Pasar Terapung adalah salah satu tempat yang paling unik di Indonesia, tempat ini berlokasi di Kalimantan Selatan tepatnya di Banjarmasin. Tempat ini merupakan tempat terjadinya proses jual beli seperti pada umumnya sesuai dengan namanya. Namun, uniknya proses jual beli ini seluruhnya terjadi di atas air tepatnya di muara sungai sehingga setiap pembeli dan penjual harus menggunakan kapal kecil. Pada umumnya barang yang diperjual belikan adalah komoditi perkebunan dan pertanian seperti Sayur, Buah, tanaman, dan lain-lain. Namun, Tidak jarang juka pedagang yang membuka semacam restoran di kapalnya tersebut sehingga para pembeli harus berpindah kapal untuk menikmati makanan di restoran tersebut. Barang-barang perabotan seperti kursi dan lemari pun bidsa dijupai di paar terapung tersebut. Untuk para turis yang ingin berkunjung kesana, saat ini hotel-hotel di banjarmasin khususnya yang terletakdi pinggir sungai sudah menyediakan jasa untuk pergi ke pasar terapung dengan harga yan...
Martapura awal nya namanya adalah Kayuntangi, nama Martapura di berikan oleh Sultan Banjar ke 4, Sultan Mustainbillah pada abad-16 akibat keraton di Kuwin dihancurkan Belanda dan menjadi nama resmi hingga sekarang. Kota ini juga disebut kota santri di Kalimantan, karena terdapat pesantren Darussalam dan di kota ini banyak sekali santri-santri yang berpakaian putih-putih yang hilir mudik untuk menuntut ilmu agama dan selain itu juga kota ini terkenal sebagai kota yang agamis. Salah satu ulama yang terkenal adalah Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bergelar Al Alimul Allamah Al Arif Billaah Albahrul Ulum Al Waliy Qutb As Syeekh Al Mukarram Maulana (biasa dipanggil Abah Guru Sekumpul atau Tuan Guru Ijai )...
Pada zaman dahulu, Sebelimbingan adalah kota yang makmur. Banyak rumah dan gedung-gedung megah. Warga hidup berkecukupan. Tak ada kemiskinan. Kemakmuran itu bukan karena pertanian, tapi dari pertambangan. Konon, empat prajurit Pangeran Diponegoro yang kalah dalam perang melawan Belanda melarikan diri lewat jalur laut. Berlayar dari pulau ke pulau, mereka tiba di pulau kecil yang dari kejauhan tampak selalu diselimuti kabut. Pulau Laut. Dari pantai, mereka naik ke darat dan merahasiakan asal-usulnya. Kepada penduduk setempat, mereka mengaku sebagai petani yang merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Keadaan masih berbahaya bagi mereka. Kaki tangan Belanda ada di mana-mana. Mereka tak mau ambil risiko: ditangkap, dikembalikan ke Pulau Jawa, dibuang atau dipenjara. P...
Guriding atau jaws harp merupakan jenis alat musik lemolofon yang terbuat dari sejenis tumbuhan hutan yang dalam bahasa Dayaknya disebut Belang atau Pohon Jako atau juga bambu yang diambil pelepah yang telah tua kemudian dikeringkan. Setelah kering kemudian dipotong kira-kira sejengkal dan berlidah pada bagian tengahnya dengan ujung yang runcing dan berbunyi bila dipukul. Alat musik ini digunakan selain untuk hiburan juga dipercaya sebagai alat mengusir macan agar tidak mengganggu pada saat berada di ladang atau di tengah hutan. Berikut nama alat musik ini dalam beberapa bahasa Dayak: Dayak Ngaju : Ketong Banjar : Kuriding Dayak Kenayatn : Genggong Dayak Kenyah : Tung Dayak Lun Dayeh : Ruding Dayak Dusun : Turiding Dayak Kadazan : Bungkau Dayak Iranun : Tobung Kutai : Geridikng Untuk melestarikan ini komunitas Banjar akan melakukan pementasan “ Maalun Kuriding Menjemput Zaman” Galeri Indonesia Kaya...
Kaharingan adalah kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu sejak 20 April 1980. Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan. Sumber: https://infokamu12345.blogspot.com/2013/11/agama-agama-asli-indonesia.html
Warna makanan ini sangat indah, seindah makanan-makanan penutup di hotel bintang lima. Putri Selat adalah makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Sumatera. Kue basah ini memiliki warna hijau cerah yang berasal dari daun Pandan dan rasa manis serta gurih yang berasal dari perpaduan santan dan gula pasir. Seperti kue tradisional Indonesia lainnya yang terbuat dari tepung beras, Putri Selat memiliki tekstur kenyal, agak lengket, namun tetap sangat nikmat untuk disantap sebagai snack. Sumber: https://www.top10indo.com/2013/05/10-kue-tradisional-indonesia-terlezat.html
Sari Penganten (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Batapung tawar adalah salah satu tradisi masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, yang sampai saat ini tetap dilestarikan. Apa itu batapung tawar? Batapung tawar bersal dari kata “tapung” (bahasa Indonesia: tepung) dan “tawar”. Kata “tapung” diambil dari bahan yang digunakan dalam tradisi batapung tawar, yakni tepung beras yang dicampur dengan air, sedangkan “tawar” diambil dari nama daun setawar. “Tawar” dalam bahasa Banjar bisa juga diartikan sebagai proses pengobatan. Contohnya dalam bahasa Banjar, “Sudah ditawari apa sakit gigitnya?” Maksudnya, “Sudah diobati apa sakit giginya?” Ternyata istilah “tepung tawar” ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lho. Alat dan bahan batapung tawar adalah air yang dicampur dengan minyak likat baboreh. Minyak ini punya wangi yang khas. Alat lainnya adalah potongan daun pisang, daun kelapa, atau daun pandan, yang gunanya untuk memercikkan air ke...
Malabuh merupakan tradisi Masyarakat Banjar yang percaya bahwa Datu, Kakek atau turunannya memiliki hubungan dengan makhluk gaib “Buaya Kuning, Buaya Putih atau Naga Laki dan Naga Bini” . Tradisi ini sangat sulit untuk kita temukan di Banjarmasin , saat berkeliling untuk dalam rangkaian menuju Festival Kolaborasi Nyawa Sungai Banjarmasin Masa Depan saya dan kawan kawan bertemu dengan sosok Ibu Mastiah yang sedang menyiapkan bahan atau sesaji untuk tradisi Melabuh dalam rangka persiapan upacara Mandi Mandi Hamil 7 Bulanan dan Malabuh Tahunan untuk Keluarga yang memiliki ikatan dengan makhluk gaib tersebut. Dalam Tradisi Malabuh ini sesaji di peruntukkan untuk makhluk gaib “Buaya Kuning” isi dari sesaji ini adalah Upung (Mayang Kandung dari Pohon Pinang) melambangkan Badan , Bogam (Rangkaian Bunga Melati Kenanga dan Mawar) yg melambangkan Telinga, Pisang Mahuli yang melambangkan gigi, Ketan Kuning dan Telur Ayam Kampung yang melambangkan Perut dan Pusar...