Seperti yang kita ketahui bahwa Raja Simamora memiilki 3 anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Sedangkan Debataraja sendiri juga memiliki 3 orang anak, yaitu Sampe tua, Babiat Nainggol, dan Marbulang serta 1 orang putri (boru) yaitu Siboru Namotung (Sibottar Mudar). Lihat tarombo Simamora Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson) mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu. Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layan...
Penutup Kepala “Takula Gere” Penutup Kepala “Takula Gere” Khusus dipakai oleh Imam tradisional atau pemimpin utama agama kuno yang disebut ‘Ere Mbörönadu’ pada upacara pembaharuan hukum yang disebut Fondrakö. Masyarakat Nias yang menyadari pelanggaran dan dosa merasa tidak dapat berkomunikasi dengan dewanya. Karena itu, pemimpin agama kuno menggunakan media “Takula” yang menyerupai wajah manusia untuk menghubungkan manusia dengan dewanya yang ada di atas langit. Takula kayu ini berasal dari wilayah Maniamölö, Nias Selatan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Fondruru Dalinga Anting-anting laki-laki, yang disebut Fondruru Dalinga , biasanya terbuat dari emas, digunakan hanya di telinga kanan, sedangkan telinga kiri tidak menggunakan anting-anting. Bentuknya datar, berornamen bentuk mawar saling berdampingan. Diikat diatas sebuah putaran kecil. Hiasan mawar ini menunjukkan sebuah pusat berpola bunga dilingkari dengan pola benang emas dengan kawat emas berbentuk spiral dengan emas. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Rompi Besi “Öröba Si’öli” Digunakan oleh prajurit di Nias Selatan sebagai perlindungan terhadap tombak dan pedang. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Perisai “Baluse” Digunakan oleh prajurit di Nias sebagai perlindungan terhadap tombak dan pedang. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” diusung Osa-osa merupakan tempat duduk seseorang ketika melakukan pesta stratifikasi. Pelaksana pesta menjamu seluruh kerabat, warga desa dan bahkan warga desa tetangga untuk mendapatkan pengakuan dan pengukuhan status sosial. Semenjak itu seluruh yang hadir dalam pesta selalu memberi penghormatan baginya. Pengukuhan dan pengakuan itu bertujuan untuk meningkatkan derajad atau status sosial. Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” diusung Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” tetap Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Mahkota Emas “Rai Högö” Makhota Emas untuk perempuan keluarga bangsawan. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan ini yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Mahkota Kayu “Ndrönö” Mahkota dari kayu ini dulu dilapis dengan emas tipis. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/
Sisir Emas “Sukhu Ana’a” Sukhu Ana’a merupakan sisir emas untuk perempuan keluarga bangsawan. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan ini yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/08/perhiasan-tradisional-nias-sumatera-utara/