Bahan-bahan : oncom 6 ptg. minyak 1 gls. tepung beras 1/2 gls. Bumbu-bumbu : bawang putih 4 siung kemiri 2 bj. ketumbar 1/2 sdt. jinten 1/4 sdt. kunyit 1/2 rj. garam 1 sdt. Cara membuatnya : Oncom diiris tipis. Bumbu dihaluskan, tepung dicampurkan ditambah air dibuat adonan yang agak kental. Irisan oncom dicelupkan ke adonan, digoreng sampai kering. RM/Toko yang Menyediakan : Warung Sangrai Restoran Berlokasi di: Heritage The Factory Outlet Alamat: Heritage F.O., Jl. L. L. R. E. Martadinata No. 63, Bandung Wetan, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115 Telepon: 0812-2241-6010 Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 671
Bahan-bahan: tauco 10 sdm. minyak goreng 2 sdm. kelapa 1/2 btr. Bumbu-bumbu: bawang merah 6 bh. bawang putih 3 siung lombok hijau 5 bh. sereh 1/4 btg. salam 2 lbr. asam 4 mt. gula 1/2 sdm. garam 2 sdt. Cara membuatnya: Bawang merah, bawang putih, lombok hijau diiris halus. Kelapa diparut, dibuat santan kental. Bawang merah, bawang putih, lombok hijau yang telah diiris-iris ditumis, ditambah bumbu-bumbu lain, kemudian tauco dimasukkan. Kemudian santan dimasukkan, dan didihkan. RM/Toko yang Menyediakan : Waroeng SS Spesial Sambal Margonda Depok Restoran Indonesia Alamat: Jl. Margonda Raya No. 280, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16423 Telepon: (021) 77201492 Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 783
Bahan-bahan: ubi jalar kuning 7 bh. tepung terigu 50 g. telur ayam 1 btr. minyak goreng 1/2 btl. Bumbu-bumbu: lada halus 1 sdt. pala 1/4 sdt. seledri 1 ikt. daun bawang 1 ikt. garam 1 sdt. Cara membuatnya: Ubi jalar direbus, dikupas, dihaluskan. Tepung terigu dicampurkan sampai rata. Seledri, daun bawang diiris halus, bumbu dihaluskan. Telur dikocok. Daun bawang dan seledri dicampur dengan adonan, dicampur rata. Dibentuk bulat panjang seperti telur ayam. Digoreng dalam minyak yang panas, sampai warnanya kuning. RM/Toko yang Menyediakan : Bogor Permai Bakery & Restaurant Toko Roti Alamat: Jalan Jendral Sudirman No.23A, Pabaton, Bogor Tengah, Pabaton, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16121 Telepon: (0251) 8321115 Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 992-9...
Bahan-bahan: tepung beras 1/2 kg. tepung tapioka 1 ons kelapa 1/2 btr. gula merah 1/2 kg. soda kue 1 sdt. minyak goreng 1 gls. garam 1/2 sdt. Cara membuatnya: Kelapa diparut, dibuat santan dengan cairan 1/2 liter = 2 gelas. Tepung beras, tapioka, soda kue dicampur menjadi satu sampai rata. Gula dilarutkan dalam santan dengan garam dan dijerangkan. Disaring, kemudian dituangkan sedikit demi sedikit dalam adonan tepung. Adonan diremas-remas sampai mengembang, dibiarkan 1 jam supaya berkembang. Adonan digoreng dalam minyak panas sesendok demi sesendok, sambil digoreng minyak disiram-siramkan ke atas adonan. Supaya kue mengembang, dapat pula ditusuk tengahnya dengan lidi. Kue digoreng sampai warnanya coklat. Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 995-996
Sanghyang Siksakanda ng Karesian merupakan naskah didaktik, yang memberikan aturan, resep serta ajaran agama dan moralitas kepada pembacanya.Sanghyang Siksakanda ng Karesia merupakan "Buku berisi aturan untuk menjadi resi (orang bijaksana atau suci)". Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri dari 30 lembar daun nipah. Naskah ini bertanggal "nora catur sagara wulan (0-4-4-1)", yaitu tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi. Naskah ini telah menjadi rujukan dalam publikasi yang diterbitkan oleh Holle dan Noorduyn. (1987:73-118).[3] Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian berasal dari Galuh (salah satu ibukota Kerajaan Sunda).
Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang. Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri pa...
Kitab Suluk Linglung tidak terlalu di kenal karena di samping isinya hampir sama dengan kitab dewaruci, kitab ini juga belum lama di terbitkan. Kitab ini di tulis oleh Sunan Kalijaga pada masa menjelang akhir hayatnya, setelah itu kitab itu di bungkus dengan kain putih beliau kemudian berpesan pada salah satu putranya agar benda tersebut di simpan baik – baik dan terus dan di wariskan kepada generasi selanjutnya secara turun temurun untuk menjaga benda pusaka itu, akan tetapi Sunan Kalijaga sendiri tidak pernah mengatakan kepada ahli waris nya bahwa itu adalah sebuah kitab. Begitu seterusnya sampai pada akhir abad ke 20 kitab tersebut akhirnya jatuh ke tangan salah seorang keturunan Sunan Kalijaga ke -14 yang bernama R.Ay. Supartini Mursidi. Singkat kisah buku ini di berikan kepada seorang penulis yang bernama Drs Muhamad Khafid Kasri yang merasa mendapat petunjuk ghaib bahwa R.Ay. Supartini menyimpan warisan kitab dari Sunan Kalijaga berupa kitab kuno bertuliskan huruf ar...
Sumedang adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di kabupaten ini, tepatnya di Desa Karedok, Kecamatan Jati Gede, ada satu upacara adat yang disebut dengan ngarot. Kata “ngarot” dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai “berkenduri menjelang mengerjakan sawah” (Prawiro-atmodjo, 198: 422). Sedangkan, dalam bahasa Sunda, kata “ngarot” berasal dari kata “ngaruat” yang artinya adalah “selamatan untuk menolak bala”. Asal usul upacara ngarot di Desa Karedok berawal pada sekitar tahun 1900-an, ketika desa itu dilanda wabah penyakit yang banyak memakan korban, baik manusia maupun hewan peliharaan. Melihat warganya mendapat musibah, Erum, Kepala Desa Karedok waktu itu, meminta bantuan seorang Polisi Desa bernama Ki Maryamin untuk bertapa selama 40 hari-40 malam. Tujuannya adalah mencari tahu penyebab terjadinya wabah penyakit di Desa Karedok. Konon, ketika menjelang malam ke-40 tiba-tiba Ki...
Ki Lapidin adalah tokoh Subang di era Belanda. Ki Lapidin yang merupakan jagoan Subang yang hidup pada zaman Pamanoekan and Tjiasem Lands atau sering dikenal P&T Lands. Selama ini belum banyak yang tahu ternyata Subang memiliki cerita rakyat yang melegenda. Terutama generasi muda banyak yang belum tahu tentang cerita Ki Lapidin yang ternyata ada sosok jagoan Subang yang membela rakyat kecil pada jaman P&T Lands dulu. Ceita tentang Ki Lapidin, dalam buku Ki Lapidin disebut bahwa Ki Lapidin merupakan sosok jagoan yang membela masyarakat kecil dan menjadi pahlawan bagi warga Subang saat menghadapi penjajah Belanda. Namun diakhir cerita Ki Lapidin harus mati digantung di Wisma Karya Subang. Cerita Ki Lapidin Jagoan Subang dan Lagu Kembang Gadung Cerita Ki Lapidin dalam beberapa waktu terakhir menyeruak ke publik. Sejumlah pegiat seni-budaya mengurai kisah Ki Lapidin dalam bentuk buku ata...