Di teras Lantai II gedung Museum Bank Indonesia terdapat prasasti yang berwarna merah keabu-abuan dengan tulisan yang berwarna emas. Prasasti ini dibuat pada saat dilakukan renovasi gedung De Javasche Bank pada tahun 1922. Tulisan di dalam prasasti ini menggunakan bahasa Latin, yang saat itu lazim digunakan sebagai bahasa ilmiah di Eropa. Tulisan yang ada di dalam prasasti adalah sebagai berikut: SEDULLA PROPELLIT COLUMENQUE PECUSQUE MINISTRAT ARGENT ARIA DUX AR TIBUS ATQUE COMES Yang artinya: “Bank yang aktif mendirikan tiang-tiang dan menjunjung seni hias menjadi pelopor dan pendukung kesenian”. Berdasarkan arti tulisan itu dapat disimpulkan bahwa pada waktu itu, De Javasche Bank sangat menjunjung tinggi keindahan dalam membangun gedung kantornya. Gedung yang dibangun De Javasche Bank pada waktu itu memang sangat menonjolkan kekayaan elemen dan orname...
Si Angkri adalah seorang pendekar silat yang sakti tapi sombong dari Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dengan kesaktian yang dimiliki, ia selalu bertindak semena-mena. Tak seorang pun penduduk sekitar yang berani melawan, apalagi menghentikan kesewenangannya. Suatu malam, ia bersama dua orang pembantunya mencuri barang-barang pecah belah dan kain sutra di gudang milik seorang opsinder (pengawas) yang bernama Bloomekomp. Saat mengetahui perbuatan Angkri dan anak buahnya tersebut, opsinder Bloomekomp meminta bantuan kepada kepala opas (agen polisi) dan bek (kepala kampung) untuk menangkap Angkri dan anak buahnya. Dahulu pada masa kolonial Belanda berkuasa di Bumi Pertiwi Indonesia, di pelabuhan Batavia Lama atau kini dikenal dengan pelabuhan Tanjung Priok merupakan salah satu pusat keramaian di daerah Jakarta Utara. Setiap hari kapal-kapal pedagang dari dalam maupun luar daerah silih berganti berlabuh di pelabuhan tersebut untuk melakukan bongkar muat berbagai jenis barang daga...
Kampung Condet yang menjadi Kelurahan Balekambang dan Kampung Gedong yang menjadi Kelurahan Batuampar, sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, ternyata menyimpan sebuah legenda, dimana kedua wilayah kelurahan tersebut masih menjadi satu wilayah dengan nama CONDET. Dahulu, Condet adalah milik rakyat. Namun, sejak penjajah masuk ke wilayah Betawi, daerah Condet dan sekitarnya dikuasai oleh seorang tentara Belanda yang bernama Jan Ament. Ia adalah seorang yang suka bertindak sewenang-wenang, sehingga wilayah Condet menjadi terbagi dua. Oleh karena itu, masyarakat Condet pun melakukan perlawanan terhadap Jan Ament. Pada pertengahan abad ke-18 M., di tanah Betawi ada seorang pangeran yang kaya-raya bernama Pangeran Geger. Masyarakat sekitar lebih akrab memanggilnya dengan nama Pangeran Codet karena terdapat bekas luka di dahinya. Wilayah kekuasaan sang pangeran meliputi daerah yang kini dikenal sebagai wilayah Co...
Si Pitung adalah salah satu pendekar Betawi berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Selain itu Si Pitung menggambarkan sosok pendekar yang suka membela kebenaran dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu. Kisah pendekar Si Pitung ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama yang dibangun oleh si Pitung, di Jakarta Utara. Si Pitung lahir di daerah Pengumben, di sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bang Piung dan ibunya bernama Mpok Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin, seorang pedagang kambing. Si Pitung merupakan nama panggilan asal kata dari bahasa Sunda pitulung (minta tolong atau penolong). Kemudian, nama panggilan ini menjadi Pitung. Nama asli si Pitung sendiri adalah Salihun (Salih...
Kue Ini Memiliki Rasa Legit Campuran Antara Manis dan Asin Makanan Tradisional Indonesia terutama makanan untuk kudapan atau camilan, umumnya terbuat dari bahan yang sederhana, bahan yang mudah ditemukan sehari-hari dan kombinasi bahan juga tidak banyak. Kue Rangi merupakan salah satu jajanan tradisional Betawi yang cukup di gemari di indonesia. Kue Rangi tergolong jajanan yang langka di jumpai. Selain di Pasar Jatinegara anda juga bisa datang ke kawasan Pasar Mayestik , Kota, di daerah tersebut masih ada segelintir penjual Kue Rangi yang masih setia menjajakan makanan renyah ini. Kue Rangi saat ini tidak begitu populer, namun di era tahun 80-an kue ini banyak digemari. Sebagian orang yang menyebutnya dengan nama Sagu Rangi . Sagu Rangi disebut karena bahan dasar pembuatannya kue ini adalah dari sagu. Bentuknya mirip Kue Pancong atau Bandros, namun ukurannya...
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.
Lokasi Patung Pembebasan Irian Barat Jakarta berada di tengah-tengah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menghadap ke arah Barat Laut. Patung ini dibuat saat bangsa Indonesia tengah berjuang untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda pada 1962.
Ketan Urap merupakan kudapan khas Betawi yang biasa dijual bersama gorengan pisang, tahu isi dan bakwan di warung-warung jajanan khas Betawi. Bahan-bahan: 1 kg beras ketan kualitas baik, cuci, tiriskan 600 ml air 1,5 sendok teh garam 300 gram kelapa yang muda, parut kasar Cara membuat: Campur beras ketan dengan air dan 1 sdt garam. Masak hingga setengah matang dan air menyusut terserap (diaron) Pindahkan aronan ke dalam dandang kukus hingga matang. Sementara itu, campur kelapa parut dengan setengah sendok teh garam. Tempatkan dalam wadah tahan panas, kukus hingga matang. Angkat. Ambil 2 sdm ketan, bentuk bulat dengan garis tengah 6 cm dan tebal 2 cm. Ulangi hal yang sama untuk sisa adonan. Gulingkan bulatan ketan di atas kelapa parut. Sajikan dengan sambal kacang (jika suka). Sumber: Buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita oleh Akademi Kuliner Indonesia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016....
Monumen Selamat Datang adalah sebuah monumen yang terletak di tengah Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Indonesia. Monumen ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan. Patung tersebut menghadap ke utara yang berarti mereka menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional.