Gunung Tampomas terletak di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Dulunya Gunung Tampomas bernama Gunung Gede. Menurut cerita rakyat Jawa Barat , pada masa kerajaan Sumedang larang, Gunung Tampomas pernah mengeluarkan erupsi, dan untuk menghentikan erupsi tersebut, raja Sumedang Larang saat itu harus melemparkan keris emas ke dalam kawah Gunung Gede sehingga namanya diubah menjadi Gunung Tampomas. Berikut ini kisah lengkapnya: Dahulu kala berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja muda yang bijaksana. Kerajaan Sumedang Larang namanya. Kerajaan Sumedang Larang terletak di daerah Sumedang, Jawa Barat sekarang. Kerajaan Sumedang Larang memiliki alam yang subur dan makmur. Rakyat tidak pernah mengalami kelaparan. Rakyat hidup damai dan tentram di bawah pimpinan raja muda yang adil bijaksana. Di kerajaan Sumedang Larang berdiri sebuah gunung bernama Gunung Gede. Gunung tersebut memiliki hutan yang lebat, tanah yang subur dan air yang mengalir berlimpa...
Pada jaman dahulu hidup seseorang bernama Sunan Ibu di sebuah taman indah bernama Taman Sorga Loka. Saat itu Sunan Ibu tengah menunggu kedatangan Dewi Sri Pohaci Long Kancana. Setelah tiba, Dewi Sri Pohaci menceritakan kepada Sunan Ibu bahwa ada suatu tempat di bumi yang belum memiliki cihaya atau sesuatu kebutuhan hidup umat manusia. Tempat itu bernama Buana Panca Tengah. Dewi Sri Pohaci Pergi ke Negeri Buana Panca Tengah Setelah mendengar penuturan Dewi Sri Pohaci, Sunan Ibu lantas memberi perintah kepada Dewi Sri agar ia pergi ke negeri Buana Panca Tengah. Dewi Sri Pohaci menyanggupi tugas yang diberikan oleh Sunan Ibu, namun ia meminta agar kepergiannya ditemani oleh Eyang Prabu Guruminda. Sunan Ibu mengabulkan permintaan Dewi Sri Pohaci. Sunan Ibu kemudian memanggil Eyang Prabu Guruminda dan memerintahkannya agar menemani Dewi Sri Pohaci ke negeri Buana Panca Tengah. Sebelum pergi meninggalkan Taman Sorga Loka, Eyang Prabu Guruminda memin...
Secara harfiah, Rumah Adat Jawa Barat Tagog Anjing Togog Anjing berarti Anjing yang sedang duduk. Masyarakat Jawa Barat menyebut demikian karena memang bentuk rumah ini terlihat seperti anjing yang sedang duduk. Ini merupakan sejenis rumah panggung dengan pondasi yang tidak terlalu tinggi. Kayu menjulang dari bawah tanah seolah menopang rumah. Bagian atap terlihat menyatu dan membentuk segitiga. Rumah Togog Anjing biasanya berbentuk persegi panjang dengan tambahan atap di bagian teras yang disebut Sorondoy. Fungsi Sorondoy adalah sebagai peneduh teras dari terik matahari. Desain rumah Togog Anjing banyak digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Garut Sumber: https://adatindonesia.com/rumah-adat-jawa-barat/
Dalam bahasa Sunda, Imah atau Rumah Adat Jawa Barat Badak Heuay berarti rumah dengan bentuk Badak Menguap. Jika diperhatikan dari bagian depan, rumah ini memang menyerupai mulut badak yang sedang membuka. Bagian atap terdiri dari dua sisi bagian depan dengan ukuran kecil terlihat lebih pendek sedangkan atap bagian belakan lebih panjang dan merendah ke belakang. Masyarakat Sukabumi zaman dulu banyak yang menggunakan desain rumah adat Jawa Barat Imah Badak Heuay ini. Pada zaman dulu, rumah ini terbuat dari 100% kayu dengan atap dari genteng tanah liat. Sumber: https://adatindonesia.com/rumah-adat-jawa-barat/
