Pantun nyanyian Barbar, Maluku Salah satu hal paling berharga yang dilestarikan oleh penduduk Maluku adalah bahasa daerahnya. Tradisi lisan masih menjadi identitas jati diri sebagai pewaris budaya nenek moyang tersebut. Selain puisi, dongeng, legenda, mantra, pantun nyanyian Barbar adalah hal yang terus mereka pelihara. Pantun ini sangat populer khususnya di daerah Letwurung, pulau Barbar Besar. Contoh pantun syair Barbar [Sumber gambar ] Dikemas dalam Bahasa daerah, pantun Barbar akan disuguhkan ketika acara-acara adat khusus lengkap dengan diikuti nyanyian bersyair dalam Bahasa Yamdena atau Fordata serta tari-tari adat. Untuk penyampaian, berpantun bisa disampaikan sendiri, berbalasan, atau lengkap dengan iringan musik. Jenisnya pun beragam, mulai dari pantun percintaan, orang tua, nasihat, serta pantun anak-anak.
Senjang atau Besenjang adalah sastra lisan yang biasanya ditemukan di kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Senjang ini merupakan puisi berbalas yang dilagukan oleh sepasang lelaki dan perempuan. Ada hal unik dari penyajiannya, yaitu antara Senjang dan musik tidak saling bertemu, artinya pada saat bersenjang musik berhenti, kalau musik berbunyi orang yang bersenjang diam sehingga keduanya tidak pernah bertemu. Kesenian senjang ini umumnya berisi nasihat, kritik (sindiran) atau perasaan bahagia yang bisa disampaikan kepada guru, orangtua, teman seperjuangan, bahkan juga pemerintah. Hingga saat ini, di beberapa daerah Musi Banyusin Senjang masih bisa dilestarikan mengingat sering adanya pementasan saat perpisahan sekolah, inagurasi, acara-acara olimpiade yang digelar pemerintah setempat, atau bahkan dalam pernikahan.
tradisi bercerita dari Banjar Sama seperti kelima tradisi sebelumnya, Madihin juga sastra lisan atau tulisan yang hanya ada di Banjar dan Kalimantan Selatan saja, tidak akan ditemukan di daerah lain. Diambil dari kata ‘madah’ yang dalam Bahasa Arab artinya bisa nasihat atau juga pujian. Madihin ini dituturkan dalam Bahasa Banjar, dipentaskan di depan publik dan tidak boleh melihat teks (harus dihafalkan) oleh 2-4 orang yang disebut Pamadihinan. Hingga sekarang, Madihin masih sangat bisa kamu temukan karena sering sekali dipentaskan, baik ketika menyambut kelahiran anak, upacara tolak bala, menghibur tamu agung, hingga acara kedaerahan. Madihin ini juga sudah ada dalam bentuk modern, yaitu pementasan lengkap dengan berbagai alat musik sebagai pengiringnya.
Lamau Kateuba' merupakan karya musik kontemporer Daud Sababalat. Makna Lamau Kateuba yang mengisahkan ritual pengobatan susah dipahami penonton, monotan dan bisa-bisa membosankan. Dua penari berdiri di tengah panggung. Keduanya mengenakan busana khas sikerei (tabib atau dukun di Mentawai) yakni luat (ikat kepala manik-manik) dan kalung manik-manik. Sambil membunyikan jejeneng (genta yang biasa dipakai sikerei saat ritual adat), mereka bernyanyi urai paruangan yang mengisahkan tentang puji-pujian dan memanggil roh. Pada pembukaan pertunjukan, diiringi hentakan kateuba keduanya melakukan gerakan uliat manyang (elang) dan uliat bilou (monyet Mentawai) sambil memegang daun-daun sura yang dipercaya bisa menyembuhkan. Mereka memanggil roh-roh leluhur dan mengusir roh jahat, serta melakukan persembahan yang mengibaratkan memotong ayam. Usai penari memeragakan ritual pengobatan, suara kateuba dan tuddukat yang awalnya terdengar monoton tak lagi...
