Bahan untuk membuat alat musik kintung ini adalah bambu. Bentuknya seperti angklung dari Jawa Barat. Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu. Rautan itu makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya. Sedang bagian bawahnya tetap seperti biasa. Panjangnya biasanya dua ruas, dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi. Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya. Semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada yang lebih tinggi. Kintung termasuk alat musik pukul yang berbentuk menyerupai anak angklung yang saling terpisah. Kintung terdiri dari 7 ruas bambu berbagai ukuran yang masing-masing memiliki nama, yakni hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak, tinti gorak, pindua randah, pindua tinggi, dan gorak tuha. Alat musik ini dilengkapi dengan dua tongkat pemukul. Dahulu alat musik ini dipertandingkan, tidak hanya mencakup bunyinya tapi juga hal-hal yang...
Musik Kintung merupakan salah satu kesenian musik tradisional dari Suku Banjar, Kalimantan Selatan. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar, yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan Bincau, Martapura. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding. Alat musik Bahan untuk membuat alat musik kintung ini adalah bambu. Bentuknya seperti angklung dari Jawa Barat. Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu. Rautan itu makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya. Sedang bagian bawahnya tetap seperti biasa. Panjangnya biasanya dua ruas, dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi. Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya. Semakin dibuang atasnya itu aka...
Teater rakyat Mamanda merupakan kesenian asli Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Teater ini telah dibawa oleh rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 M. Rombongan ini, di samping bermaksud melakukan kegiatan perdagangan, juga memperkenalkan suatu kesenian baru yang bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Kesenian tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Badamuluk . Seiring perkembangan zaman, sebutan untuk kesenian ini berkembang menjadi Bamanda atau Mamanda . Berikut ini akan dikemukakan terlebih dahulu bagaimana sejarah dan perkembangan kesenian Mamanda di Kalimantan Selatan. Sejak masa Kerajaan Negara Dipa, masyarakat Kalimantan Selatan telah mengenal beberapa jenis kesenian tradisional, seperti wayang, topeng, dan joged. Ketika Islam mulai berkembang di Kalimantan Selatan pada tahun 1550 M, terutama setelah berdirinya Kesultanan Banjar yang mendapat bantuan dari Kesultanan Demak, kesenian-kesenian tradisional semakin dikenal rakyat. Pada masa...
Syahdan, di Kampung Timbuk Bahalang , Haruai, hiduplah seorang petani bernama Raden Palewangan. Tubuhnya gagah dan kekar. Ia mempunyai istri yang cantik jelita, baik tutur katanya, sopan-santun dalam pergaulan. Namanya Kenanga Boyan. Sesuai namanya, seumpama bunga kenanga, yang wanginya menghiasi konde pengantin. Mereka keturunan bangsawan Kerajaan Tanjung Puri yang menjauhkan diri dari perebutan kekuasaan dan pertikaian di istana, menutup diri dari khalayak ramai. Sehari-hari, mereka dipanggil “Abah Diang” dan “Uma Diang” saja. Akhirnya, mereka bermukim di Kampung Timbuk Bahalang. Kampung itu sunyi, hutan belantaranya lebat sekali. Penduduknya warga Dayak Ma’anyan, Deah dan Lawangan. Hutan yang lebat, luas dan gelap, dihuni hewan payau , kijang, kancil dan burung haruai, yang bulunya dipakai Suku Dayak sebagai tanda kepahlawanan. Di kaki bukit, mengalir Sungai Tabalong Kiwa, yang berhulu di Tampirak, Muara U...
Bahari, di Kampung Mahe, ada bibinian nang batianan. Uma Idang ngarannya. Lakinya sudah kadada lagi, hanyar am mati ditimbak patir wayah di pahumaan. Rumahnya rumbis banar. Hatapnya daun rumbia. Lamunnya ada angin tutus, takipaian hatapnya. Liwar buruk rumahnya. Gawian Uma Idang saban hari maambil upah manurih gatah, sapalih batanam gumbili, sapalihan lagi bahuma. Parutnya sudah masuk itungan lapan bulan. Ujar urang, sabulan haja lagi mambarubus. Tagal, sidin cangkal haja lagi bagawi. “Aduhhhh… Parutku ganal sudah. Parak sudah baranak. Laki, kadada. Dingsanak, kadada. Duit, kada tapi ada. Dimapa juakah kaina nasip anakku ni…,” ujar Uma Idang marista diri. Saban hari, siang malam, Uma Idang asa marista. Satutumat, manangis saurangan, sampai bantal batahi lambuan. Kada karasaan, sampai sudah sambilan bulan, sambilan hari. Manunggu wayahnya haja lagi. Saharianan Uma Idang badangsar, kasakitan parut. Hadap kiwa, hadap kanan...
Di antara gemerisik daun ilalang di pinggiran jalan setapak, dua pasang kaki telanjang pria paruh baya melangkah tak kenal lelah menyusuri lereng bukit di sepanjang pesisir sungai. “Jek adhoh to kang gone sing diparani kui?” tanya Muhiman kepada temannya. “Yo, embuh, dek. Sing penting, mengko lak wis pethuk uwong, ngaso disek. Karo te`ko-te`ko, gon endi lemah ombo sing subur lan oleh digarap,“ jawab Marto Kuncung, sambil terus melangkah. Di kejauhan, tampak kepulan asap di sebuah gubuk. “Kae` koyok enek gubuk. Ayo, mrono,“ sahut Muhiman. Keduanya bergegas ke gubuk itu. “Kulo nuwuuun….“ Hampir bersamaan, Muhiman dan Marto Kuncung mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Sekali lagi, Marto Kuncung mengulangi salam, tapi tetap tak ada sahutan dari gubuk di tengah sawah yang kering dilanda kemarau itu. Di kejauhan, tampak seseorang bergegas menuju pondok. Setiba di depan Marto...
Bahan : 4 piring nasi 4 buah pisang kepok mentah, kukus, rebus, serut 400 gram udang basah, kupas, rebus sebentar 4 butir telor, kocok lepas 5 siung bawang putih, cincang 6 siung bawang merah, cincang Garam dan merica secukupnya 4 batang daun bawang, iris halus 4 sdm margarin untukmenumis 4 buah cabai merah, iris halus Cara membuat : Tumis bawang putih, bawang merah, cabai merah dengan margarin Masukkan telur, aduk – aduk, Masukkan udang rebus, pisang serut dan daun bawang. Aduk – aduk, Tambahkan merica dan garam. Beri nasi, aduk – aduk Angkat dan sajikan selagi hangat Sumber : http://kuliner.ilmci.com/resep/2014/24/nasi-goreng-pisang-kepok.aspx Buku Mahakarya Kuliner: 5000 resep makanan & minuman di Indonesia
Roti ada juga yang bahannya dari sagu, maka dari itu dinamakan roti sagu. Jika ingin membuat roti sagu yang disediakan, yaitu: Bahan: sagu 1 liter tepung gandum 1 liter gula putih 1/4 kg telur bebek 4 butir gula merah Cara Pembuatan: Mula-mula gula putih dan telur dikocok sampai mengembang. Sesudah itu tambahkan dengan sagu dan juga tepung, diaduk rata sampai jadi adonan. Adonan tadi masukkan ke luangan roti yang dibaahnya dipanaskan oleh bara api, apinya jangan terlalu besar. Setelah itu, diatasnya ditaburkan sedikit gula merah yang diserut. Tutup dengan "panai" yang panas. Lama memasaknya sekitar 5 menit, roti sudah matang, warnanya terlihat agak merah muda. Sumber : Buku Profil Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan
Bahan: tepung sagu 1 liter gula putih 1/4 kg 1 biji kelapa parut kacang hijau 1/4 kg Cara Pembuatan: Terlebih dahulu tepung sagu itu disatukan pelan2. Masukkan ke air yang sudah mendidih sampai matang. Diangkat lalu digenggam-genggam, diratakan di tuangan kayu yang ukurannya kira2 satu jari. Setelah itu masukkan lagi ke air yang mendidih. Sampai disitu sudah jadi ular2, tetapi belum lengkap. Kacang hijau digoreng sampai masak, lalu diulek jadi halus. Semuanya dicampur dengan kelapa parut, tambahkan gula putih. Semuanya ditaburkan ke ular-ular. Sumber : Buku Profil Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan