Kandik adalah senjata tradisional Bali berupa sebilah kapak. Sesuai dengan bentuknya, senjata kandik ini juga digunakan oleh para pria untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, seperti halnya membelah kayu, menebang pohon, atau pekerjaan lainnya. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Caluk ialah senjata tradisional berupa sebilah pisau lengkung dengan bagian pegangan atau gagangnya yang panjang. Gagang panjang pada senjata Caluk ini berguna untuk menjangkau daerah yang jauh dan juga tinggi, seperti halnya disaat hendak memotong ranting, memanen buah, dan lain sebagainya. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Penampad adalah Senjata Tradisional di Bali yang berbentuk seperti pisau panjang semacam pedang dan sering digunakan untuk membersihkan rumput pada pematang sawah. Semoga senjata tradisional pada gambar diatas masih ada dan terus akan ada. Wisata sejarah harus juga digalakan di Bali. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Trisula atau serampang (Sanskerta: trishul) adalah tombak bermata tiga yang secara harfiah berarti tiga tombak. Trisula adalah senjata Siwa, salah satu dari Trimurti yang sering disembah pada masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha di Jawa dan Bali. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Masih dengan upacara kematian, bali juga memiliki tradisi unik untuk menguburkan mayat orang yang telah meninggal. Tradisi ini dikenal di Desa Trunyan. Mayat orang yang telah mati hanya akan digeletakkan di sekitar pohon yang ada di hutan di dekat Desa Trunyan. Pohonnya pun pukan pohon biasa / sembarangan. Melainkan pepohonan taru dan menyan yang mampu mengeluarkan enzim dan bau wangi. Hal tersebut dimaksudkan agar bau busuk dari mayat tidak akan menguar. Dengan pohon taru dan menyan, mayat malah menjadi wangi. sumber :https://ilmuseni.com/seni-budaya/contoh-budaya-daerah
stilah lain untuk menyebut upacara Perang Pandan adalah Mekare-Kare. Pada upacara ini orang akan terlibat saling menghantamkan daun pandan berduri untuk dipersembahkan pada Dewa Indra. Namun jangan khawatir. Meski saling menghantam dengan pandan berduri sekalipun, para pelaku tidak akan merasakan kesakitan. Beradarah dan lecet pada kulit mereka tidak akan terasa sakit dan setelahnya akan diobati serta disucikan oleh para pemangku adat. sumber : https://ilmuseni.com/seni-budaya/contoh-budaya-daerah
Dalam sejarahnya, Denpasar adalah sebuah taman. Namun taman tersebut tidak seperti taman pada umumnya, karena merupakan taman kesayangan dari Raja badung pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya. Pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini menjadi Pasar Satria. Taman ini unik, karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam. Hobi Kyai Jambe Ksatrya adalah bermain adu ayam, oleh karena itu tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk bermain adu ayam di taman tersebut. “Jika dibandingkan dengan sekarang, taman tersebut semacam villa persitirahatan”, ujar AA Ngurah Putra Darmanuraga, penekun sejarah sekaligus tokoh di Puri Pemecutan. Nama denpasar sendiri terdiri dari dua kata yaitu “den” yang berarti utara dan “pasar” yang berarti pasar. Nama ini diberikan pada taman tersebut mengingat lokasinya yang terletak di utara pasar. Kini taman tersebut menjadi Jaya Sabha, rumah jabat...
Pada sebuah desa di Bali, hiduplah dua orang anak yang bernama Bawang dan Kesuna. Keduanya masih memiliki orang tua yang lengkap, ayahnya seorang petani dan ibunya menjaga kedua anaknya di rumah. Pada suatu hari, Ibunya pergi ke pasar cukup lama, seperti biasa ayahnya menggarap sawah. Mereka membagi pekerjaan rumah untuk memasak nasi, dll. Kesuana yang baik hati, meminta Bawang untuk menumbuk padi, karena dia mau mengerjakan yang lain. “Maaf Kesuna, kamu yang menumbuk, nanti aku yang mengayak,” begitu ucapan Bawang. Akhirnya Kesuna yang sering mengalah, diapun mulai menumbuk padi. Selepas itu, Kesuna kembali meminta Bawang menepati janjinya mengayak padi yang sudah menjadi beras, “Bawang, ini…” Sebelum Kesuna berbicara, bawang memotong ucapannya itu, “Kesuna, kamu ayak saja, biar aku yang memasak” Kesuna yang sabar terus diuji, dia pun mengayak. Setelah it...
Sebuah makam di kompleks pemakaman Puri Agung atau Kerajaan Pemecutan, Denpasar Barat, Bali, selalu kebanjiran peziarah, terlebih menjelang bulan puasa seperti saat ini. Makam itu dikeramatkan oleh umat Hindu dan juga umat Muslim. Ternyata, di balik makam itu tersimpan kisah yang menggetarkan dari seorang putri raja. Syahdan, Raja Pemecutan Denpasar memiliki seorang putri cantik yang amat disayanginya. Putri Raja Pemecutan itu bernama Gusti Ayu Made Rai. Kecantikannya tersohor seantero Bali. Tak sedikit pangeran dari kerajaan lain yang ingin mempersunting sang putri. Saat beranjak remaja, musibah menimpa Gusti Ayu Made Rai. Ia terkena penyakit kuning (liver). Bertahun-tahun penyakit itu tak dapat disembuhkan meski sejumlah balian (dukun) telah dipanggil untuk mengobati putri kesayangan raja. Kemudian, ayah sang putri mahkota bertapa semedi demi meminta petunjuk Tuhan YME untuk kesembuhan putrinya. "Ayah Gusti Ayu Made Rai mendapat pawisik (bisik...