Teks membagahs tatacara pakaulan yang berlaku di kampung kampungdalam keraton Surakarta. Dilengkapi contoh dengan suatu cerita yang jelas. Naskah dilengkapi dengan ringkasan yang dibuat pada jaman Panti Boedja oleh R. Tanojo sebanyak 1 halam ketikan. Teks ini ditulis/digubah oleh Ki Hajar Panitra, Panumping, Surakarat, tahun 1853 (1922). Pemrakarasa penyalinan tidak disebutkan didalam teks, tetapi melihat kertas yang digunakan rupanya masih semasa dengan penulisnya. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1655
Menceritakan kehidupan sepasang burung kemladeyan, dari mencari makan, membuat sarang,sengsara, bertelur, mengerami telurnya, menetas, mencari bahan makanan untuk persediaan hidup kluwarganya pada masa yang akan datang, persahabatan yang akrab dengan burung yang lain, dsb. Cerita ini semula berbentuk lisan dan diceritakan oleh seorang “ juru gotek ing jaman kina “ yang bernama Kaki Asmarandanm. Cerita kemudian dibangun oleh Ki Hajar Panitra, diklaten tahun 1930. Naskah ini dibeli oleh Panti Boedja dari Raden Mas Mangunprawira, juga di Klaten Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1650
Kisah sejarah tertumpasnya pemberontakan Ki Ageng Mangir Wanabaya terhadap panembahan senopati di Mataram. Naskah ini telah dibuat transliterasi oleh Yacobus Mulyadi, BA, Pada september 1982 (MSB/S55a). Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1572#prettyPhoto
Lakon wayang madya disadur dalam bentuk tembang macapat, Ceritera Prabu Meru Supadma, raja dinegri para ditya, yang melamar Dyah Pramesti. Setelah ditolak, maka terjadi peperangan antara Merusupadma dari Ngima-imantaka dengan Kediri/Malang, Meru Supadma dikalahkan oleh Anging Darma dari Malwapati. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1622#prettyPhoto
Naskah ini berisi piwulang tentang kesulitan hidup seseorang karena 9 macam prilaku yang kesemuanya itu mulai dengan huruf “m”, yaitu : meneng, mantu, mangan, minum, madat, madon, main, maling dan mati. Naskah sejenis dengan teks ini ialah MSB/P205, yaitu serat Manising Min. Bandingkan juga serat Ma- Lima dari kraton Surakarta, SMP/KS-387 Naskah tidak dilengkapi dengan kolofon atau informasi tekstuil lain mengenai asalmulanya. Namun melihat kertas yang digunakan,maka dapat diperkirakan bahwa naskah disalin sekitar awal abad ke-20. Nama penyalin dan tepat tidak diketahui. Pada h.18 naskah terdapat catatan berbunyi “Mas Ngabei Dutapanukma, Gandekan Kiwa.” Barangkali Dutapanukma itu pernah memiliki naskah ini. Gandekan Kiwa adalah nama kampung di Surakarta. Pada halaman yang sama terdapat catatan lagi, ialah sebuah surat kepada ‘’Mas Lurah Jayamesa’’, menerangkan bahwa yang menulis surat (namanya tidak disebutkan) terpaksa p...
Buki ini melaporkan tentang R.T. Sastradiningrat, bupati carik dari Surakarta, yang memerintahkan kepada M.Ng. Jayapranata supaya mengadakan penelitian terhadap kali-kali yang kemungkinan dapat dibendung untuk pengairan sawan-ladang. Mulai h.68r sampai tamat ada beberapa catatan tambahan dari seseorang yang bernama Marsana, anak M. Jayataruna di timuran, Solo. Nama penyalin teks pokok ( h.1-67) tidak disebutkan,tetapi mungkin juga di Solo, pada awal abad ke-20. Menurut keterangan pada h. Xv, teks dikarang di Palur pada tahun 1838 (=1908). Pengarang bernama M.Ng. Jayapranata (yaitu sperti yang dijelaskan dalam jalan cerita teks sendiri), Yng menyusun laporan mengenai keadaan kali-kali di daerah Surakarta atas permintaan dari R.T. Sastradiningrat, abdidalem carik Kraton Surakarta. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1647
Serat Wedhatama adalah sebuah karya s astra Jawa Ba ru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam. Karya ini secara formal dinyatakan ditulis oleh K GPAA Mangkunegara IV . Walaupun demikian didapat indikasi bahwa penulisnya bukanlah satu orang. [1] Serat ini dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tem bang , yang biasa dipakai pada masa itu. Serat ini terdiri dari 100 pupuh ( b ait , canto ) tembang ma capat , yang dibagi dalam lima lagu, yaitu Pangkur (14 pupuh, I - XIV)) Sinom (18 pupuh, XV - XXXII) Pocung (15 pupuh, XXXIII - XLVII) Gambuh (35 pupuh, XLVIII - LXXXII) Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII - C) Isinya adalah merupakan falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, ba...
Di Bali ada sebuah adat yang unik bila ada penduduk desa melahirkan anak kembar yang berjenis kelamin pria dan wanita atau yang disebut oleh penduduk setempat sebagai kembar buncing. Dulu si orang tua dan bayi kembar buncing ini menurut adat di Bali harus di dipindahkan dari rumah asalnya ke sebuah rumah darurat diatas tanah Banjar Adat yang terletak 800 meter sebelum kuburan, dikarenakan menurut kepercayaan setempat bila yang bersangkutan menolak untuk dipindahkan maka semua penduduk desa akan mendapat kutukan atau memada-mada dari Ratu. Tidak itu saja, sang orang tua ini pun masih harus menjalani beberapa prosesi adat lainnya demi membendung murka dari sang ratu. Lantas prosesi seperti apa saja yang harus dilalui oleh orang tua sang bayi kembar buncing ini sebelum akhirnya diperbolehkan kembali kerumah miliknya. Kurang lebih inilah penjabaran singkatnya: Kedua orang tua beserta bayinya diharuskan untuk keluar dari rumahnya dan pindah ke ru...
Lomba Memaos atau membaca lontar yaitu lomba menceritakan hikayat kerajaan masa lampau, satu kelompok pepaos terdiri dari 3-4 orang, satu orang sebagai pembaca, satu orang sebagai pejangga dan satu orang sebagai pendukung vokal. Tujuan pembacaan cerita ini untuk mengetahui kebudayaan masa lampau, dan menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi penerus. Kesenian memaos ini diangkat kembali sebagai asset budaya daerah dan dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata khususnya wisata budaya. Sumber: http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2014/01/macam-macam-tradisi-dan-budaya-di-lombok.html