L Or 1928 disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah dluwang (daluang) ini kemungkinan besar sudah berada di Belanda pada akhir abad ke-16. Naskah yang sudah sangat tua ini penting karena kemungkinan merupakan salah satu naskah berbentuk codex (buku) yang tertua dari Nusantara. Naskah ini memuat teks ajaran mistik agama Islam menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa.
Upacara adat Jawa sering disebut “selametan”. Upacara ini dilakukan secara turun temurun sebagai peringatan doa. Upacara ini dilakukan untuk mendoakan para leluhur agar diberinya ketentraman. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Dalam pernikahan adat Jawa ada yang dikenal juga upacara perkawinan yang sangat unik dan sakral. Banyak tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat Jawa yang satu ini, mulai dari siraman, siraman, upacara ngerik, midodareni, srah-srahan atau peningsetan, nyantri, upacara panggih atau temu penganten, balangan suruh, ritual wiji dadi, ritual kacar kucur atau tampa kaya, ritual dhahar klimah atau dhahar kembul, upacara sungkeman dan lain sebagainya. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Upacara larung sesaji adalah upacara yang digelar orang Jawa yang hidup di pesisir pantai utara dan Selatan Jawa. Upacara ini digelar sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan selama mereka melaut dan sebagai permohonan agar mereka selalu diberi keselamatan ketika dalam usaha. Berbagai bahan pangan dan hewan yang telah disembelih akan dilarung atau dihanyutkan ke laut setiap tanggal 1 Muharam dalam upacara adat Jawa yang satu ini. Sumber: http://discovercity.id/inilah-7-upacara-adat-jawa-yang-selalu-menjadi-tradisi-unggul/
Mitoni adalah upacara mempersiapkan kelahiran bayi saat usia kehamilan 7 bulan. Upacara adat Jawa ini lekat dengan budaya Islam. Jika diselenggarakan dengan adat Jawa utuh, prosesi mitoni membutuhkan seharian penuh dan biaya yang relatif besar. Upacara ini mirip-mirip dengan pernikahan Jawa, ada sungkeman dan siraman. Keluarga yang menggelar upacara ini juga harus mengundang tetangga dan kenalan untuk ikut mendoakan si jabang bayi. Sumber: https://www.moneysmart.id/5-tradisi-yang-masih-berlaku-di-indonesia-meski-butuh-banyak-biaya/
Dahulu kala ada Kadipaten yang pusat Pemerintahannya sebelah barat berbatasan dengan Kadipaten Gunung Merapi dan sebelah timurnya berbatasan dengan Kadipaten Gunung Lawu, Kadipaten ini dipegang oleh Adipati Ki Singodrono dengan Patihnya Ki Eropoko, semua bijaksana, tekun menggeluti ilmu kebatinan dan kamuksan. Ki Eropoko mempunyai putri yang bernama Mas Ajeng Lulud yang canti parasnya dan menyukai segala tari tarian dan karawitan, pimpinan wadyobolo di Kadipaten tersebut menjadi bawahannya Nyi Roro Kidul dan setiap tahunnya di Kadipaten Gunung Merapi menyerahkan pisungsung manusia, sedang di Kadipaten Gunung Lawu berwujud Hewan. Ki Singodrono dan Ki Eropoko tidak setuju dengan korban manusia, maka menyebabkan muksa, Ki Singodrono muksa di Sendang Barat dan Ki Eropoko muksa di Sendang Timur, pada suatu hari ada seorang petani, karena lelahnya mengerjakan sawahnya pada saat dia layap layap setengah tidur (layap layap mendengar suara : He Ki Petani agar ha...
Tradisi asrah batin kembali digelar warga dua desa di Kecamatan Kedungjati. Yakni, warga Desa Ngombak dan Karanglangu. Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu dilangsungkan setiap dua tahun sekali. Biasanya, tradisi ini dilangsungkan pada hari Minggu Kliwon di Bulan September. Namun, untuk tahun ini pelaksanaannya dimundurkan karena September masih bersamaan dengan Bulan Muharam. Setiap digelar, tradisi ini selalu dipadati ribuan orang. Selain warga dari dua desa, banyak orang dari luar daerah yang antusias menyaksikan jalannya tradisi ini. Tradisi ini dilakukan dengan adanya kunjungan Kepala Desa Karanglangu bersama ratusan warganya menuju Desa Ngombak. Kunjungan dilakukan dengan menyeberangi Sungai Tuntang yang memisahkan kedua desa tersebut. Kades Karanglangu Agus Slamet beserta istri menaiki rakit beralas karpet yang dihias dengan janur, dan bendera merah putih. Meski arus sungai saat itu cukup deras prosesi penyeb...
Rumah Jawa lebih dari sekedar tempat tinggal. Masyarakat Jawa lebih mengutamakan moral kemasyarakatan dan kebutuhan dalam mengatur warga semakin menyatu dalam satu kesatuan. Semakin lama tuntutan masyarakat dalam keluarga semakin berkembang sehingga timbullah tingkatan jenjang kedudukan antar manusia yang berpengaruh kepada penampilan fisik rumah suatu keluarga. Lalu timbulah jati diri arsitektur dalam masyarakat tersebut. Rumah Jawa merupakan lambang status bagi penghuninya dan juga menyimpan rahasia tentang kehidupan sang penghuni. Rumah Jawa merupakan sarana pemiliknya untuk menunjukkan siapa sebenarnya dirinya sehingga dapat dimengerti dan dinikmati orang lain. Rumah Jawa juga menyangkut dunia batin yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa. Bentuk dari rumah Jawa dipengaruhi oleh 2 pendekatan yaitu : Pendekatan Geometrik yang dikuasai oleh kekuatan sendiri Pendekatan Geofisik yang tergantung pada kekuatan alam lingkungan Kedua pendekatan itu akhirnya m...
Joglo Jompongan merupakan bentuk rumah joglo yang memakai 2 buah pengeret dengan denah bujur sangkar. Bentuk ini merupakan bentuk dasar joglo. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-jawa-tengah/