Alkisah, di daerah Kalimantan Timur, terdapat sebuah sungai yang bermuara di Sungai Kahayan. Muara sungai itu bernama muara Sungai Sian. Di muara sungai itu terdapat sebuah kampung yang makmur, tenteram, dan damai. Penduduknya senantiasa hidup rukun dan saling membantu satu sama lain. Di tengah-tengah kedamaian itu, tiba-tiba mereka diserang oleh kawanan perampok dengan persenjataan lengkap. Mereka memporak-porandakan seluruh isi kampung. Rumah-rumah penduduk hancur berantakan. Tangga dan tiang penyangga berserakan di mana-mana. Melihat keberingasan perampok tersebut, penduduk kampung tidak tinggal diam. Para kaum laki-laki, baik muda maupun tua, berusaha untuk melakukan perlawanan. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan lagi. Alhasil, mereka dapat menghalau perampok tersebut, meskipun banyak warga yang harus menjadi korban. Setelah musuh itu pergi, mereka segera menguburkan warga yang tewas dan membersihkan serpihan-serpihan rumah yang masih ber...
Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur . Sungai yang panjangnya mencapai 920 km dengan lebar 300-500 meter ini memliki banyak anak sungai. Menurut cerita , sebagian anak Sungai Mahakam terbentuk akibat sebuah peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Anak Sungai Mahakam . * * * Dahulu, di sekitar hulu Sungai Mahakam, terdapat sebuah pondok besar yang dihuni oleh tiga orang bersaudara. Saudara tertua seorang gadis bernama Siluq, saudara kedua bernama Ayus, serta yang paling bungsu bernama Ongo. Mereka memiliki tabiat dan keahlian yang berbeda-beda, kecuali si bungsu yang masih kecil. Siluq adalah gadis yang gemar melakukan bebelian (ritual adat) dan bedewa (memuja dewa) untuk mencari kesaktian. Hampir setiap hari dan malam hari gadis itu bersemedi sehingga terkadang lupa makan dan minum. Sementara itu, Ayus adalah seorang remaja lelaki yang ceroboh dan suka mencamp...
Bulan tarang bapagar bintang Langit menguning kaya di siang hari Nyaman baduduk nyaman baduaan Kada tarasa malam pang larut Bulan haji datanglah sudah Urang tatuha sudah baniatan Handak mangawinakan nang batunangan Si Aminah awan Si Adul Datanglah sudah datanglah jua Hari Ahad nang di tunggu Baharum harum kambang melati Kambang goyang diujung galung Pangantinya sudah basanding Duduk di palaminan adat banjar Adat urang tatuha bahari Kada tatinggal saumur hidup Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/04/lirik-lagu-daerah-kalimantan-timur.html
Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu negara bagian Sabah dan Serawak. Selain dikenal dengan keindahan alam, kebudayaan serta adat istiadatnya, wilayah yang mayoritas dihuni oleh suku Dayak dan Kutai sebagai penduduk asli Kalimantan Timur juga memiliki kekayaan lain berupa pakaian adat tradisional. Bergantung fungsi dan penggunaannya masyarakat Kalimantan Timur biasa mengenakan pakaian khas daerah mereka untuk keperluan tertentu seperti saat upacara perkawinan, pertunjukan tarian, dan untuk acara lainnya. Barangkali sebagian dari kita sudah sering melihat pakaian adat suku Dayak yang dikenal identik dengan hiasan berupa susunan manik-manik beraneka warna sebagai penghias kain hitam yang digunakan sebagai bahan dasar pakaian adat Dayak. Pakaian adat yang dikenakan oleh wanita dikenal dengan nama Ta a dan sementara pakaian adat yang dikenakan oleh pria disebut dengan sapei sapaq. Dilihat dari cara berb...
Di Berau terdapat Kesultanan Gunung Tabur, sebelum menjadi kesultanan masyrakat asli disana adalah Suku Dayak dengan mengamalkan budaya Dayak seperti mengayau. Kesultanan Gunun Tabur baru berdiri sekitar tahun 1800an setelah banyak masyarakatnya memeluk Islam. Kali ini folks kita akan membahas budaya mengayau dan ERAU CANCUT HITAM bagi laki-laki Dayak di daerah Gunung Tabur ini. Masyrakat Dayak yang ada di Berau adalah Suku Dayak Bulungan, Duku Dayak Kelay, Suku Dayak Sambaliung, Suku Dayak Gunung Tabur dan lain sebagainya. Hampir semua sub Suku Dayak pada masa lalu melakukan budaya pengayauan atau head hunting , dan setiap sub suku memiliki alasan-alasan tersendiri kenapa mereka perlu mendapatkan kepala manusia. Masyarakat Dayak di Gunung Tabur pada masa lalu menganggap seorang laki-laki telah dewasa jika ia berhasil membawa kepala atau setidaknya ikut dalam ekspedisi perburuan kepala manusia. Jika sang laki-laki tidak pernah sama sekali ikut didalam ekspedisi perburuan kepa...
Untuk menjadi seorang IMAM Dayak, sangatlah tidak gampang, ada proses “MANGAJI” atau belajar yang cukup lama. Penulis pernah berjumpa dan berdiskusi dengan seorang Belian Dayak Dusun di Samarinda. Beliau mempelajari ilmu Belian selama 7 tahun, 7 minggu, 7 hari, 7 jam, 7 menit dan 7 detik. Selama proses mangaji ini, banyak hal yang tidak mengenakan harus dilalui sang “apprentice” . Tidak seperti saat ini banyak bermunculan para belian “express”, hanya tahu beberapa rinait atau mantera sudah mengaku diri sebagai seorang belian. Berikut ini adalah proses menjadi seorang BOBOLIAN atau BOBOHIZAN Dayak Dusun Sabah: 1. Proses pertama adala proses MANGAJI atau proses pembelajaran yang dilakukan minimal 9 tahun, untuk mempelajari Rinait (Mantera) Mengenali tumbuhan hutan dan kegunaannya praktek ritual 2. Pengajar senior disebut “Mokiraa” , semantara sang apprentice disebut “Po...
Paren adalah semacam raja didalam kalangan Dayak Kenyah. Jika seorang paren meninggal dunia dan hendak dimakamkan maka akan ada tanda-tanda alam yang menyertainya yaitu akan muncul fenomena alam seperti “halo matahari” (cincin disekitar matahari) dan munculnya beberapa binatang disekitar area pemakaman seperti kijang, kancil, burung dan ular. Konon juga biasanya buah-buahan seperti durian, rambutan tidak berbuah selama 1-2 tahun, dan pada saat kaum paren meninggal akan diikuti dengan adanya guntur dan petir walaupun itu disiang hari bolong, biar musim kemarau biasanya ada hujan deras walaupun hanya 1 hari saja, apabila meninggalnya tengah hari yang cerah tiba-tiba langit menjadi gelap diselingi Guntur dan petir. Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2013/12/08/fenomena-alam-ketika-pemakaman-paren-raja-kenyah/
Pupur basah atau yang diartikan ke bahasa Indonesia bedak basah. Bedak ini sangatlah populer di daerah Kalimantan Timur dan bisa ditemui di salah satu kampung dimana keluarga besar saya tumbuh, Long Iram. Berawal dari mayoritas penduduk yang merupakan petani dan harus menahan panas dan terpapar sinar matahari setiap hari, munculah sebuah ide untuk mengenakan sesuatu yang dapat mengurangi paparan sinar matahari yang dapat merusak kulit. Berbahan dasarkan padi yang ditumbuk menjadi halus dan dikeringkan lalu dibentuk menjadi bulatan bulatan kecil, bedak ini sangat lah mudah dibuat dan digunakan. Hanya perlu menambahkan air bedak ini siap dipakai dan diluluri di wajah. Selain melindungi dari paparan sinar matahari, pupur basah juga dapat mengencangkan wajah yang fungsinya seperti masker. Pupur basah masih sering dijumpai di daerah Kalimantan bukan hanya pada okoasi tertentu, namun juga dijual untuk penggunaan sehari-hari. #OSKM2018
Pesta Laut Bontang Kuala adalah acara adat yang terjadi karena perwujudan nelayan bontang kuala kepada Tuhan atas hasil laut yang sangat berlimpah serta doa kepada Tuhan untuk perlindungan dan hasil laut yang berlimpah. Pesta laut digelar tiap tahunnya sejak dulu, biasanya di akhir tahun berlangsung paling lama seminggu. Yang isinya terdapat ritual adat, tarian, dan perlombaan. Upacara adat terbagi-bagi lagi. Yang pertama, namanya menjammu kampung. Tokoh masyarakat membakar kelapa kering diatas kapal dan menuju ke tempat yang sudah diberi tanda dengan darah ayam untuk meletakkan sesaji. Kedua ada Bebalai, dalam upacara ini tamu utama duduk diatas balai. Setelah itu balai digunakan untuk pengobatan selama 3 hari dan setelah itu balai akan dilabuh ke laut. Ketiga pagar mayang, merupakan pengobatan untuk orang yang hilang ingatan atau gila. Terakhir ada belian samper,digunakan untuk pengobatan. OSKMITB2018