MAKAM PUANG LOHETA. DEWA DALAM AGAMA PATUNTUNG DI TANAH LEMO Beberapa pekan lalu, Lengka dan kawan-kawan Simpul merah melakukan perjalanan di timur Kabupaten Bulukumba. Masih dengan tempat yang sama di Tanah Lemo yang menyimpan banyak cerita yang Lengka rasa amatlah penting untuk diabadikan. Lengka teringat dengan Film Kala yang menyadingkan antara Horor, harta karung dengan ramalan Jayabaya beberapa tahun lalu (2007), salah satu Plotnya terdapat diskusi yang mana bunyinya kira-kira seperti ini "Negara-negara lain mewariskan banyak penemuan-penemuan di masa lalunya, berbeda dengan Nusantara ini yang mana masa lalunya dipenuhi dengan cerita Kosmologi yang sulit diterima akal" Mengingat Film satu ini, angan-angan Lengka terjun kesebuah gua di tengah hutan yang dipenuhi dengan kelelawar yang bergelantungan di langit-langit gua, selain penghuni hewan penghuni gua ini Lengka juga melihat satu kuburan yang bernisan laki-laki pada tepian gua Vertikal yang cukup dalam. Makam...
Baju adat Toraja disebut Baju Pokko' untuk wanita dan seppa tallung buku untuk laki-laki. Pakaian adat pria Toraja dikenal dengan Seppa Tallung Buku, berupa celana yang panjangnya sampai di lutut. Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, seperti kandaure, lipa’, gayang dan sebagainya. Sedangkan untuk wanita, Baju adat Toraja disebut Baju Pokko’. Baju Pokko’ berupa baju dengan lengan yang pendek. Warna kuning, merah, dan putih adalah warna yang paling sering mendominasi pakaian adat Toraja Sumber : http://wajah-sulsel.com/index.php/2016/04/15/pakaian-adat-tana-toraja/
Tarian Manimbong adalah tari tradisional Sulawesi Selatan yang hanya ditampilkan secara khusus pada upacara adat Rambu Tuka' oleh penari-penari pria. Seperti halnya tarian Rambu Tuka' lainnya, Manimbong juga diselenggarakan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Para penarinya menggunakan pakaian adat khusus yaitu Baju Pokko' dan Seppa Tallu Buku yang berselempang kain antik. Mereka juga dilengkapi dengan parang kuno (la'bo' penai) dan sejenis temeng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja.  Sumber : https://www.tradisikita.my.id/2016/10/10-tari-tradisional-sulawesi-selatan.html?m=1
Bahan-bahan: 1. Ayam 1 ekor 2. Kelapa 1 butir Bumbu-bumbu: 1. Bawang merah 10 buah 2. Bawah putih 5 siung 3. Lada halus 1 sendok teh 4. Laos 1 potong 5. Sereh 1 batang 6. Jahe 1 ruas jari 7. Jeruk nipis 1 butir 8. Garam 2 sendok makan Cara membuatnya: 1. Ayam dibersihkan, dipotong-potong. 2. Kelapa diparut dibuat santan, lalu dimasak hingga mendidih. 3. Potongan ayam dimasukkan. 4. Bawang merah, bawang putih dan laos di-iris2, batang sereh dimemarkan, bumbu2 ini bersama lada dimasukkan dalam santan mendidih. 5. Ditambah dengan air djeruk nipis dan garam. 6. Didjerangkan sampai masak. Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno
Bahan-bahan: 1. Daun singkong 1 ikat besar 2. Air 4 gelas Bumbu-bumbu: 1. Bawang merah 5 butir 2. Bawang putih 3 siung 3. Kemiri 5 butir 4. Asam 3 mata 5. Garam 1 Sendok Makan Cara Membuatnya: 1. Bawang merah, bawang putih, dihaluskan, dimasak dalam air hingga mendidih. 2. Daun singkong dicuci bersih, dimasukkan, ditambah garam dan air asam, dijerangkan sampai masak. Bisa dibeli di: Cang Kuning Di Jalan Hasanuddin, Sungguminasa, Makassar, Sulawesi Selatan Sumber: Buku Mustikarasa Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno
Bahan: Daging bersama tulangnya 1 kg Bumbu-bumbu: 1. Keluwak 5 biji 2. Ketumbar 2 sendok teh 3. lada 10 biji 4. Cengkeh 5 biji 5. Tepung kunyit 1 sendok teh 6. Asem Jawa Secukupnya 7. Minyak kelapa secukupnya 8. Kecap secukupnya 9. Garam secukupnya Cara membuatnya: 1. Daging dibersihkan, juga tulangnya; dipotong-potong besar. 2 . Keluwak dan rempah-rempah ditumbuk halus lalu ditumis sampai kering, dimasukkan daging dan tulang, dibubuhi garam, asam jawa, kecap, dimasak sampai mendidih betul atau hingga dagingnya lembek betul. Kuahnya tetap banyak. Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno
Bahan: Ikan Cakalang Bumbu-bumbu: 1. Kunyit halus 1 sendok teh 2. Keluwak 2 biji 3. Sereh 2 batang 4. Bawang merah 2 buah 5. Lombok besar 5 buah 6. Laos iris 1 sendok makan 7. Asam secukupnya 8. Garam secukupnya Cara membuatnya: 1. Ikan dibersihkan, dipotong-potong. 2. Keluwak dihaluskan, dicampur asam, diberi air, disaring, dicampur dengan ikan. 3. Sereh, bawang merah, lombok besar dan laos diiris-iris , ditumis, dimasukkan ikan, diberi garam dan kunyit halus. 4. Dibiarkan sampai masak. Keterangan : Kalau dipakai bandeng atau ikan lain, bumbunya hanya asam, garam dan kunyit. Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno
Bahan-bahan: 1. Ikan bandeng 2 ekor 2. Kentang 1 ons 3. Telur Ayam 2 butir 4. Minyak goreng 1/2 gelas Bumbu-bumbu: 1. Bawang merah 10 buah 2. Bawang putih 4 siung 3. Lada halus 1 sendok teh 4. Pala halus 1/2 sendok teh 5. Cengkeh halus 1/2 sendok teh 6. Daun bawang 4 batang 7. Garam 1 sendok teh Cara membuatnya: 1. Ikan dibersihkan. Dicuci lalu dagingnya serta tulangnya dikeluarkan dari kulitnya, hati-hati jangan sampai kulitnya sobek. Dicincangang halus. 2. Kentang dikupas dipotong-potong , digoreng dihaluskan. 3. Daun bawang diiris halus dicampurkan dengan ikan. 4. Campuran ini dimasukkan lagi dalam kulit ikan, dijahit agar utuh kembali. 5. Diolesi luarnya dengan telur lalu digoreng. 6. Sesudah masak ditaruh dalam piring dan ditaburi dengan bawang goreng. Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno
Kakkala atau yang biasa disebut Gaplek adalah bahan makanan yang diolah dari ubi ketela pohon atau singkong . Prosesnya sangat mudah; ubi singkong yang telah dipanen kemudian dikupas dan dikeringkan. Gaplek yang telah kering kemudian bisa ditumbuk sebagai tepung tapioka yang bisa dibuat bermacam-macam kue. Tepung tapioka dari gaplek selanjutnya bisa dibuat menjadi nasi tiwul yang gurih. Bahan-bahan: 1. Kakkala (gaplek) 1/2 kg 2. Kelapa 1 butir 3. Garam 1 sendok makan Cara membuatnya: 1. Kakkala ditumbuk halus. 2. Kemudian dikukus, diangkat sesudah masak. 3. Kelapa diparut, diberi garam, ditjampurkan. 4. Diaduk sampai rata. Keterangan : Dimakan dengan ikan. Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno Sumber: Buku Mustika Rasa Soekarno