Lamellong dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16 masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE (1568-1584). Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok pikiran beliau menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan. Tentang Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisan yang ada lebih banyak mencatat tentang buah pikirannya yang menyangkut “Konsep Hukum dan Ketatanegaraan” dalam bahasa Bugis Bone disebut “Pangngadereng”. Dalam lintasan perjalanan Kerajaan Bone dilukiskan, betapa besar jasa Lamellong dalam mempersatukan tiga Kerajaaan Bugis, yakni Bone, Soppeng, dan Wajo, da...
Masih tentang wisata. Salah satu tempat wisata pantai lain selain pantai Batu Hiu adalah Tanjung Palette. Tanjung Palette merupakan salah satu kawasan wisata di kabupaten Bone, sekitar 12 km sebelah timur dari kota Watampone. Watampone ditempuh sekitar 3 jam dari kota Makassar. Tempat wisata ini sekarang sangat populer bagi wisatawan domestik, tak pernah sepi dari pengunjung terutama di hari raya. Itu karena keindahan alamnya, suara deburan ombak yang keras dan harga tiket yang murah. Tanjung Palette terletak di pesisir Teluk Bone, bukan berupa hamparan pasir namun pantai dengan karang yang lumayan terjal. Salah satu sensasi berkunjung ke tempat ini adalah pemandangan bukit karang yang cantik disertai dengan deburan ombak yang keras. sejak dulu, keindahan kawasan Palette telah menarik perhatian wisatawan lokal, namun karena kurangnya fasilitas maka sepi pengunjung. Sekarang , tempat wisata ini di lengkapi berbagai fasilitas tambahan setelah mendapat perhatian dari pemerintah...
Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu. Mula-mula orang Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di Biru-biru. Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut. Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu. Setelah perang selesai, Arumpone dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Arumpone mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan, ”Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan...
Upacara Attahuru Bente , adalah upacara khusus untuk meminta do’a, dengan harapan rezeki dan usaha warga melalui laut (perikanan) dapat bertambah. Untuk melaksanakan rencana upacara tersebut, terlebih dahulu Ammatoa selaku penghulu adat, memanggil para pembantunya. Diantaranya ialah Galla Anjuru , Galla Maleleng dan seorang Sanro /dukun Kampung, yang disebut Gurutta di Lolisang . Kepada Ketiga pemangku adat ini, diminta pendapatnya tentang rencana itu. Setelah terjadi mufakat, ditetapkan pula hari pelaksanaan aknganro - Konjo (meminta do’a). Selanjutnya Ammatoa memerintahkan kepada Galla Puto , sebagai sekretaris adat, untuk mengundang seluruh pemangku adat Kajang untuk bermusyawarah. Kegiatan bermusyawarah untuk membicarakan sesuatu, disebut oleh mereka dengan a’borong’ (berkumpul). Da...
Karya : DR B.F.Matthes, Boeginische Chrestomathic, I.P.L-27 dalam Rahim (1985:207-227). Disadur Oleh : Ir.H.Abdu Samad H.A.Umar, M.Si. Ceritera ini merupakan ceritera rakyat (Legenda) yang mempunyai banyak peristiwa yang luar biasa. Substansinya ada pada Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis, dan sangat berguna pada saat ini dimana budaya sipakatau atau sipakalebbi sudah mengalami pergeseran dalam alam demokrasi lokal. Baik itu masyarakat lokal maupun bagi pasompe (Pengembaraan Orang Bugis) yang senantiasa rindu kampung halamannya, maupun pernah mendengar ceritera masa lampau oleh orang tua kita dahulu hingga dibawa ke perantauan. Hal ini merupakan ceritera tersendiri di kalangan pasompe, membuat rindu kampung halaman, sanak saudara dan Wari’ (asal usul), memperpanjang usia (lamperi sunge) karena mengembang biakkan manusia (Pabbija Tau) dan Merindangkan Pepohonan (Palorong Welareng) di tanah seberang di mulai dari C...
Di Makassar terdapat salah satu tradisi adat dalam pernikahan yang mensyaratkan uang panai yang harus dibayar oleh pihak laki-laki untuk meminang calon mempelai wanita. Meski digunakan untuk meminang, uang panai ternyata tidak termasuk dalam uang mahar. Uang panai dikatakan sebagai uang belanja, sedangkan mahar merupakan mas kawin saat menikah. Jumlah uang panai yang harus dibayar oleh lelaki Bugis tidak bisa dibilang sedikit, tergantung dari latar belakang sang perempuan yang ingin dinikahi, baik dari faktor pendidikan ataupun faktor keturunan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang wanita yang ingin dipinang, semakin besar pula uang panai yang harus dibayar. Atau jika sang perempuan berasal dari keluarga bangsawan, meski tingkat pendidikannya rendah, tetap bisa mendapatkan uang panai yang besar. Besarnya uang panai juga dapat dikondisikan sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak. Budaya uang panai ini kerap dikaitkan dengan kebiasaan lelaki Bugis yang suka merantau kel...
Permainan satu ini adalah permainan khas anak SD doeloe di Makassar. Kalau lagi istirahat di sekolah biasanya main ini, namanya domikado. Bukan kartu domino yaa . Cara mainnya gampang, tinggal buat lingkaran sambil kedua tangan diletakkan diatas paha, teman yang disampingmu akan menepuk telapak tanganmu sambil menyanyikan Nah, yang telapak tangannya kena tepukan saat “ten” dia bakal dihukum, hukumannya pun macam-macam tergantung teman-temannya mau dihukum apa hehe kasian yaa tapi kita juga bisa menghindari tepukan saat “teen” itu loh, jadi kalo gak kena tepukan yaa upa’ = beruntung . Sumber : https://snurulita.wordpress.com/2016/02/12/permainan-tradisional-anak-makassar-dende-dan-domikado-pernah-main-gak/
Ini permainan irama alu dan lesung. Para pemainnya saling bergantian menumbukkan alu pada sebuah lesung hingga tercipta irama yang apik, menarik dan harmonis. Para pemainnya juga bernyanyi mengucap rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Irama dan nada yang rancak, membuat para pemainnya kian bersemangat. Sumber : https://sains.kompas.com/read/2013/02/16/12262285/menyenangkan.permainan.tradisional.bugis-makassar
Permainan ini diangkat dari permainan masyarakat pesisir Bugis-Makassar. Pada permainan ini, pemain akan bergerak di titik awal ke titik tertentu menggunakan sarung sebagai kendaraan. Sarung yang digunakan dalam permainan ini menyimbolkan sebuah perahu yang digunakan seorang nelayan saat pergi berlayar mengarungi lautan. Dulunya, satu sarung dimainkan oleh satu orang pemain. Kini, satu sarung dimainkan oleh dua orang pemain yang duduk berhadap-hadapan dan saling bekerja sama menjalin kaki untuk menggerakkan perahu sarung. “Permainan bise’-bise’ang ini benar-benar menguji kekompakan para pemain dalam satu tim. Meski kelihatannya sederhana, tapi permainan ini sungguh menguras tenaga, juga menguras tawa!” seru Ramon terkekeh. Dan sungguh, permainan ini memang sungguh kocak bagi yang melihatnya. Sumber : https://sains.kompas.com/read/2013/02/16/12262285/menyenangkan.permainan.tradisional.bugis-makassar