Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat DKI Jakarta Jakarta
PANGERAN CODET Asal Mula Nama Kampung Condet Dan Kampung Gedong
- 18 Juli 2018

Kampung Condet yang menjadi Kelurahan Balekambang dan Kampung Gedong yang menjadi Kelurahan Batuampar, sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, ternyata menyimpan sebuah legenda, dimana kedua wilayah kelurahan tersebut masih menjadi satu wilayah dengan nama CONDET.
Dahulu, Condet adalah milik rakyat. Namun, sejak penjajah masuk ke wilayah Betawi, daerah Condet
dan sekitarnya dikuasai oleh seorang tentara Belanda yang bernama Jan Ament. Ia adalah seorang
yang suka bertindak sewenang-wenang, sehingga wilayah Condet menjadi terbagi dua.
Oleh karena itu, masyarakat Condet pun melakukan perlawanan terhadap Jan Ament.

Pada pertengahan abad ke-18 M., di tanah Betawi ada seorang pangeran yang kaya-raya bernama Pangeran Geger. Masyarakat sekitar lebih akrab memanggilnya dengan nama Pangeran Codet karena terdapat bekas luka di dahinya. 
 
Wilayah kekuasaan sang pangeran meliputi daerah yang kini dikenal sebagai wilayah Codet di Jakarta Timur. Pangeran Codet memiliki istri bernama Polong dan lima orang anak. Salah satunya adalah Maemunahyang memiliki paras yang cantik nan rupawan. Tidak mengherankan jika banyak bangsawan yang datang melamarnya.
 
Suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa bernama Astawana hendak melamar Maemunah. Astawana berasal dari Makassar (Sulawesi Selatan), tapi ia sudah cukup lama tinggal di Betawi, tepatnya di sebelah timur Condet. Astawana terkenal memiliki kesaktian yang tinggi dan baik hati. Saat sampai di depan rumah Pangeran Codet, Astawana memberi salam.
Nama ASTANAWA di abadikan menjadi nama sebuah gang di kelurahan Batuampar “Gang Astanawa”
“Assalamu’alaikum!” ucap pemuda itu dengan suara pelan.
Belum ada jawaban dari pemilik rumah. Salamnya baru mendapat jawaban setelah ia mengucapkan salam yang ketiga kalinya dengan suara agak keras.
“Waalaikum salam...!” terdengar suara wanita dari dalam rumah menjawab salamnya.
Beberapa saat kemudian, tampaklah seorang gadis cantik berjalan dari dalam rumah. Gadis yang tidak lain adalah Maemunah itu segera mempersilakan Astawana duduk di kursi yang ada di teras rumah. Teras rumah merupakan ruang tamu bagi rumah masyarakat Betawi.
“Silakan duduk, Bang!” ujar Maemunah.
Setelah itu, Maemunah segera masuk ke dalam untuk memanggil kedua orangtuanya. Tak berapa lama kemudian, Pangeran Codet bersama istrinya pun datang menemui Astawana.
  • “Maaf, Anak Muda. Anda siapa dan apa maksud kedatangan Anda ke mari?” tanya Pangeran Codet.
  • “Nama saya Astawana. Kedatangan saya kemari untuk melamar putri Tuan yang bernama Maemunah,” ungkap Astawana.
Mendengar nama pemuda itu, Pangeran Codet dan istrinya tersentak kaget. Nama itu tidak asing lagi bagi mereka.
  • “Pangeran Astawana yang terkenal sakti itu bukan?” tanya istri Pangeran Codet.
  • “I... Iya, Tuan!” jawab Astawana sedikit gugup, “Kebetulan saja orang-orang di daerah ini banyak yang mengenal saya.”
Begitulah sifat Astawana. Meskipun memiliki kesaktian yang tinggi, ia selalu merendahkan. Hal itulah yang membuat Pangeran Codet dan istrinya terpikat untuk menjadikannya menantu. Tapi, semua itu tergantung pada Maemunah. Mereka tidak bisa memutuskan atas kemauan mereka sendiri tanpa persetujuan dari putri mereka. Ketika Maemunah datang membawa minuman, sang Ayah pun menyampaikan maksud kedatangan Astawana.
  • “Putriku, duduklah sebentar,” kata Pangeran Codet, 
  • “Ayah ingin memperkenalkamu dengan pangeran muda ini. 
  • Apakah kamu pernah mengenalnya?”
Maemunah tersenyum sambil tertunduk malu dan kemudian menjawab bahwa ia hanya sering mendengar nama itu, tapi belum pernah bertemu secara langsung.
  • Aye hanya mengenal namanya, Be,” jawab Maemunah singkat.
  • “Ketahuilah, kedatangan Astawan kemari ingin melamarmu. Bagaimana pendapatmu, Putriku?”
Aye, adalah sebutan untuk kata “Saya”
Be, adalah panggilan singkat dari kata “Babe” untuk kata “Bapak”
 