Rumah Adat Jawa Barat Jolopong merupakan jenis rumah adat Jawa Barat yang paling populer di kalangan Suku Sunda secara umum. Dengan desain yang hemat material, kokoh, dan mudah dibuat membuat warga memilih desain rumah Jolopong sebagai desain rumah adat mereka. Desain ini bisa dilihat dengan ciri-ciri atap yang membentuk segitiga sama kaki yang merupakan hasil irisan dari 2 bagian atap yang disatukan di bagian ujung. Banyak orang juga menyebut desain rumah ini dengan istilah Suhunan. Model rumah Jolopong masih bisa kita lihat di wilayah Garut, tepatnya di kampung duku dan rumah kasepuhan. Sumber: https://adatindonesia.com/rumah-adat-jawa-barat/
Masyarakat Sunda memang kerap mengasosiasikan bentuk rumah adat Jawa Barat dengan benda tertentu. Jika sebelumnya ada Rumah Adat Jawa Barat Imah Badak Heuay dan Tagog Anjing, kini kita akan mengenal tentang Parahu Kureb yang berarti Perahu yang Terbalik. Sesuai dengan bayangan Anda, desain rumah tradisional Jawa Barat ini terlihat seperti perahu yang dibalik. Rumah Adat Jawa Barat Parahu Kureb memiliki bentuk trapesium dengan atap yang seperti perahu terbalik. Atap ini memiliki desain segitiga sama sisi untuk bagian kanan dan kiri, serta bagian depan dan belakang. Salah satu kekurangan desain rumah ini adalah atap yang sering bocor. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Ciamis dikenal senang untuk menggunakan desain rumah adat ini. Sumber: https://adatindonesia.com/rumah-adat-jawa-barat/
Satu lagi sebuah rumah khas orang Sunda yang patut dilestarikan. Nama Capit Gunting diberikan karena bentuk atap rumah terlihat seperti capit sebuah gunting. Desain rumah ini dicirikan dengan tambahan kayu pada ujung bagian atap yang sengaja dibiarkan lebih panjang sehingga membuat tanda X di pojokan. Dua tanda X biasanya berada di sisi kanan dan kiri rumah dengan ukuran yang sama. Tidak diketahui wilayah mana yang paling banyak mengadopsi desain rumah Imah Capit Gunting. Tapi satu hal yang pasti, masyarakat Jawa Barat pernah mempopulerkan desain rumah ini. Sumber: https://adatindonesia.com/rumah-adat-jawa-barat/
Tari Jaran Lumping (https://djangki.wordpress.com) Tari Jaran Lumping dahulu disebut juga Tari Jaran Bari dari kata Birahi atau Kasmaran, karena mengajarkan apa dan bagaimana seharusnya kita mencintai Allah dan Rasulnya. Oleh karena itu tarian Jaran Lumping digunakan sebagai alat dalam mengembangkan agama Islam. Yang menciptakan Jaran Lumping adalah Ki Jaga Naya dan Ki Ishak dari Dana Laya Kecamatan weru, Kabupaten Cirebon. Waditra yang digunakan yaitu bonang kecil, bonang Gede, panglima, Gendang, Tutukan, Gong, dan Kecrek. Sarana lainnya Damar Jodog, Sesajen, Pedupaan, Bara Api/Aran dan Jaran Lumping 5 buah yaitu Jaran Sembrani, Jaran Widusakti, Jaran Widujaya, Jaran Sekadiu. Busana penari menggunakan ikat wulung gundel meled, udeng merah, sumping kantil dan melati,selendang, rompi, celana sontok, kestagen atau bodong dan kain batik. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/07/tarian-tradisional-kabupaten-cirebon-jawa-barat/
Tari Tayuban (https://www.disparbud.jabarprov.go.id) Tari Tayuban konon lahir di lingkungan kraton dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem. Tayuban kemudian menyebar dan berkembang di masyarakat dengan pengaruh negatif baik datangnya dari luar maupun dari dalam. Waditra yang digunakan adalah laras pelog, gendang, bedug, saron, bonang dsb. Wiyaga berjumlah 15 orang. Busana Wiyaga bendo, baju taqwa, kain batik dan celana sontok. Busana Ronggeng kembang goyang, melati suren, sanggung bokor, cinatok, sangsangan, krestagen dan alat perhiasan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/07/tarian-tradisional-kabupaten-cirebon-jawa-barat/