Istana Tampaksiring adalah istana yang dibangun setelah Indonesia merdeka, yang terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Istana ini berdiri atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan yang hawanya sejuk jauh dari keramaian kota, cocok bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga maupun bagi tamu-tamu negara. Arsiteknya adalah R.M. Soedarsono dan istana ini dibangun secara bertahap. Komplek Istana Tampaksiring terdiri atas empat gedung utama yaitu Wisma Merdeka seluas 1.200 m2 dan Wisma Yudhistira seluas 2.000 m2 dan Ruang Serbaguna. Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira adalah bangunan yang pertama kali dibangun yaitu pada tahun 1957. Pada 1963 semua pembangunan selesai yaitu dengan berdirinya Wisma Negara dan Wisma Bima. Tampaksiring Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu "tampak" dan "siring", yang masing-masing bermakna telapak dan miring. Konon, menurut sebuah le...
Tampak sekilas, senjata perang ini bentuk Blakas yang besar mirip dengan “golok cepot”, atau sebutan lainnya “golok dapur”. Golok saat ini dipakai untuk perlengkapan dapur dan juga dipakai untuk memotong hewan qurban akan terasa tidak pas dan beresiko menimbulkan kesalahan potong, atau meleset. Ide dua pisau beda dimensi dalam satu sarung, adalah pilihan yang bagus. Satu bilah sangat tebal berat, dan satu lagi bilah pisaunya tipis ringan serta melengkung. Artinya, alat tersebut kemana saja sudah bisa dipakai untuk pekerjaan didalam rumah. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Keunikan dan kesakralan keris Bali bikin banyak orang mencarinya, baik untuk kepentingan ritual atau sekadar untuk dikoleksi. Hampir sama dengan keris Jawa, karakter utama dari keris Bali adalah lekukan yang diciptakan dalam proses penempaan. Sesuai dengan pakem yang mengikuti keris Jawa, maka jumlah lekukan harus selalu berjumlah ganjil. Pembuat keris beranggapan, keris yang sempurna selalu berjumlah ganjil karena memiliki filosofi tertentu. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Tombak merupakan senjata perang pada zaman dahulu. Konon, ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan, tombak digunakan oleh prajurit kerajaan yang berfungsi sebagai senjata perang. Senjata tombak bisa tergambarkan dalam tari Bali dikenal dengan nama tari Wirayudha. Tari Wirayudha merupakan tari perang yang diperankan oleh 2 sampai 4 pasang penari pria bersenjatakan tombak. Tari tersebut menggambarkan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan perang. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Kandik adalah senjata tradisional Bali berupa sebilah kapak. Sesuai dengan bentuknya, senjata kandik ini juga digunakan oleh para pria untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, seperti halnya membelah kayu, menebang pohon, atau pekerjaan lainnya. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Caluk ialah senjata tradisional berupa sebilah pisau lengkung dengan bagian pegangan atau gagangnya yang panjang. Gagang panjang pada senjata Caluk ini berguna untuk menjangkau daerah yang jauh dan juga tinggi, seperti halnya disaat hendak memotong ranting, memanen buah, dan lain sebagainya. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Penampad adalah Senjata Tradisional di Bali yang berbentuk seperti pisau panjang semacam pedang dan sering digunakan untuk membersihkan rumput pada pematang sawah. Semoga senjata tradisional pada gambar diatas masih ada dan terus akan ada. Wisata sejarah harus juga digalakan di Bali. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Trisula atau serampang (Sanskerta: trishul) adalah tombak bermata tiga yang secara harfiah berarti tiga tombak. Trisula adalah senjata Siwa, salah satu dari Trimurti yang sering disembah pada masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha di Jawa dan Bali. Sumber : https://www.silontong.com/2018/04/25/senjata-tradisional-bali/
Pada sebuah desa di Bali, hiduplah dua orang anak yang bernama Bawang dan Kesuna. Keduanya masih memiliki orang tua yang lengkap, ayahnya seorang petani dan ibunya menjaga kedua anaknya di rumah. Pada suatu hari, Ibunya pergi ke pasar cukup lama, seperti biasa ayahnya menggarap sawah. Mereka membagi pekerjaan rumah untuk memasak nasi, dll. Kesuana yang baik hati, meminta Bawang untuk menumbuk padi, karena dia mau mengerjakan yang lain. “Maaf Kesuna, kamu yang menumbuk, nanti aku yang mengayak,” begitu ucapan Bawang. Akhirnya Kesuna yang sering mengalah, diapun mulai menumbuk padi. Selepas itu, Kesuna kembali meminta Bawang menepati janjinya mengayak padi yang sudah menjadi beras, “Bawang, ini…” Sebelum Kesuna berbicara, bawang memotong ucapannya itu, “Kesuna, kamu ayak saja, biar aku yang memasak” Kesuna yang sabar terus diuji, dia pun mengayak. Setelah it...