilipat sesuai dengan lipatan tanjak. Langkah ini harus dilakukan dengan teliti agar tanjak yang dihasilkan dapat rapi. Langkah terakhir, tanjak dijahit. Proses jahitan ini bisa dilakukan menggunakan tangan atau dibantu mesin jahit tergantung dengan ketebalan tanjak.
Kompang ialah sejenis alat muzik tradisional yang paling popular bagi masyarakat Melayu, termasuk Natuna. Ia tergolong dalam kumpulan alat muzik gendang. Kulit kompang biasanya diperbuat daripada kulit kambing betina, namun mutakhir ini, kulitnya juga diperbuat dari kulit lembu, kerbau malah getah sintetik. Pada kebiasaannya, seurat rotan akan diselit dari bahagian belakang antara kulit dan bingkai kayu bertujuan menegangkan permukaan kompang, bertujuan menguatkan bunyi kompang. Kini, gelung plastik turut digunakan. Terdapat dua bahagian kompang iaitu bahagian muka (ada kulit) dipanggil belulang. Manakala, bahagian badan (kayu) dipanggil baluh. Kompang perlu diletakkan penegang atau dipanggil sedak iaitu sejenis rotan yang diletakkan antara belulang dan baluh, sedak ini diletakkan bertujuan untuk menegangkan bahagian belulang dan menyedapkan bunyi kompang apabila dipalu. Alat muzik ini berasal dari dunia Arab dan dipercayai dibawa masuk ke Tanah Melayu sama ada ketika zaman Kesu...