Sebagai kata pembuka, ini adalah sebuah tulisan sederhana tentang " Balia ", sebuah upacara ritual penyembuhan, wujud sebuah kebudayaan yang ada di kalangan etnis Kaili, yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Tengah. Secara singkat digambarkan bahwa etnis Kaili merupakan etnis yang memiliki populasi terbesar dari 12 etnis yang ada di Sulawesi Tengah, tersebar di 3 wilayah yaitu : Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi. Secara etimologi "Balia" berasal dari bahasa Kaili "Nabali ia" artinya "berubah ia". Perubahan yang dimaksud dalam pengertian ini adalah ketika seseorang pelaku Balia telah dimasuki oleh roh halus, maka segala perilaku, gerak, perbuatan, cara berbicara sampai pada cara berpakaian orang tersebut akan berubah. Salah satu contoh, seorang pelaku Balia wanita, bila roh yang masuk ke dalam tubuhnya adalah laki - laki, maka ia pun langsung merubah cara berpakainnya seperti memakai sarung, kemeja, kopiah dan merokok. Gerak, tingkah laku dan cara berbicaranya pun t...
ABSTRACT Mappandesasi ritual is an oral folklore tradition, a folklore which form is a compiled of oral and non-oral elements. Oral tradition connects generation of past, present and future. Oral tradition inherited from generation to generation, in everyday life, thoughts, sayings, and behavior of individual or group is the real implementation of the text. This research is a qualitative-descriptive research and uses deep interview and observation method. The result of this research show that the ritual is usually performed before fishermans goes fishing, as a gesture of asking for safety and fortune to the sasi guardian and also performed after fishing to thank the sasi guardian for granting them safety and fortune. In mappandesasi ritual, the people prepare some equipment as a ritual medium. It consist of cattle, beke, and mannu as the sacrificial animal. Keywords: ritual, sasi, fisherman, and Mandar ABSTRAK Ritual mappandesasi me...
Warga Bawean kalau tidak bisa menciptakan sesuatu yang sifatnya alternatif, sekalipun hal itu berupa kesenian. Khawatir dengan budaya modern yang terlalu mengumbas goyangan erotis dan pornoaksi, sejumlah seniman Bawean menciptakan kesenian Kercengan. Karena dicipatkan seniman asli Bawean, tarian ini bernuansa religius. Kalau kita pernah melihat tarian Saman dari Nagro Aceh Darussalam, maka kesenian tersebut hampir mirip dengan seni Kercengan di Bawean. Bedanya penari Kercengan membawa alat musik kercengan yang menari mengikuti alunan alat musik kercengan. Sementara tari Saman, penarinya murni melakukan atraksi olah tubuh tari-tarian degan diiringi nyanyian sang penari. Serupa tapi tidak sama, demikian penilaian orang saat membandingkan Kercengan dengan tarian Saman. Untuk tarian Kercengan, penarinya terdiri puluhan orang gadis berjejer beberapa baris di depan. Seperti dengan tarian Saman, seni Kercengan juga mengutamakan gerak tangan, menggunakan dua unsur gerak yang menjadi uns...
Sungai Janiah adalah sebuah nagari di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Nagari ini terletak di pinggang Gunung Talang, berada pada ketinggian ± 1500 meter dari permukaan laut dengan topografi daerah berbukit-bukit, disana terdapat telaga yang berisi ikan yang sangat besar, darimana kah asal ikan itu berasal, berikut Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah (Jernih). Dahulu kala di Sumatera Barat, seorang janda membawal kedua anaknya ke pesta. anak-anaknya, seorang anak laki-laki dan perempuan merasa sangat senang. Mereka mengenakan pakaian yang indah ke pesta. Mereka menemukan makanan lezat, dan melihat banyak tamu di pesta. Anak-anak bersuka cita. Ada juga pertunjukan musik tradisional. Acaranya penuh sesak dengan pengunjung. Anak-anak bertanya kepada ibu mereka jika mereka bisa melihat pertunjukan musik yang ada jauhnya beberapa meter dari mereka. “Ya, kalian berdua boleh pergi ke sana. Tapi harap diingat, jangan pergi jauh-jauh,&r...
Ritual Unjungan dilakukan oleh masyarakat Purbalingga dan Banjarnegara. Konon asal muasal dilaksanakannya tradisi berawal dari para petani yang berebut air untuk mengairi sawahnya saat musim kemarau. Perebutan ini membuat para petani cekcok hingga saling memukul dan melukai satu sama lain. Sama dengan ritual Ojung, tradisi ini juga menggabungkan antara seni musik, tari, dan bela diri. Dalam acara ini, laki-laki juga saling memukul dengan sebilah rotan. Bagian yang boleh dipukul hanya bagian kaki ke bawah. Sumber: https://www.boombastis.com/ritual-mendatangkan-hujan/59364