Konon, ritual dan tradisi adat pernikahan Palembang merupakan salah satu simbol yang mencerminkan keagungan serta kejayaan dinasti raja-raja Sriwijaya berabad-abad silam. Kilau keemasan serta simbol kemewahan dan keagungan terlihat dari rangkaian upacara adat yang menyertakan sejumlah ornamen warna keemasan dan kain sutera, baik untuk perlengkapan prosesi lamaran, seserahan, hingga saat pernikahan. Gemerlap warna keemasan juga menjadi titik pusat keindahan busana mempelai berikut asesorisnya. Berikut beberapa ritual adat yang mengiringi acara pernikahan adat Palembang : 1. Madik Dalam tradisi madik keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk berkenalan sekaligus melakukan observasi terhadap keadaan calon mempelai wanita dan keluarganya. Dalam tradisi ini biasanya calon mempelai pria mengutus orang kepercayaan dari kerabat ibu atau bapak calon mempelai pria yang dapat memberikan informasi yang akurat. Utusan tersebut datang berkunjung sambi...
Deskripsi : Tarian yang dilakukan oleh pengantin wanita ini dan di iringi oleh 3 orang pengantin lainnya menggambarkan tarian terakhir dari pengantin wanita untuk melepaskan masa lajang, tarian ini dilakukan didepan mempelai pria dan menggambarkan bahwa pengantin wanita tersebut hanya akan bertindak didalam lingkaran / tampah menunjukkan bahwa wanita pengantin tersebut sekarang ruang geraknya terbatas karena sudah menikah Kontributor Youtube : antipedes
Rumah limas merupakan bangunan induk anjungan, berupa rumah panggung berbentuk empat persegi panjang, beratap limas yang pada bagian puncaknya terdapat hiasan kuncup bunga cempaka (simbar) dan di ujungnya ada hiasan lengkungan pendek ekor bebek. Di pintu dan jendela ada hiasan yang sekaligus berfungsi ventilasi. Tangga masuk rumah terletak di bagian depan dengan anak tangga berjumlah ganjil. Dahulu, rumah limas merupakan tempat tinggal para bangsawan. Kata limas berarti piramida yang terpancung (di jawa dikenal dengan istilah limasan). Rumah adat limas mengandung makna yang sangat mendalam dan merupakan simbolisasi dari suatu ungkapan yang antara lain diekspresikan dalam bentuk atap yang curam dan lima tingkatan pada lantai atau kekijing. Atapnya berbentuk limas. Badan rumah berdinding papan. Pembagian ruangan yang telah ditetapkan (standard)• Bertingkat-tingkat (Kijing). Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas tiang-tiang yang tertanam...
Deskripsi : Bahan benang kapas, sutera dan benang emas. Ragam hias naga bertarung dan bertumpal. Selendang ini dipakai wanita dewasa yang sudah menikah.
Deskripsi : Bahan benang kapas, sutera dan benang emas. Ragam hias bunga, daun, limar dan rumbai. Digunakan untuk pakaian acara pernikahan atau saat lamaran wanita dewasa.
Deskripsi : Bahan kain sutra, ragam hias motif kotak-kota bergelombang, buang jambu monyet. Digunakan oleh kaum wanita dalam acara pernikahan, khitanan dan cukuran. Kolektor : Museum Balaputradewa, Sumsel (no. inv: 03.224)
Deskripsi : Bahan kain sutra, ragam hias motif kotak-kota bergelombang, buang jambu monyet. Digunakan oleh kaum wanita dalam acara pernikahan, khitanan dan cukuran.
Deskripsi : Terdiri dari kain dan selendang. Bahan sutera, warna coklat tua dan muda. Motif belak ketupat, baling-baling, kembang kacang dan kembang matahari. Di sepanjang tepi bermotif geometris, sedangkan di bagian tumpal bermotif pucuk rebung. Pada ujung selendang dihiasi dengan rumbai benang yang dipilin. Setelan batik ini biasa dipakai wanita dewasa dalam acara resmi, seperti pernikahan.
Deskripsi : Terdiri dari kain dan selendang. Bahan benang super, warna merah jambu. Motif nampan perak yang berisi bangun berbentuk "X" dengan warna pink, orange, hijau dan jingga. Warna tumpal cerah dan diberi benang mas yang berbentuk garis vertikal. Ujung selendang diberi benang berpilin. Stelan blongsong ini dipakai kaum wanita dalam acara resmi, seperti pernikahan.