Pada hari pertama Idul Fitri, masyarakat Magelang mempunyai tradisi menyajikan hidangan utama yang dimakan selama satu hari penuh. Bukan lontong opor ataupun ketupat sayur, melainkan sego megono. Sego megono adalah makanan khas Magelang berupa nasi yang disantap bersama megono atau kluban. Megono sendiri di tanah Magelang merupakan sayuran yang dikukus dan dibumbui dengan lombok, kencur, dan jeruk purut. Megono yang sudah direbus, dilengkapi dengan taburan ikan teri goreng atau bakar. Sayuran yang dipakai untuk membuat sego megono juga beragam. Dari sekian banyak macam sayur, makanan khas Magelang ini memilih beberapa jenis sayur seperti daun ketela, daun pepaya, kecambah, daun kacang panjang, bayam, nangka muda, dan bahkan rebung. RM/Toko yang Menyediakan : Sego N'Deso Rumah Makan Alamat: Jl. Pemuda No.54, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah 56122 Telepon: (0293) 366050 Sumber: http://makananole...
Ada juga yang menyebutnya untir-untir, pluntir, untir atau kue tambang. Kue ini terbuat dari tepung terigu, gula pasir serta beberapa bahan lainnya. Dinamai kue tambang karena bentuknya yang melilit seperti tambang. Biasanya kue ini disajikan saat arisan ibu-ibu, Idul Fitri atau Idul Adha. Warnanya pun beragam. Ada yang coklat muda. Ada yang lebih gelap. Biasanya untuk menjaganya tetap renyah, kue ini dimasukkan ke dalam toples. Selain cocok sebagai teman minum teh, kue tambang atau unter – unter ini pas buat kudapan untuk belajar. RM/Toko yang Menyediakan : Coffeelogue Restoran Alamat: Jl. Taman Sunter Indah, RT.13/RW.12, Sunter Jaya, Tj. Priok, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14360 Telepon: 0896-1922-1971 Sumber: https://www.gudeg.net/read/8499/10-makanan-tradisional-yang-mulai-punah-namun-membuat-anda-serasa-muda-kembali.html
Bahan Memasak Kagape Kambing: 500 gr daging kambing, potong 1 x 4 cm 2 sdm air asam jawa 1/2 sdt garam 500 ml air 500 ml santan kental 100 gr kelapa parut panjang, sangrai kering, tumbuk 2 btg serai, memarkan Minyak untuk menumis Bumbu, haluskan: 2 siung bawang putih 6 bh bawang merah 1 sdt ketumbar 3 bh kemiri 1/2 sdt lada 1/4 sdt jinten 3 cm kunyit 1 cm jahe 1 sdt garam Cara membuat Kagape Kambing: Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan serai, aduk rata. Masukkan daging, aduk, masak hingga berubah warna, tuang air. Masak hingga daging lunak dan air tinggal sedikit. Tuang santan sedikit demi sedikit. Masak sambil diaduk-aduk hingga bumbu meresap dan kuah mengental. Masukkan kelapa sangrai tumbuk, aduk sebentar, angkat. Untuk 5 orang Sumber: http://www.resepkomplit.co...
Prepegan adalah salah satu tradisi yang terkenal di Tegal. Bagaimana tidak, tradisi ini hanya ada saat di bulan puasa menjelang Hari Raya Idul Fitri. Prepegan adalah salah satu tradisi berbelanja untuk kebutuhan hari raya. Untuk lokasi belanja bisa di pasar tradisional, supermarket atau pusat perbelanjaan lainnya. Ada dua Prepegan, yaitu Prepegan Cilik dan Prepegan Gede. Untuk Prepegtan Cilik biasanya H-2 dan Prepegan Gede H-1. Jadi bisa dibayangkan bagaimana pusat – pusat perbelanjaan akan sangat ramai. Terlebih sanak saudara yang berada di perantauan juga biasanya ikut serta dalam tradisi Prepegan ini. imageYang biasanya dibeli ketika tradisi ini adalah seperti anyaman ketupat, daging – dagingan, beras, prasel, sandang, dan barang – barang sembako lainnya. Yang lebih menarik adalah apabila kita melihat tradisi ini di pasar Tradisional di daerah Kabupaten Tegal Bagian Selatan, terutama yang berada di dataran tinggi. Di mana banyak war...
Tawur, namun bukan tawuran yang diartikan dengan tindakan kekerasan lho ya? Tawur/ Sawur ini dalam bahasa Tegalnya adalah melempar/ menyebarkan sesuatu untuk diambil baik orang maupun hewan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat hajatan nikahan atau khitanan. Yang ditawurkan adalah uang koin mulai pecahan Rp. 100 hingga Rp. 1.000 (kadang ada juga yang menggunakan uang kertas yang digulung) yang dicampur dengan beras. Ada yang menggunakan beras biasa, ada juga yang diwarnai dengan warna kuning (kunir). Prosesinya pun tak terlalu rumit, karena warga sekitar biasanya sudah bergerombol sembari menunggu panggilan yang memiliki hajat. Beras dan uang dilemparkan / ditawurkan di kerumunan warga, serta merta warga berebut mengambil uang tersebut. kemudian bagaimana dengan berasnya? Biasanya berasnya menjadi santapan ayam Tradisi ini menjadi salah satu ungkapan rasa syukur pemilik hajat dan ingin membangikan sebagain rezekinya kepada warga s...
