Alat musik tradisional dari Sumatra utara yang terbuat dari kayu dan memiliki beberapa bagian nada, geratung digunakan dengan cara di ketuk oleh dua buah stik dengan tangan kanan dan kiri, alat musik tradisional ini digunakan untuk mengatr ritme lagu atau melodi yang di klasifikasikan dalam jenis xylophone.
Faritia merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bahan dasar logam atau kuningan bentuknya bulat sama seperti gamelan daerah jawa biasanya dameter berukuran 23 cm dan memilki teabl 4 cm pada bagian tengah menonjol. Cara menggunakannya dipukul dengan alat yang diberinama smalambuo dari bahan kayu klasifikasi alat musik tradisional ini adalah idiophone
Klasifikasi alat musik tradisional ini adalah membranophone yang berasal dari Sumatra utara tepat nya dari batak mandailing, sambilan adalah bahasa batak yang berarti Sembilan yang terdiri dari gendang, gong, alat musik tradisional tiup dan simbal. Alat musik tradisional ini di gunakan dengan cara di pukul dengan beberapa orang biasanya digunakan untuk acara adat tertentu.
Alat musik tradisional sejenis kecapi ini berasal dari daerah tapanuli dan memiliki dawai dengan cara memainkannya di petik nama lain dari hapetan adalah hasapi atau kucapi. Ada juga jenis kecapi seperti ini di temukan di daerah sulawasi dan kalimatan selatan
Sigale-gale adalah boneka kayu yang dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, raja dari salah satu kerajaan di Pulau Samosir. Sigale-gale berawal dari Alkisah, Raja Rahat memiliki putra tunggal bernama Raja Manggale. Sayangnya, sang putra kesayangan gugur di medan perang dan jasadnya tidak ditemukan. Kesedihan karena kehilangan sang putra membuat Raja Rahat sakit. Guna membahagiakan kembali rajanya, para tetua di kerajaan tersebut membuat sebuah patung yang mirip dengan Manggale. Agar patung tersebut ‘hidup’, para tetua itu memanggil roh Manggale yang membuat patung bisa bergerak. Berkat patung tersebut, Raja Rahat pulih dari sakitnya. Sejak saat itu, masyarakat Batak menyebut patung tersebut sebagai Sigale-gale, yang diambil dari nama Manggale. Pertunjukkan Sigale-gale tentu tidak menggunakan roh seperti dimasa lalu. Boneka yang digunakan dalam pertunjukkan, digerakkan menggunakan sistem penggerak mekanis, sehingga boneka bisa menari lincah. T...
Tari Lenggok Mak Inang merupakan tari tradisional Melayu dari Sumatra Utara. Jumlah penari dalam tarian ini ada dua orang, yakni laki-laki dan perempuan. Menceritakan pertemuan antara bujang dan dara, perjalinan kasih mereka, hingga akhirnya pasangan itu melangsungkan pernikahan. Tari Lenggok Mak Inang merupakan tarian dasar dalam tradisi masyarakat Melayu. Seiring perkembangan zaman, tarian ini telah mengalami perubahan, namun beberapa gerakan dasar tarian masih dipertahankan. Hal ini demi menjaga maksud dan pesan yang ingin disampaikan. Tari Lenggok Mak Inang menggunakan tempo sedang, yaitu 2/4. Tempo ini disebut tempo rumba atau mambo yang di kalangan orang-orang Melayu disebut tempo Mak Inang. Tari Lenggok Mak Inang terdiri dari empat ragam di mana setiap ragam terdiri dari 8x8. Tiap-tiap ragam dibagi menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian 4x8. Bagian kedua dari ragam-ragam tersebut merupakan pengulangan bagian pertama. Masyarakat Melayu d...
Musik adalah salah satu hasil dari proses kebudayaan manusia dalam bentuk bunyi-bunyian yang memiliki unsur-unsur melodi , irama dan tempo. Selain itu musik juga merupakan gambaran dari kehidupan sosial masyarakat pemilik budaya tersebut yang dapat disaksikan dan didengarkan dari hasil karya para pemusik tradisional yang diturunkan secara turun-temurun dan tersosialisaikan dalam kehidupan masyarakat yang berkembang sesuai dengan perkembangan jaman . Musik tradisi Batak Toba me...
Lagu Maena Nias: He Ono Alawe Penyair: Ir. Frans F. Bate'e He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Hiza la'oda no siga-siga Boto wandrita ono zalawa He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Hiza sa me tohare la'oda Ba no fondrege ohöwa-höwa He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Ba no ifake salu ana'a Ba te daö ondröita zatua He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Ba högö khönia mokuri duha Ba bu khönia motanömö höwa He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Musik He ono alawe he he, he ono matua ha ha Da talau laria, da talau maena Angango khönia motöla gasa Ba bu hörö khönia sodoi faga He ono alawe he h...
Raja Sirao duduk gelisah di atas singgasananya, berkali-kali dia menarik napas panjang. “Yang Mulia harus segera mengambil keputusan,” kata Penasihat tak sabar. “Aku menyayangi kesembilan putraku, tidak mungkin aku memilih hanya seorang di antara mereka untuk menggantikanku sebagai raja,” ucap Raja Sirao “Tapi, Yang Mulia, sudah beredar kabar kalau mereka akan saling berperang untuk memperebutkan takhta. Yang Mulia tidak boleh berdiam diri!” desak Penasihat. “Baiklah, besok ketika matahari tepat di atas kepala, kumpulkan semua penduduk negeri ini di halaman istana, aku akan mengumumkan keputusanku!” perintah Raja Sirao. Keesokan harinya, semua rakyat berkumpul di halaman istana. Kesembilan putra Raja Sirao juga berbaris di belakang Raja Sirao. Di tengah-tengah lapangan tampak sebuah tombak besar yang ditancapkan dengan ujung runcing menghadap ke atas. “Rakyatku, penduduk Kerajaan Teteholo Hamo,...