Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI (dahulu Museum Rekor Indonesia) adalah sebuah museum yang terletak di Semarang , Indonesia . Museum ini merupakan tempat dicatatnya data prestasi superlatif yang terjadi di Indonesia. Didirikan tanggal 27 Januari 1990 yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2541 (saat itu belum merupakan hari libur nasional) oleh Jaya Suprana bersama dengan PT Jamu Jago , museum ini sudah mencatat lebih dari 1.200 rekor hingga Juli 2005. Bersamaan dengan peresmian galeri Muri di kawasan wisata candi Borobudur ( 14 Agustus 2005), dilakukan perubahan kepanjangan MURI yang semula Museum Rekor Indonesia menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia. Selain sebagai museum , Museum Rekor Indonesia (MURI) juga merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bertugas menghimpun data dan menganugerahkan penghargaan terhadap prestasi superlatif karsa dan karya bangsa Indonesia. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Rekor_Dunia_Indonesia...
Kemeriahan dapat dilihat sepanjang Jalan Sudiroprajan dengan adanya gunungan kue keranjang, atraksi barongsai, reog ponorogo dan kesenian Jawa lain serta hiasan lampion. Pemandangan yang dapat disaksikan di Solo, Jawa Tengah ketika Grebeg Sudiro. Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa dan jawa. Perayaan ini mulai dilaksanakan sejak 2007. Penggagas utamanya ialah Bapak Oei Bengki, Bapak Sarjono Lelono Putro dan Bapak Kamajaya yang kemudian mendapat persetujuan dari Kepala Kelurahan Sudiroprajan beserta jajaran aparatnya, para budayawan dan tokoh masyarakat serta LSM di Kelurahan Sudiroprajan. Orang-orang yang patut kita apresiasikan karena telah terlibat secara aktif mendorong pelaksanaan perayaan yang membangunkan rasa persatuan umat di Solo.
Dalam rangka menyambut imlek, femina akan mengeluarkan resep-resep klasik imlek mulai 23 - 28 Januari 2017. Resep-resep ini diambil dari buku Masakan Peranakan Tionghoa Semarang karya Hiang Marahimin yang diterbitkan oleh PT Gaya Favorit Press. Salah satunya adalah resep Mi Goreng Spesial berikut ini. Bahan 250 g mi segar 50 g jamur kancing 1 sdt angciu ¼ sdt gula pasir 4-5 sdm minyak goreng 2 siung bawang putih, cincang halus 50 g daging ayam tanpa tulang, iris tipis, potong persegi 2 x 2 cm 100 g kee kian siap pakai, iris tipis serong ½-1 cm 50 g udang kupas ukuran kecil/sedang, belah punggungnya 1 batang daun bawang, potong melintang 2 cm 100 g sawi hijau/pok cai, potong-potong 3-4 cm 75 g kol, buang bagian tengahnya, iris-iris 2 cm 125 ml kaldu Bahan Bumbu : campur jadi satu 1½ sdm kecap asin 1½ sdm kecap manis...
Dalam rangka menyambut imlek, femina akan mengeluarkan resep-resep klasik imlek mulai 23 - 28 Januari 2017. Resep-resep ini diambil dari buku Masakan Peranakan Tionghoa Semarang karya Hiang Marahimin yang diterbitkan oleh PT Gaya Favorit Press. Salah satunya adalah resep ikan coan-coan berikut ini. Bahan 1 ekor (500 g) ikan kakap putih ½ sdt garam ¼ sdt merica bubuk Minyak goreng 5 butir bawang merah, iris tipis 2 siung bawang putih, iris tipis 2 cm jahe, memarkan 1 sdm taoco (tanpa air perendam) 750 ml air 1 sdm kecap manis ½ sdt garam ½ sdt gula merah 1 sdt cuka 5% Pelengkap: 50 g jahe, kupas, potong bentuk batang korek api halus, 1 batang daun bawang iris halus Cara Masak: Bersihkan ikan, keringkan, lalu kerat-kerat serong badan ikan. Lumuri ikan dengan garam dan merica, diamkan selama 15 menit. Panaskan minyak goreng yang cukup ban...
Hok Tek Bio, bangunan klenteng bagi etnis Tionghoa ini terletak di Jalan Pemotongan Nomor 3, kawasan Pasar Wage, Purwokerto Timur. Penamaan klenteng ini berasal dari “Hok Tek Tjeng Sin”, Dewa Bumi yang menjadi tuan rumah klenteng, dan “Bio” yang bermakna tempat atau kuil. Klenteng Hok Tek Bio telah didirikan sejak tahun 1831, tapi bangunan yang ada saat ini merupakan hasil pemugaran tahun 1987. Pendirian Klenteng Hok Tek Bio diinisiasi oleh masyarakat etnis Tionghoa yang mayoritas berdagang hasil bumi di area Pasar Wage. Mereka berkeyakinan bahwa dibutuhkan tempat ibadah sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan. Oleh sebab itu, tuan rumah bagi klenteng ini dipilih Hok Tek Tjeng Sin, dewa yang bertugas menjaga bumi dalam kepercayaan Konghucu. Pengelolaan Klenteng Hok Tek Bio diserahkan kepada organisasi kepengurusan klenteng, yang salah satunya ialah Ibu Maryati (atau I’i Maryati) selaku bagian tata usaha. Menurut penuturan Ibu Maryati, ketua pertama dari klenteng ini ada...