Maemunah tidak langsung menjawab dan termenung sejenak. Setelah berpikir bahwa Astawana adalah seorang yang sakti mandraguna, maka ia pun menjawab dengan mengajukan sebuah persyaratan kepada pemuda sakti itu.
  • “Iya, lamaran aye terima jika Abang mampu membuatkan dua rumah di dua tempat yang berbeda dalam waktu semalam,” pinta Maemunah, 
  • ”Dua rumah itulah sebagai mas kawinnya.”
Mendengar permintaan itu, Astawana tidak perlu berpikir panjang. Ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan kesaktian yang dimilikinya.
“Baiklah, saya menyanggupi persyaratan itu,” jawab Astawana dengan penuh keyakinan.
Ketika hari mulai gelap, pemuda asal Makassar itu segera berdoa untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Berkat doa dan dan kesaktiannya, ia pun berhasil mewujudkan pemintaan Maemunah.
 
Dua rumah tersebut kemudian disebut sebagai Batuampar (Wilayah kampung Gedong) dan Balekambang (Wilayah kampung Condet)  di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
 
PANGERAN%2BCODET%2B-%2BAsal%2BMula%2BNama%2BKampung%2BCondet%2BDan%2BKampung%2BGedong-2.png
 
Permintaan Maemunah telah dipenuhi oleh Astawana. Perkawinan mereka pun dilangsung dengan meriah. Tamu undangan dari berbagai penjuru memadati kediaman Pangeran Codet. Kemeriahan pesta itu semakin terlihat ketika gambang kromong mulai dipentaskan. Alunan musik khas Betawi itu pun terdengar merdu menghibur para tamu undangan. Kedua mempelai yang duduk bersanding di kursi pelaminan tampak tersenyum bahagia menikmati kemeriahan pesta.  Demikian pula Pangeran Codet dan istrinya turut bersuka-cita atas pernikahan putrinya.
 
Selang beberapa waktu setelah pernikahan putrinya, Pangeran Codet meninggal dunia karena sakit. Seluruh harta kekayaannya, termasuk tanah dan kekuasaannya diwarisi oleh Maemunah. Sejak itulah, istri Astawana itu menjadi penguasa di wilayah itu menggantikan kedudukan ayahnya. 
 
Untuk menghormati sang Ayah, Maemunah menyebut daerah kekuasaannya sebagai wilayah Codet yang lama-kelamaan diucapkan dengan nama Condet.
 
Maemunah adalah sosok yang adil dan bijaksana. Atas kepemimpinannya, masyarakat di sekitarnya pun senantiasa hidup damai dan tenteram. 
 
Namun, beberapa tahun kemudian, kedamaian Condet terusik oleh kedatangan kompeni Belanda ke wilayah Betawi. Kaum penjajah itu mulai merampas tanah milik penduduk secara paksa. Jika ada penduduk yang melawan, mereka tidak segan-segan menganiaya, bahkan membunuh.
 
Salah seorang Belanda yang tinggal di sekitar Condet adalah Jan Ament. Ia terkenal kejam dan serakah. Meskipun telah memiliki tanah yang luas dari hasil rampasan, ia tetap tidak merasa puas. Ia ingin menjadi tuan tanah paling kaya dan menguasai wilayah Condet. Mengetahui Maemunah memiliki tanah yang luas, Jan Ament pun ingin merampasnya.
 
