Galian singset adalah jamu yang sangat dianjurkan untuk wanita yang sudah menikah karena dapat menjaga dan mengencangkan organ kewanitaan. Dengan meminum jamu galian singset secara rutin, kulit akan terjaga dan tidak mudah keriput. Jamu tradisional ini terbuat dari kunyit, sereh, temulawak, kencur, asam jawa, dan kayu manis.
Tari Emprak merupakan jenis pengembangan kesenian rakyat Emprak, berupa seni peran yang mengangkat pesan moral, diiringi dengan musik yang biasanya berupa salawatan. Tari ini berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Emprak tradisional dimainkan oleh 9-15 orang, semuanya lelaki. Pengiringnya adalah alat musik rebana besar, kecil, dan kentongan, pakaian dan rias wajah seadanya berupa kaos, sarung, dan topi bayi. Dan waktu pementasan semalam suntuk di atas lantai dengan gelaran tikar lesehan. Sementara emprak masa kini bisa dimainkan mulai dari 5 orang, beberapa di antaranya wanita, dengan diiringi rebana besar, kecil, kentongan, dan tambahan alat musik modern seperti orgen, gitar, dan suling. Kostum pemain diperbaharui dengan rompi dan sarung, rias wajah yang lebih baik, serta waktu pementasan yang bisa dibatasi lebih pendek dalam 1-2 jam. Pementasan dilakukan di panggung khusus. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-jepara/
Nama Asli Ki Ageng Pandanaran ialah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat adalah Bupati Kedua Semarang (kini Kota Semarang), Jawa, Tengah Indonesia. Disamping sebagai kepala pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang sakti. Bagaimana sepak terjang Ki Ageng Pandanaran menjalankan tugas-tugas pemerintahan sekaligus menyebarkan agama Islam ke masyarakat Jawa Tengah? Ikuti kisahnya dalam cerita Ki Ageng Pandanaran berikut! * * * Alkisah, sekitar abad ke-16 M., hiduplah seorang bupati yang bernama Pangeran Mangkubumi yang memerintah di daerah Semarang. Ia adalah putra dari Bupati Pertama Semarang Harya Madya Pandan. Sepeninggal ayahandanya, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi kepala pemerintahan Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan K...
Rawa Pening adalah sebuah danau yang merupakan salah satu obyek wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau ini tepatnya berada di cekungan terendah antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Rawa Pening memiliki ukuran sekitar 2.670 hektar yang menempati empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Menurut cerita, danau ini terbentuk akibat suatu peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Legenda Rawa Pening . * * * Dahulu, di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo terdapat sebuah desa bernama Ngasem. Di desa itu tinggal sepasang suami-istri yang bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta yang dikenal pemurah dan suka menolong sehingga sangat dihormati oleh masyarakat. Sayangnya, mereka belum mempunyai anak. Meskipun demikian, Ki Hajar dan istrinya selalu hidup rukun. Setiap menghadapi permasalahan, mereka selalu menyelesaikannya melalui musyawarah. Suatu hari, Nya...
Kata salem pada wingko ini diambil dari nama buah salamah karena rasanya yang dikenal manis. Merupakan camilan dari tepung ketan kemudian diberi, kelapa, gula diurap dan garam sedikit. Bahan tersebut lalu dimasak di dalam kendil dan dipanaskan dengan kayu bakar, jadi semua secara tradisional dan alami. Rasa wingko salem produksi Ny. Ninik terbilang khas. Wanita yang tinggal di Desa gedangan RT 3 RW 4, Kecamatan Mijen, Demak ini mengaku makanan produksinya berasa gurih dan lezat. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2016/03/camilan-khas-demak-jawa-tengah/
Upacara tradisional Jodongan / Ruwahan tepatnya pada hari Jumat Kliwon tanggal 27 Ruwah di Paseban Bayat. Hal ini terjadi karena masyarakat khususnya di Bayat tidak dapat melupakan jasa jasa Kyai Ageng Pandanaran yang telah ikhlas meninggalkan jabatan dan harta kekayaan, semata mata untuk mencari kebahagiaan dan kesempurnaan di akherat. Beliau diangkat menjadi wali pada hari Jumat Kliwon tanggal 27 Ruwah setelah menjadi wali penutup, menggantikan wali Syeh Siti Jenar selama 25 tahun. Maka tiap tiap tanggal 27 Ruwah ditetapkan sebagai hari Jodongan / Ruwahan, timbullah suatu kepercayaan dari masyarakat bahwa pada hari hari Jodongan / Ruwahan semua penduduk membuat hidangan / kenduri yang ditempatkan pada Jodang untuk dibawa bersama sama naik ke Makam Kyai Ageng Pandanaran dengan diiringi Reyog atau Rodad. Para penduduk berkumpul di Gapura pertama yang tercantum sengkalan Murti Sariro Jlengging Ratu (berarti tahun berdirinya Gaura 1488). Setelah perlengkapan lengkap mulailah p...
Pada zaman dahulu, wanita-wanita didaerah jawa sangat dikenal sebagai wanita yang mandiri, dan mampu menjaga dirinya dengan baik. Di masa lalu, wanita-wanita jawa ini sering membawa senjata condroso ini digunakan untuk melindungi diri dari hal-hal kejahatan yang tidak di inginkan. Namun senjata yang dibawa bukanlah senjata yang berbentuk seperti senjata-senjata pada umumnya, senjata yang dibawa oleh wanit-wanita jawa pada zaman dahulu ini adalah condroso, yang mana condroso ini bentuknya hampir sama dengan tusuk konde. Condroso adalah senjata kecil mirip hiasan pada rambut. Condroso masuk dalam kelompok senjata tikam yang digunakan apabila musuh telah lengah. Pada zaman dahulu, condroso banyak dipakai oleh wanita yang bertugas sebagai mata-mata. Condroso dipakai sebagai hiasan sanggul sehingga tidak diketahui musuh.apabila musuh tengah lengah, condroso digunakan untuk membunuh. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2015/03/senjata-tradisional-daer...
Serat Pararaton merupakan sebuah historiografi tradisi yang menjadi rujukan utama para sejarawan dalam mempelajari sejarah Singasari dan Majapahit. Posisi serat ini pun mampu menandingi kitab Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban Singasari dan Majapahit. Padahal kitab Nagarakretagama dan prasasti-prasasti ini lebih jelas asal-usulnya daripada Serat Pararaton itu sendiri. Seperti yang telah diketahui, historiografi tradisi adalah historiografi di mana bercampurnya antara fakta sejarah dengan mitos-mitos yang ada. Dengan bercampurnya antara fakta dan mitos ini tidak serta merta membuat historiografi tradisi diragukan kebenarannya. Sejarawan sendiri lebih banyak mengambil dari Serat Pararaton ketika membicarakan tentang sejarah Singasari dan Majapahit. Dan apa yang mereka dapat dari serat itu mereka bandingkan dengan Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang telah ditemukan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Serat Pararaton adalah inti cerita...
Bedhaya Ketawang terdiri dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya artinya penari wanita di Istana. Ketawang berasal dari kata ‘tawang’ yang berarti bintang di langit. Tarian ini sangat kental dengan budaya Jawa dan dianggap sakral. Tari yang digelar satu tahun sekali ini diperagakan oleh sembilan perempuan dengan tata rias seperti pengantin Jawa. Sembilan pernari tersebut memiliki sebutan masing-masing, yaitu: Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, Dan Boncit. Nomor sembilan juga dapat direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang dari arti Ketawang. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatar belakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama, Panembahan Senopati, dengan Dewi Laut Selatan, bernama Ratu Kencanasari atau biasa disebut Kanjeng Ratu Kidul – sebutan di kalangan masyarakat Jawa. Fokus dari tarian ini adalah pada adegan cinta a...