Kudhi bagi masyarakat Banyumas adalah salah satu perkakas yang serba guna, selain juga sebagai senjata tajam yang digunakan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Dan sebagai sub budaya masyarakat Jawa, masyarakat Banyumas (dan seperti kebanyakan masyarakat Jawa) didalam kesehariannya selalu menggunakan simbol-simbol atau lambang. Simbol atau lambang tersebut bisa berbentuk benda, tulisan, ucapan maupun upacara dan kesenian, salah satunya Kudhi. Kudhi yang dianggap memiliki daya linuwih ini hanya dipakai sebagai senjata jimat. Sebab kudhi semacam ini jarang dan sangat sulit didapat. Masyarakat Banyumas sering menyebutnya dengan Kudhi Trancang. Ada beberapa macam kudhi yang ada di Banyumas yaitu Kudhi Biasa atau yang sering dipakai untuk segala keperluan. Kudhi ini memiliki ukuran panjang 40 cm dan lebar 12 cm. Kemudian Kudhi Melem, kudhi yan pada bagian ujungnya seolah-olah berbentuk ikan melem. Ukurannya lebih kecil kira-kira 30 cm panjangnya dan lebar 10 cm. Kudhi...
Legenda Raden Kamandaka atau dikenal sebagai Lutung Kasarung diceritakan dalam beberapa versi. Cerita dibawah ini merupakan versi cerita rakyat Lutung Kasarung dari Kebumen Jawa Tengah yang divisualisasikan di Obyek Wisata Goa Jatijajar. Kisah ini bermula pada zaman dahulu Raja Kerajaan Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi memiliki 3 orang putra dan 1 orang putri dari dua permaisuri. Pangeran Banyak Cotro dan Pangeran Banyak Ngampar adalah putra prabu Siliwangi dari permaisuri yang pertama. Kemudian ketika permaisurinya meninggal, prabu Siliwangi menikah lagi dengan putri Kumudaningsih yang melahirkan pangeran Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas. Suatu hari prabu Siliwangi memanggil pangeran Banyak Cotro dan Banyak Ngampar untuk menghadap. “Anakku, aku merasa sudah saatnya aku menyerahkan tampuk kerajaan ini kepada penerusku. Karena kalian berdua adalah anakku yang paling tua, maka aku akan menyerahkannya pada salah satu dari kalian,” ujar prabu Siliwangi. “...
Asal mula desa kami berupa Pedukuhan namanya Pesawahan.Yang membuka wilayah adalah seorang prajurit Mataram pengikut dari Pangeran Diponegoro yang menyingkir karena pimpinanya tertangkap oleh Belanda, yang bernama Ki Sarahita. Kemudian disusul oleh Ki Suradiwangsa putra Ki Somadiwangsa dan cucu Mbah Untung Surapati ( Mbah Kepadangan ) karena waktu itu masih berupa hutan belantara. Keberadaan Pedukuhan Pesawahan akhirnya diketahui oleh Bupati Kebumen saat itu yaitu Arum Binang IV. Berdasarkan kesepakatan dengan ndara Siten di Pagebangan mengangkat Ki Ketadikrama sebagai Kepala Desa I di Pedukuhan Pesawahan. pada tahun 1847 yang kemudian dijadi tahun berdirinya desa kami. Wilayahnya diperlebar yakni dari Dukuh .Karanganyar dan Jombor yang asalnya ikut desa Kebakalan sampai Kali Sadang.Karena daerahnya banyak ( dalam istilah jawa LOH ) batunya (dalam bahasa lokal namanya GANDU ) kemudian dijadikan nama desa kami LOGANDU.Ki Ketadikrama memerintah di Logandu dari tahun 1847 &n...
lemper merupakan makanan tradisional surakarta ,zaman dahulu lemper dijumpai ketika ada acara keraton ,dan juga ketika masyarakat memiliki hajat saja.Namun saat ini lemper bisa ditemui di pasar tradisional dan pedagang pinggir jalan . lemper merupakan makanan khas jawa yang terbuat dari beras ketan yang digulung lonjong dengan daun pisang dan tengahnya diisi abon sapi dan dikukus.
Rumah Jawa lebih dari sekedar tempat tinggal. Masyarakat Jawa lebih mengutamakan moral kemasyarakatan dan kebutuhan dalam mengatur warga semakin menyatu dalam satu kesatuan. Semakin lama tuntutan masyarakat dalam keluarga semakin berkembang sehingga timbullah tingkatan jenjang kedudukan antar manusia yang berpengaruh kepada penampilan fisik rumah suatu keluarga. Lalu timbulah jati diri arsitektur dalam masyarakat tersebut. Rumah Jawa merupakan lambang status bagi penghuninya dan juga menyimpan rahasia tentang kehidupan sang penghuni. Rumah Jawa merupakan sarana pemiliknya untuk menunjukkan siapa sebenarnya dirinya sehingga dapat dimengerti dan dinikmati orang lain. Rumah Jawa juga menyangkut dunia batin yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa. Bentuk dari rumah Jawa dipengaruhi oleh 2 pendekatan yaitu : Pendekatan Geometrik yang dikuasai oleh kekuatan sendiri Pendekatan Geofisik yang tergantung pada kekuatan alam lingkungan Kedua pendekatan itu akhirnya m...
Joglo Jompongan merupakan bentuk rumah joglo yang memakai 2 buah pengeret dengan denah bujur sangkar. Bentuk ini merupakan bentuk dasar joglo. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-jawa-tengah/
Joglo Kepuhan Lawakan merupakan rumah Joglo tanpa memakai geganja atap berujung sehingga kelihatan tinggi. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-jawa-tengah/
Joglo Ceblokan merupakan rumah joglo yang memakai saka pendhem (terdapat bagian tiang setelah bawah terpendam) sering bentuk ini tidak memakai sunduk. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-jawa-tengah/
Joglo Kepuhan Limolasan merupakan rumah joglo yang memakai sunduk bandang lebih panjang dan ander agak pendek, sehingga atap berujung panjang. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-jawa-tengah/