Suatu hari, Jan Ament bersama antek-anteknya mendatangi rumah Maemunah. Dengan sebilah pedang panjang terselip di pinggang, Jan Ament berseru di depan rumah Maemunah.
“Hai, perempuan pribumi, cepat keluar! Kalau tidak, aku akan masuk memaksamu ke keluar!” teriaknya sambil berkacak pinggang.
Maemunah yang mendengar teriakan itu segera keluar bersama suaminya. Dengan tenang, putri almarhum Pangeran Codet itu menyapa Jam Ament dengan ramah.
  • “Maaf, Tuan! Barangkali ada sesuatu yang bisa aye bantu?” tanya Maemunah.
  • “Aku ke sini untuk meminta seluruh tanah milikmu. Cepat serahkan semua surat-surat tanahmu kepadaku! Kalau tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya. Pedang panjangku ini akan menebas lehermu,” ancam Jan Ament.
Astawana yang berdiri di samping istrinya angkat bicara karena tidak tahan lagi melihat sikap Jan Ament.
“Hai, Belanda pengecut! Beraninya sama perempuan saja. Lawan aku jika kamu berani!” tantang Astawana seraya melompat ke hadapan Jan Ament.
Jan Ament tersentak kaget dan mundur beberapa langkah. Ketika ia hendak mengunus pedangnya, tiba-tiba sebuah tendangan keras melayang menghantam dadanya. Tentara Belanda itu pun terpental ke belakang dan terjatuh ke tanah. Melihat tuannya tidak berdaya, antek-antek Jan Ament hendak membantu. Namun, Jan Ament mencegah dan mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.
“Ayo kita pergi dari sini!” ujar Jan Ament sambil memegang dadanya yang terkena tendangan Astwana. 
Sebelum meninggalkan halaman rumah Maemunah, Jan Ament mengancam akan kembali dengan jumlah orang yang lebih banyak.
 
Beberapa hari kemudian, Jan Ament kembali mendatangi rumah Maemunah untuk menantang Astawana. Namun, ia tetap tidak mampu mengalahkan suami Maemunah yang sakti itu. Menurut cerita, Jan Ament baru berhasil merebut tanah Maemunah setelah menggunakan akal licik. Ia mengirim seorang anteknya untuk mengetahui kelemahan Astawana. Alhasil, usaha tersebut berhasil sehingga suami Maemunah itu dapat dikalahkan. 
 
Sejak itulah, Jan Ament menjadi penguasa di Condet dan dilanjutkan oleh anak cucunya. Keturunan Jan Ament yang menjadi tuan tanah tinggal di rumah besar di Kampung Gedong. Mereka membuat aturan yang memberatkan rakyat Condet dengan mewajibkan membayar sewa tanah setahun sekali. Selain itu, para petani diwajibkan melakukan kompenian, yaitu kerja bakti tanpa diberi upah untuk kepentingan tuan tanah.
 
Semakin hari, kesewenang-wenangan kompeni Belanda terhadap rakyat Condet semakin menjadi-jadi. Jika ada warga yang tidak mampu membayar sewa tanah, mereka tidak segan-segan merampas dan menyita barang-barang atau pun rumah warga itu. Tapi, jika mendapat rumah sitaan yang rusak, mereka langsung membakarnya.
 
Kesewenang-wenangan itu membuat rakyat Condet resah. Oleh karena itu, pada tahun 1916 M., rakyat Condet yang dipimpin oleh Entong Gendut bersepakat untuk melakukan perlawanan. Entong Gendut adalah seorang pendekar silat dari Batu Ampar yang juga bagian dari wilayah Kampung Condet. Ia dibantu oleh Astawana yang sudah kalah dan direbut tanahnya sebagian oleh Jan Ament, dan dua orang pendekar sakti lainnya bernama Modin dan Maliki yang keduanya juga berasal dari Batu Ampar.
 
PANGERAN%2BCODET%2B-%2BAsal%2BMula%2BNama%2BKampung%2BCondet%2BDan%2BKampung%2BGedong-2.jpg
Entong Gendut bersama kawan-kawannya mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mereka melatih warga belajar ilmu silat. Setelah anggotanya mencapai ratusan orang, perkumpulan silat yang dipimpin oleh Entong Gendut itu pun mulai melakukan perlawanan. Mereka dipersenjatai dengan golok, tombak, keris, dan panah. Sementara itu, kompeni Belanda dilengkapi dengan senjata api dan senapan.
 
Saat pertempuran sedang berlangsung, anak buah Entong Gendut banyak yang tewas tertembus peluru. Tidak sedikit pula anggota pasukan kompeni Belanda yang tewas, terluka terkena bacok, atau tertembus anak panah. Dalam pertempuran itu, rakyat Condet akhirnya kalah setelah tentara Belanda mendapat bantuan sekompi pasukan. Entong Gendut dan Astanawa pun tewas karena dadanya tertembus peluru. Sementara itu, para pengikutnya termasuk Modin dan Maliki ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Tanah di wilayah Condet baru kembali menjadi milik rakyat setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, di mana hak-hak Jan Ament dan keturunannya dihapuskan, dan sampai saat ini Kampung Condet di Kelurahan Balekambang (BARAT) dan Kampung Gedong di Kelurahan Batuampar (TIMUR) dipisahkan wilayahnya oleh Jalan Raya Condet.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/09/pangeran-codet-asal-mula-nama-kampung.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker