Raja Sirao duduk gelisah di atas singgasananya, berkali-kali dia menarik napas panjang.
“Yang Mulia harus segera mengambil keputusan,” kata Penasihat tak sabar.
“Aku menyayangi kesembilan putraku, tidak mungkin aku memilih hanya seorang di antara mereka untuk menggantikanku sebagai raja,” ucap Raja Sirao
“Tapi, Yang Mulia, sudah beredar kabar kalau mereka akan saling berperang untuk memperebutkan takhta. Yang Mulia tidak boleh berdiam diri!” desak Penasihat.
“Baiklah, besok ketika matahari tepat di atas kepala, kumpulkan semua penduduk negeri ini di halaman istana, aku akan mengumumkan keputusanku!” perintah Raja Sirao.
Keesokan harinya, semua rakyat berkumpul di halaman istana. Kesembilan putra Raja Sirao juga berbaris di belakang Raja Sirao. Di tengah-tengah lapangan tampak sebuah tombak besar yang ditancapkan dengan ujung runcing menghadap ke atas.
“Rakyatku, penduduk Kerajaan Teteholo Hamo, hari ini aku akan menentukan siapa yang akan menggantikanku sebagai Raja. Aku akan mengadakan sayembara untuk memilih siapa dari kesembilan pangeran yang akan menduduki takhta kerajaan. Barangsiapa yang berhasil menari di atas tombak, dialah yang berhak menggantikanku sebagai raja. Sekarang mari kita mulai sayembaranya!” Seru Raja Sirao.
Bauwa Dano Hia, putra tertua Raja Sirao mendapatkan giliran yang pertama. Dia melangkah menuju lapangan dengan gugup. Keringat bercucuran membasahi kening dan telapak tangannya. Bauwa Dano Hia berlari dan berusaha menggapai ujung tombak yang telah ditancapkan di halaman istana. Namun dia gagal. Menyentuh ujung tombak pun dia tidak mampu. Keringat di telapak tangannya membuat tombak menjadi licin.
Pangeran kedua yang bernama Lakindro Lai, mendapatkan giliran berikutnya. Dia melangkah dengan penuh percaya diri karena melihat kekalahan abangnya. Sebelum melangkah Lakindro Lai mengambil segengam tanah bercampur kerikil lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, agar tidak licin ketika memegang tombak. Tetapi, telapak tangannya menjadi terluka terkena kerikil kecil. Sambil menahan perih, Lakindro Lai berusaha meraih ujung tombak, namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Lakindro Lai juga gagal menggapai ujung tombak.
Hal yang sama terjadi pada saudara-saudaranya yang lain, mereka semua gagal.
Tibalah giliran putra bungsu Raja Sirao, Balugu Luo Mewona. Sebelum melangkah dan melompat di atas ujung tombak, dia terlebih dahulu menundukkan kepala, berdoa dan memohon restu.
“Wahai para Tetua Kerajaan, Leluhur Teteholo Hamo, Ayahanda Raja, Ibunda Permaisuri, seluruh rakyat Teteholo Hamo, dampingi aku saat melangkah, berikan aku kekuatan. Atas restu kalian semua aku akan menyelesaikan tantangan ini.”
Sesudah memohon restu, Luo Mewona memegang tombak tersebut dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga dia melompat ke atas ujung tombak. Hanya dengan dua kali entakan sampailah dia di ujung tombak itu. Luo Mewona bertengger di ujung tombak yang tajam bagaikan seekor ayam jantan. Di atas kepalanya terpasang mahkota emas dan Luo Mewona menari bagaikan seekor elang. Sambil menari, Luo Mewona menyampaikan salam kepada semua rakyat yang berkumpul di halaman istana. Luo Mewona memenangkan sayembara dan dinobatkan menjadi Raja.
Para Putra Raja Sirao yang lain merasa malu atas kekalahan mereka. Mereka pun cepat-cepat pulang dan bersembunyi, tidak berani menampakkan diri kepada Raja Sirao, bahkan kepada seluruh rakyat. Sampai berbulan-bulan lamanya mereka bersembunyi.
Hingga suatu hari, berkatalah Hia Walangi Adu, putra kelima Raja Sirao “Kita tidak bisa terus bersembunyi dan berdiam diri, mari kita menghadap Ayahanda Raja dan memohon izin untuk pergi dari Teteholo Hamo.”
“Benar, lagipula istana ini terlalu sempit untuk keluarga kita, mari pergi dari sini dan membangun kerajaan sendiri,” ujar Bauwa Dano Hia.
Keesokkan harinya, mereka bersama-sama menghadap Raja Sirao dan memohon agar mereka diizinkan pergi dari Kerajaan Teteholo Hamo.
“Ayahanda tercinta, kami malu atas kekalahan kami karena itu izinkanlah kami pergi meninggalkan istana. Atas kuasamu turunkanlah kami ke Tano Niha—Bumi,” pinta Hia Walangi Adu ketika menghadap Raja Sirao.
Raja Sirao sedih mendengar permintaan putra-putranya, tapi dia tak kuasa menolak permintaan itu.
“Putra-putraku, aku sangat menyayangi kalian. Tak pernah sekalipun tebersit dalam hatiku untuk mengusir kalian meskipun kalian kalah dalam sayembara yang aku adakan. Tetapi, karena kalian bersikeras, aku akan mengabulkannya. Aku akan menurunkan kalian ke Tano Niha—Bumi. Aku juga akan menurunkan bibit tanaman, hewan ternak, alat-alat musik, perhiasan dan senjata untuk kalian. Pergilah dan bangunlah kerajaan kalian di Bumi,” kata Raja Sirao sedih.
“Selamat jalan abang, terimalah hormat terakhir dariku. Aku akan menjaga Ayah dan Teteholi Hamo dengan baik,” ujarLuo Mewona sambil memeluk abangnya satu per satu.
Setibanya di Bumi, kedelapan putra Raja Sirao membangun kerajaannya masing-masing dan berkembang menjadi Suku Nias di Pulau Nias, Sumatra Utara.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/raja-sirao-dan-sembilan-pangeran/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara