Waju Rante, ialah baju besi yang biasanya digunakan sebagai pakaian berperang. Baju ini terbuat dari untaian cincin besi yang diakibatkan satu sama lain, sehingga tampak seperti rajutan (lihat gambar 6). Waju rante digunakan dengan tujuan untuk melindungi tubuh dari terjangan senjata lawan. Berbeda dengan Kanna yang hanya dipegang dengan sebelah tangan, maka waju rante dikenakan pada badan sebagaimana halnya mengenakan kemeja biasa. Pada masa sekarang waju rante jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Oleh karena itu cara yang paling mudah untuk meli hatnya adalah ke Museum Lagaligo Ujung Pandang. Waju rante mempunyai fungsi sosial yang kurang lebih sama dengan kanna, yaitu umumnya berfungsi sebagai pakaian perang bagi kaum bangsawan. Demikianlah, maka peninggalan waju rante yang masih dapat ditemukan sebagai warisan budaya masa lampau kebanyakan ditemukan dalam keluarga bangsawan. Bagi masya rakat Bugis di daerah Bone, waju rante bukan hanya semata-mata menyangkut keselamatan...
Pantu adalah senjata sejenis tongkat, kadangkala terbuat dari bahan kayu bulat, dengan bebatan besi pada bagian pangkalnya. Senjata ini digunakan sebagai alt untuk memukul ataupun me nyodok. Pantu" tidak ditemukan lagi saat ini. Kalau pun terdapat dalam masyarakat, maka itu tidak berfungsi lagi sebagai senjata. Tongkat yang disebut pantu digunakan sebagai senjata sodok atau pukul yang diarahkan ke bagian tubuh lawan. Pantu dapat saja digunakan ataupun disimpan tanpa memerlukan surat izin resmi dari pihak berwajib sebab tidak dikategorikan sebagai suatu jenis senjata. Namun demikian, masyarakat Bone tidak atau jarang menggunakan tongkat karena kurang efektif, kecuali sebagai alat penunjang tubuh bagi orang cacad (pincang) ataupun karena usia tua. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA39
Tado', yaitu jerat tali yang biasa digunakan orang Bugis untuk menjerat binatang buruan. Bahannya adalah tali dengan cara penyimpulan sedemikian rupa, sehingga dapat bergerak secara oto matis apabila tersentuh oleh binatang buruan. Pada gambar 7a; 7b, dan 7c di bawah ini dapat dilihat bentuk jerat tali di daerah Bone. Penggunaan tado” pada zaman silam adalah untuk menangkap binatang buruan seperti rusa, babi, sapi dan kerbau liar. Kadang kala tado digunakan pula untuk menjerat kuda liar ataupun kuda peliharaan manakala sewaktu-waktu lepas dari kandangnya. Selain tado”, dalam hal menangkap binatang, masyarakat Bugis di daerah Bone menggunakan pula senjata berupa sio' (jerat). Dalam hal ini, digunakan untuk menangkap jenis unggas, misalnya ayam hutan, balam, unggas, dan lain sebagainya. Dewasa ini jerat sudah jarang digunakan, sedangkan sio seringkali masih dilakukan di wilayah pedesaan. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.goo...
Jebba', ialah jebakan untuk menangkap berbagai jenis burung. Jebba’ terbuat dari kurungan dengan menggunakan bahan bambu. Kurungan ini mempunyai pintu, dilengkapi alat khusus sebagai penyanggah daunpintu kurungan. Apabila alat ini tersentuh atau diinjak oleh kaki burung, maka secara otomatis pintu kurungan tadi akan tertutup dengan sendirinya. Agar jelasnya lihat gambar 8 di bawah ini. Jebba’ digunakan untuk mempermudah penangkapan burung burung liar. Masyarakat Bugis, sejak dahulu hingga kini, meng gunakan jebba yang disertai dengan burung umpan. Apabila Seseorang ingin memerangkap, misalnya burung balam, maka di dalam jebba diberi seekor burung balam. Ini dimaksudkan agar burung liar tertarik untuk mendekat, bahkan turut masuk dalam jebba Demikian burung itupun dapat tertangkap dengan cukup mudah. Sama halnya dengan sio, jebba” inipun masih tetap digunakan sampai sekarang, terutama oleh masyarakat petani di pinggiran kota Bone. Sumber: Buku Senjata Tr...
Katalang, adalah salah satu jeni perangkap berupa lubang yang cukup besar (luas dan dalam). Lubang ini di buat dengan jalan menggali tanah, kemudian menutupnya dengan ranting kayu dan dedaunan, sehingga tidak tampak dari luar. Bentuknya secara jelas dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini. Pada zaman dahulu katalang, digunakan untuk memerangkap musuh, baik berupa manusia maupun binatang liar. Apabila di bandingkan dengan keadaan sekarang, maka katalang merupakan salah satu sistem keamanan lingkungan. Sehubungan dengan itu, bagi keamanan desa atau kampung-kampung, biasa dilakukan pem buatan katalang di berbagai tempat. Ini dimaksudkan agar orang orang jahat ataupun lasykar musuh terjerembab ke dalamnya. Sebaliknya, bagi petani katalang itu dibuat untuk memerangkap musuh-musuh tanaman, antara lain babi hutan, anjing liar dan lain binatang pengganggu tanaman. Menurut hasil pengamatan, pada masa sekarang masyarakat Bone tidak lagi menggunakan katalang untuk kepentingan kea manan ka...
Siapa yang tak kenal La Ummasa'? bagi mereka yang sering membaca sejarah tidaklah asing baginya. La Ummasa' punya dua gelar, Dia punya kelebihan dan kepandaian pada masanya. Dari catatan Lontara' Akkarungeng ri Bone, LA UMMASA' Raja Bone ke-2 (1365-1368), disebutkan bahwa Dialah yang menggantikan ManurungE ri Matajang sebagai Arung Mangkaue ri Bone. Beliau digelari PETTA PANRE BESSIE karena Raja Bone inilah yang mula-mula menciptakan alat dan perkakas dari besi di Bone dan kalau bepergian, hanya dinaungi dengan KALIYAO (tameng) untuk melindunginya dari teriknya matahari. LA UMMASA' lahir dari hasil pernikahan Manurungnge ri Matajang Raja Bone ke-1 (1330-1365) dengan Manurungnge ri Toro yang bernama Latenri Wale. LA UMMASA mempunyai dua gelar Petta Panre Bessie’ dan Petta To Mulaiye Panreng yang artinya raja yang mula-mula dikuburkan. Beliau sangat dicintai rakyatnya karena selain merakyat, juga memiliki berbagai kelebihan seperti berdaya ingat t...
Dulang, yaitu bak yang digunakan untuk mendinginkan besi tempaan yang sudah dibentuk. Dulang ini terbuat dari bahan kayu gelondongan yang dilubangi pada salah satu sisinya dengan ukuran ke dalaman lubang sekitar 50 Cm serta panjang antara 150 cm - 200 Cm dan lebar sekitar 50 Cm. Air yang diperlukan dimasukkan ke dalam lubang tersebut untuk mendinginkan hasil bentukan besi, berupa senjata ataupun alat-alat pertanian, seperti: pacul, cangkul, mata bajak, belati, dan parang. Pada gambar 11 di bawah ini diperlihatkan sketsa dulang yang digunakan oleh pandai besi di daerah Bone. Peralatan dulang seperti terlihat dalam gambar 11 di atas merupakan suatu bukti autentik, bahwa masyarakat Bugis di daerah Bone sejak zaman silam telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan teknis untuk mendayagunakan potensi sumber kekayaan alam. Dalam rangka menanggulangi tan tangan lingkungannya. Pengetahuan dan ketrampilan seperti itu tetap bertahan dan dipertahankan sampai saat ini. Apabila dikaitkan den...
A kikkirikeng (landasan kikir), yaitu alat pandai besi yang khusus digunakan untuk meletakkan setiap hasil produksi tempataan yang akan dikikir (ditajamkan) bahagiaan bilahnya. Alat ini umumnya terbuat dari bahan tanduk kerbau atau tanduk sapi yang diletakkan secara berjajar. Pada kedua buah tanduk tersebut diberi tatakan yang berfungsi sebagai tempat menyantelkan barang kikiran (lihat gambar 12.). Gambar di bawah menunjukkan, bahwa tanduk kerbau ataupun tanduk sapi dapat dimanfaatkan oleh pandai besi sebagai alat yang cukup efektif dalam menunjang kelancaran proses produksi senjata tradisional. Malahan, dalam bidang lain, tanduk hewan seperti itu dapat berguna sebagai tempat menyimpan: minyak, huku/gagang parang ataupun badik dan keris, serta banya kegunaan lainnya. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA51
Pengeppi” (alat percikan air), yaitu suatu jenis peralatan pandai besi yang terbuat dari belahan buluh atau bambu, yang bagian ujungnya dilumat sehingga bentuknya menye rupai kwas. Kegunaan pengepi ini ialah untuk memercik kan air pada bara atau nyala api yang berkobar. Hal ini dilaku kan untuk menjaga keseimbangan antara nyala/kobaran panas disatu pihak dan kebutuhan/daya muai logam yang akan di bentuk menjadi senjata tradisional atau sejenisnya. Bentuk pangeppi adalah sebagai berikut (lihat gambar 13). Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA53