Angngaru Angngaru adalah salah satu tarian kreasi Sulawesi Selatan. Dahulu budaya ini sangat sakral di kalangan para bangsawan (karaeng) karena menjadi tradisi lokal dalam upacara pernikahan dan di dalam penyambutan tamu penting di kalangan para Raja. Tari kreasi ini berisi mengenai pesan moral, penjagaan terhadap bahaya,dan kesiagaan perlindungan yang terkandung di dalam gerakan tarian tersebut disertai ucapan lantang yang menarik urat-urat leher. Tidak semua orang bisa membawakan tarian ini. Orang yang angngaru hanya bisa di hitung jari akan keberadaannya di setiap kelompok masyarakat Sulawesi selatan. Budaya angngaru biasa dikombinasikan dengan senjata khas Sulawesi Selatan yakni badik sebagai simbol penjagaan dan perlindungan. Di era mienial, budaya ini juga sudah jarang dipelajari dan ditampilkan oleh generasi muda di Sulawesi Selatan. Sumber : https://makassar.terkini.id/terancam-punah-3-budaya-bugis-makassar-ini-harus-dilestarikan/
Pada zaman dahulu transportasi laut dan sungai sering digunakan untuk menghubungkan satu wilayah dengan dwilayah lainnya dan juga sebagai jalur perdagangan. Karena transportasi laut mudah digunakan dan dapat membawa lebih banyak barang. Jadi tempat-tempat strategis di jalur laut memiliki potensi untuk menjadi daerah ramai. PAda suatu hari dikisahkan ada sekelompok bajak laut dari negeri Tiongkok yang terdiri dari tiga perahu layar, mereka berlayar ke Selat Bangka. Kawanan bajak laut ini dipimpin oleh seorang kapten. Ketika melewati muara Sungai Musi, sang kapten melihat sungai ini lebar dan memiliki tempat yang strategis. Sang kapten mencoba mencari sungai ini di peta dan informasi lainnya, setelah dicari ternyata sungai ini belum ada di peta. Para bajak laut itu melihat banyak perahu dan kapal yang datang dari arah hulu dengan membawa hasil bumi. Melihat hal tersebut, mereka yakin bahwa daerah hulu sungai ini adalah wilayah yang subur, mereka pun bersepakat membentuk kelompok-kelom...
Lirik lagu OMBAY AKAS SIKAM KOK HAGA MULANG MOULI MARANAI LAGI RINCAH-RINCAHAN MON NIKU KAWAI HANDAK NYAK KAWAI HANDAK MUNIH MON NIKU HAGA DI NYAK, NYAK HAGA NIKU MUNIH 2X OMBAY AKAS SIKAM KOK HAGA MULANG MOULI MARANAI LAGI RINCAH-RINCAHAN ALANG HOLAU DU BALAI ISINA PARI RONIK ALANG HOLAU TINADAI ANYING NA LOKOK RONIK CAK TOMBAI HURUNG KO PAI MARI NGANIK NA BANGIK OMBAY AKAS SIKAM KOK HAGA MULANG MOULI MARANAI LAGI RINCAH-RINCAHAN DAG GARUDAK HALIPU KURUK BUBU NYAK MANJAU MAK KA UDAG NIKU KURUK KULAMBU ---|---|- artinyo : OMBAI DARI TOMBAI = NENEK AKAS DARI TOMBAKAS = KAKEK SIKAM = KAMI KOK = Sudah HAGA = NAK = INGIN MULANG = pulang MOULI = GADIS MARANAI = BUJANG LAGI = LAGI RINCAH-RINCAHAN = TE BLAHAI-LAHAI = SENANG-SENANG MON NIKU = kalau kamu KAWAI HANDAK = BAJU PUTIH NYAK KAWAI HANDAK MUNIH = AKU BAJU PUTIH JUGa MON NIKU HAGA DI NYAK = KALau kamu mau sama aku NYAK HAGA NIKU MUNIH = AKU mau dengan mu juga ALANG HOLAU DU BALAI = ALANG BAGUSNYO GUDANG TEMPAT NYIMP...
Tarian ini merupakan cerminan dari keseharian para ibu rumah tangga dan para remaja putri di Sumatera Selatan. Dalam kesehariannya, para ibu rumah tangga dan remaja putri melakukan perkerjaan berupa menenun kain songket yang merupakan kain khas daerah mereka. Selain sebagai upaya pelestarian tarian adat, tarian ini sekaligus sebagai promosi terhadap kain khas daerah mereka, yaitu kain songket. https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-sumatera-selatan
Dul Muluk merupakan salah satu seni tradisional di Sumatera Selatan. Teater Abdul Muluk pertama kali terinspirasi dari seorang pedagang keturunan arab yang bernama Wan Bakar. Dia datang ke Palembang pada abad ke-20 lalu menggelar pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari, anak Sultan Abdul Hamid Syah yang bertakhta di negeri Berbari di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu. Acara itu menarik minat masyarakat sehingga datang berkerumun. Sejak itu Wan Bakar sering diundang untuk membacakan kisah-kisah tentang Abdul Muluk pada berbagai perhelatan, seperti acara perkawinan, khitanan atau syukuran saat pertama mencukur rambut bayi. Bersama murid-muridnya, antara lain Kamaludin dan Pasirah Nuhasan, Wan Bakar lalu memasukkan unsur musik gambus dan terbangan (sejenis musik rebana) sebagai pengiring. Bentuk pertunjukan pun diperkaya. Jika semula Wan Bakar menjadi wakil semua tokoh, kemudian para muridnya dilibatkan membaca sesuai tokoh perannya. Pada tahun 1919, t...
Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Sumatra diantranya adalah nama sebuah gelar yang diperuntukkan bagi seorang Raja Sriwijaya yaitu Sriwijaya Haji (Raja) Sumatrabhumi yang berarti Raja tanah Sumatra. Pendapat lain mengatakan bahwa Sumatra berasal dari kata Samudera. Pada zaman kerajaan Aceh di abad ke-13 dan ke-14 saat itu para penjelajah Eropa menyebutkan kerajaan samudera pada setiap pulau. Ditelusuri lebih lanjut tentang asal mula nama Sumatra, ada beberapa versi seiring dengan perjalanan sejarah. Tahun 1318, seorang pelayar bernama Odorico da Pordenone mengatakan bahwa dia pernah sampai ke kerajaan bernama Sulmotra saat berlayar dari India selama 20 hari. Di tahun 1343, Ibnu Bathutah juga pernah bercerita bahwa ia pernah singgah di Kerajaan Samatrah atau Djawah. Di tahun 1490, Ibnu Majid membuat peta dengan nama Pulau Samatrah dengan wilayah sekitar Samudra Hindia. Di tahun 1521 inilah, nama Pulau ini disempurnakan menjadi Som...
Kerinci Dari Batu Larung ke Aksara Incung Adnan, Mekka Syed Nury M. (2018) Kerinci Dari Batu Larung ke Aksara Incung. Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Palembang. Text Komik Kerinci Adn REV.pdf Download (13MB) | Preview Abstract Kebudayaan terbentuk dari sebuah gagasan, tindakan, dan hasil karya masyarakat. Kebudayaan merupakan bagian penting dalam proses pembangunan karakter dan mental bangsa. Dalam dunia pendidikan, kebudayaan perannya sangat penting dalam membentuk karakter dan mental siswa melalui proses belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah.“Buku Pengayaan Rumah Peradaban” berjudul ARKEOLOGI KERINCI (DARI BATU LARUNG HINGGA AKSARA INCUNG) yang diterbitkan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan ini, berisi pengetahuan yang simpel dan menarik tenta...
Mencari Ibu Kota Sriwijaya Adnan, Mekka Syed Nury M. (2018) Mencari Ibu Kota Sriwijaya. Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Palembang. Text Sriwijaya LENGKAP LOW (1).pdf Download (17MB) | Preview Abstract Pembicaraan dan perdebatan tentang lokasi Ibu Kota Sriwijaya, tidak pernah usai. Para ahli beradu argumen sesuai dengan pendapatnya masing-masing bersumber dari data yang dimilikinya. Silang pendapat merupakan kelaziman dalam dunia ilmu pengetahuan, termasuk arkeologi. Temuan data baru bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat bahkan merubah hipotesis atau pendapat yang pernah ada. Hasil penelitian terakhir atau data terbaru selalu dinanti para peneliti. Sebagai sebuah kerajaan yang pernah berjaya di belahan barat Nusantara, Sriwijaya mewarnai sejarah panjang Nusantara (...
Amerta berkala arkeologi 23 Aziz, Fadhila Arifin and Intan, M. Fadhlan S and Eriawati, Yusmaini and Arfan, Arfian (2004) Amerta berkala arkeologi 23. Amerta, 23. pp. 1-113. ISSN 02151324 This is the latest version of this item. Text (Strategi Subsistensi Komunikasi Penghuni Gua Lawa dari masa Holosen, Geologi Situs Murara Betung di Sumsel, Analisi sifat fisik tembikar, protosejarah pola hias tembikar situs Karang Agung) amerta23.PDF - Published Version Download (62MB) | Preview Abstract Majalah amerta edisi no. 23 tahun 2004 ini menyajikan beberapa artikel dari berbagai kajian arkeologi hasil penelitian di situs prasejarah, protosejarah, dan sejarah yang ditulis oleh para penelitidi lingkungan asisten deputi u...