Bahan : Buah-buahan terdiri dari Jambu kelutuk atau jambu air, Delima, Jeruk Bali, Mengkudu muda, Bangkuang, Nenas, Ketela Rambat, buah Mangga mentah dan Ketela Pohon. Cara Pengolahan : buah-buahan di kupas kulitnya( bagi buah-buahan yang harus dikupas), kemudian sama-sama dibersihkan diiris-iris jecil atau disugu. Bumbu rujak ditumbuk sampai halus masukkan buah-buahan tadi di aduk sampai merata. Dipergunakan untuk : Tingkep ialah upacara mandi bagi wanita hamil 7 bulanan. sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6187
Bahan : Beras dan Telur Cara Pengolahan : Beras di cuci kemudian ditanak dengan karih, kemudian dikukus dengan menggunakan aseupan. Setelah matang diambil separuh dari nasi tersebut, diletakan telur pada bagian puncak disimpan di baskom kecil atau sedang. Dipergunakan untuk : 1. Puput puseur 2. Ngajeuneungkeun (pemberian nama pada bayi) 3. Sasajen Khitanan 4. Sasajen Perkawinan 5. Sasajen Ngaruwat 6. Sasajen Nyuguh sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6188
Bahan : Beras dan Daun Pisang. Cara Pengolahan : Beras di cuci lalu diberi garam dan apu sampai rata, dibungkus dengan daun pisang di ikat dengan tali dari sapu pare. Dipergunakan untuk : 1. Perkawinan 2. Khitanan 3. Puput Puser / Pemberian nama 4. Ngaruwat 5. Nyuguh 6. Hari Raya Idu Fitri 7. Muludan sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6190
JESTIKA adalah nama minuman ringan alami berbahan baku jeruk sambal. JESTIKA diproduksi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Weragati. Nama JESTIKA merupakan kependekan dari ?Jeruk Sambal Weragati Majalengka?. JESTIKA diproduksi dalam dua jenis, yaitu sirup dan minuman siap saji. Sirup dikemas dalam bentuk botol, sedangkan minuman siap saji dikemas dalam bentuk gelas sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=3029
Krupuk Katak merupakan makanan ringan yang dibuat dari perut ikan cucut. Dalam proses pembuatan kerupuk katak),diperlukan beberapa macam yaitu perut ikan yang dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan kerupuk katak harus dalam kondisi yang memenuhi syarat baik dari segi kesegarannya. sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=2289
Bahan : Makanan kecil (ringan) yang bisa disebut Hahampangan yang terdiri dari Ranginang, Simping, Roti Kering, Koya, Semprong, Epres, Katus dan lain-lain sebanyak 7 macam. Biasanya diberikan kepada pimpinan upacara atau dapat pula dimakan oleh keluarga. Dipergunakan untuk : 1. Perkawinan 2. Khitanan 3. Nyuguh 4. Ngaruwat 5. Tingkeb 6. Puput Puser sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6191
Bahan : Roti, Gula Merah, Gula Batu, Pisang, Kelapa dan Air. Cara Pengolahan : Semua bahan mentah di iris-iris kecil, kemudian diseduh dengan air sedikit. ? Dipergunakan untuk : 1. Perkawinan 2. Kematian 3. Khitanan 4. Ngaruwat 5. Nyuguh 6. Mitembeyan 7. Panen 8. Selamatan Lainnya. sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6192
Doclo singkatan dari Dicomot Nyonclo. Dinamakan demikian karena berukuran kecil berbentuk limas. Dibuat dari beras. Mula-mula beras dicuci kemudian dikukus sampai air didangdang mendidih. Setelah itu, beras disimpan dalam dulang atau wadah dari plastik. Kemudian disiram air yang mendidih, ketinggian air di dulang kira-kira sebatas satu buku jari telunjuk. Dibiarkan beberapa saat sampai airnya menyerap ke dalam beras (gigih). Beras yang sudah lembek ini dibungkus kecil-kecil berbentuk limas memakai daun pisang sebagai isinya tempe yang dimasak memakai kunyit, daun salam, dan bumbu penyedap. Setelah dibungkus lalu dikukus sampai masak. sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=2057
Makanan atau pangan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia. Keberadaan makanan tersebut dibutuhkan untuk menyusun tubuh, sebagai sumber energi, dan zat tertentu untuk mengatur proses metabolisme. Makanan merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dipunyai oleh manusia. Kenyataannya, pengolahan bahan-bahan mentah hingga menjadi makanan, perwujudan, penyajian, dan cara-cara mengkonsumsinya senantiasa berhubungan dengan berabagai aspek sosial budaya suatu masyarakat. Beberapa diantaranya terkait dengan sistem ekonomi, sistem pelapisan sosial, dan sistem nilai budana. Eksistensi makanan dalam khidupan suatu masyarakat tidak terbatas hanya untuk memenuhi kepentingan tersebut. Ada nilai sosial atau makna lainnya yang tersirat dibalik rasa, warna dan bentuk suatu makanan.Nilai-nilai tadi terkristalkan melalui proses pemaknaan masyarakat sesuai dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan transendennya. Wujud akhir dari proses tersebut adalah terciptanya jenis dan bent...