Tawur, namun bukan tawuran yang diartikan dengan tindakan kekerasan lho ya? Tawur/ Sawur ini dalam bahasa Tegalnya adalah melempar/ menyebarkan sesuatu untuk diambil baik orang maupun hewan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat hajatan nikahan atau khitanan. Yang ditawurkan adalah uang koin mulai pecahan Rp. 100 hingga Rp. 1.000 (kadang ada juga yang menggunakan uang kertas yang digulung) yang dicampur dengan beras. Ada yang menggunakan beras biasa, ada juga yang diwarnai dengan warna kuning (kunir). Prosesinya pun tak terlalu rumit, karena warga sekitar biasanya sudah bergerombol sembari menunggu panggilan yang memiliki hajat. Beras dan uang dilemparkan / ditawurkan di kerumunan warga, serta merta warga berebut mengambil uang tersebut. kemudian bagaimana dengan berasnya? Biasanya berasnya menjadi santapan ayam Lain halnya di dukuh Bujil, desa Dukuh Benda, Bumijawa, Kab. Tegal. Tradisi Tawur ini dilaksanakan pada hari Jum’at pertama setelah Idul Fitri. Namun...
Kue Rangin berbahan dasar ketan dan kelapa parut, merupakan camilan legendaris kota Demak, sudah dikenal sebelum tahun 50-an. Pusat pembuatan Kue Rangin di di kecamatan Wonosalam, yaitu Desa Lempuyang, ploso, karangsambung dan sekitarnya. Kue rangin berkonotasi angin-angin atau ilir-ilir, karena bentuknya juga seperti kipas berbentuk kotak. Pembuatan kue rangin masih sangat tradisional dan mempunyai ciri khas tersendiri. Biasanya masyarakat sudah mempersiapkan bahan-bahan guna pembuatan kue rangin dalam rangka menyambut kedatangan bulan puasa penuh berkah untuk dihidangkan di ruang tamu, bahkan hampir setiap rumah ada kue rangin dan setiap menjelang lebaran idul fitri atau syawalan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2016/03/camilan-khas-demak-jawa-tengah/
Meskipun beliau bernama sunan kudus, namun sebenarnya bukan asli dari Kudus. Beliau pendatang dari daerah Jipang Ponolan yang merupakan daerah di sebelah utara Blora. Di sana, ia dilahirkan dan diberi nama Ja’far Shodiq. Beliau merupakan putra hasil dari pernikahan Sunan Ngudung (raden Usman Haji ) dengan Syarifah. Sunan Ngudung sendiri terkenal sebagai seorang panglima perang yang tangguh. Suatu hari, ia tewas dalam peperangan antara demak dan majapahit. Setelah itu putranya, yaitu Ja’far shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya adalah menaklukkan wilayah kerajaan majapahit untuk memperluas kekuasaan demak. Ja’far soduk tidak merasa asing ketika bertanggung jawab sebagai senopati. Karena saat beliau masih remaja, beliau tidak hanya mempelajari ilmu agama, namun juga ilmu ilmu yang lain, seperti ilmu kemasyarakatan, politik, budaya, seni dan perdagangan. Selain kepada ayahnya, ia juga pernah menimba ilmu kepada Sunan Ampel dan Kiai Telingsi...
Alkisah, pada jaman dahulu ada seorang pemuda yang bernama Mansyur. Ia menjadi santri yang mondok di pesantren untuk belajar ilmu agama. Pada suatu malam, setelah Mansyur lulus belajar di pesantren, ia berkemas membungkus barang-barangnya dengan kain. Ia berniat kembali pulang ke kampungnya. Di tengah perjalanan pulang di malam hari itu, tiba-tiba ia dihadang seorang garong/rampok bersenjata golok besar (bedog). Garong itu menghunus senjatanya. Ia mengancam dan memaksa Mansyur untuk menyerahkan bungkusan barang bawaannya. Di luar dugaan, garong itu tak menyangka Mansyur berontak dan melawan. Khawatir tindakannya diketahui penduduk sekitar, garong itu nekat menebas kepala Mansyur hingga terpisah dari badannya. Akhirnya garong itu berhasil membawa bungkusan barang hasil rampokannya. Sesampainya di rumah, garong itu membuka bungkusan kain hasil rampokannya. Alangkah terkejutnya ia. Ternyata bungkusan kain itu hanya berisi kitab suci, pakaian dan kain sarung. Tak ada...