Aksara
18 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Senapan VOC
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Bali

Ukuran : P. 123 Cm, L. 11 Cm. Popor (pegangan) dari kayu diplitur warna hitam, laras bulat panjang dan kecil. Pada pangkal laras senapan terdapat lantakan (tempat mesiu) yang dilengkapi pelatuk berbentuk kepala rusa dan kiri terdapat plat kuningan bertuliskan angka tahun 1682 aksara VOC bagian bawah pangkal popor. Kayu tuas untuk pengokang. Hiasan relief motif suluran terdapat pada pung-gung laras dan bagian penghalang kokang. Pada bawah laras bagian depan terdapat batang logam sebesar lidi, untuk menekan peluru ke dalam laras. Cara kerja senapan antara lain mesiu diletakkan pada rongga lantakan. Kokang ditarik ke belakang maka posisi pelatuk akan ter-angkat ke belakang dan jika kokang ter-angkat maka ke depan menekan mesiu dan akan mengeluarkan percikan api yang mendorong peluru keluar dari laras.

avatar
Wahyu Angga Utama
Gambar Entri
Manuskrip Lontar dan naskah kuno di Museum Gedong Kirtya Bali
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Perpustakaan Lontar Gedong Kertya. Gedong Kertya dan Museum Buleleng terletak di lingkungan Pura Seni Sasana Budaya Singaraja, tepatnya di jalan Veteran no. 23 Singaraja. Gedong Kertya adalah perpustakaan lontar yang ada hanya satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Museum Gedong Kirtya yang didirikan pada 2 Juni 1928 dan mulai dibuka untuk umum pada 14 September 1928. Jumlah koleksi Museum Gedong Kirtya mencapai 1750 lontar, 7211 judul salinan lontar yang mulai dikerjakan sejak tahun 1930-an. Terdapat juga 8490 judul buku tentang agama, sastra bali, jawa kuna, linguistic dan masih banyak lainnya Semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Barisan paling atas Lontar Sasak, isinya tentang budaya Sasak. Kemudian Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat). Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekert...

avatar
Eviakbarwati
Gambar Entri
Ngaben
Ritual Ritual
Bali

Ngaben  merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata  api  yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke  Sunia Loka.   Bentuk bentuk Upacara Ngaben   1. Ngaben Sawa Wedana Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kuru...

avatar
Siti Sarah Daulah Harakah
Gambar Entri
UPACARA ADAT NGABEN
Ritual Ritual
Bali

Bali merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak pemeluk agama hindu, degan kepemelukan agama hindu ini penduduk bali memiliki kpercayaan layaknya pemeluk hindu pada umumnya yang memilki kepercayaan terhadap roh. Menurut masyaratakat ini setelah sesorang meninggal, rohnya tetap hidup untuk itu mereka mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”.     Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat, sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menja...

avatar
Nurulhanif
Gambar Entri
Aksara Bali pada Lontar Kuno yang menjadi rujukan Kamus Jawa Kuno
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Daftar Naskah Lontar yang jadi rujukan Kamus Jawa Kuna Indonesia (Old Javanese-English Dictionary) Zoetmulder Sebagian besar naskah yang menjadi referensi P.J. Zoetmulder dalam menyusun Kamus Jawa Kuna – Inggris atau ataupun Kamus Jawa Kuna – Indonesia adalah aslinya bersumber dari naskah-naskah lontar di Bali yang beraksara Bali. Sedangkan naskah-naskah salinan yang beraksara Jawa yang menjadi rujukan Zoetmulder sebagian besar juga bersumber dari naskah-naskah lontar aksara Bali. Sisanya bersumber dari naskah inkripsi/prasasti. Meskipun sebenarnya, kalau mau dirunut lagi, naskah-naskah dengan bahasa jawa Kuna tentu saja akan bersumber pada naskah-naskah yang tentu saja, beraksara jawa kuna atau beraksara Kawi (baik kawi wiwitan ataupun akhir).  Hal ini mengingat bahwa aksara merupakan ‘wadah’ bahasa, maka bahasa jawa kuna pada saat itu dituangkan  yang dalam dituangkan dalam bentuk  tulisan, ya  dengan aksara jawa kuna....

avatar
Iqrahanacaraka
Gambar Entri
Aksara Bali dalam bentuk kaligrafi gambar penari
Ornamen Ornamen
Bali

Kaligrafi aksara Bali sebagai mana kaligrafi pada aksara Jawa juga merupakan ungkapan untuk turut mempopulerkan aksara Bali dan juga nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Bali. Baligrafi kali ini berbentuk seorang gadis bali yang sedang menari dengan tulisan yang cukup sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam dan bernuansa magis yaitu OM, suatu mantra suci di masyarakat Bali. Salam Aksara http://www.kaligrafijawa.com http://www.kaligrafijawa.com/kaligrafi-aksara-bali-om-gambar-penari/

avatar
Iqrahanacaraka
Gambar Entri
7_ GOA GAJAH, PENINGGALAN SEJARAH HINDU DAN BUDHA
Ornamen Ornamen
Bali

Salah satu daya tarik wisata yang dimiliki Kabupaten Gianyar adalah wisata budaya berwujud situs-situs peninggalan yang sudah berusia sampai belasan abad. Satu diantaranya adalah Gua Gajah yang berada di Banjar Gua, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh. Di kawasan ini, bisa ditemukan 2 (dua) kompleks peribadatan dari 2 (dua) agama. Letak 2 (dua) kompleks peribadatan ini saling berdampingan. Keberadaan dari keduanya menjadi bukti bahwa kerukunan di dalam beragama sudah ada di Nusantara sejak berabad-abad yang lalu. Gua Gajah sendiri merupakan kawasan yang menyimpan peninggalan arkeologi dari masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di pulau Bali. Keberadaan situs ini pertama kali diketahui oleh seorang pejabat dari pemerintah Hindia – Belanda, yaitu L.C. Heyting, pada tahun 1923. Heyting di dalam laporannya menyebutkan adanya sebuah gua dengan dinding luarnya yang penuh ornamen pahatan. Gua berornamen inilah yang menjadi sumber penamaannya, yaitu Goa Gajah. Gua Gajah mempun...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
3 - Aksara Bali
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

 Aksara Bali, dikenal juga sebagai hanacaraka, adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang berkembang di Pulau Bali, Indonesia. Aksara ini umum digunakan untuk menulis bahasa Bali dan bahasa Sanskerta. Dengan sedikit perubahan, aksara ini juga digunakan untuk menulis bahasa Sasak yang digunakan di Lombok. Aksara ini berkerabat dekat dengan dengan aksara Jawa.   Aksara Bali masih diajarkan di sekolah-sekolah Bali sebagai muatan lokal, namun penggunaannya terbatas pada lingkup yang sempit. Dalam penggunaan sehari-hari, sebagian besar aksara Bali telah tergantikan dengan huruf Latin.   Aksara Bali adalah sebuah abugida. Tiap hurufnya merepresentasikan sebuah suku kata dengan vokal /a/ atau /É™/ di akhir kata yang dapat diubah dengan penggunaan tanda baca. Aksara ditulis tanpa spasi (scriptio continua).   Aksara Bali memiliki 47 huruf. Bahasa Bali murni dapat ditulis dengan 18 huruf konsonan dan 7 vokal saja, sementara terj...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
Kakawin Bharatayuddha
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Naskah ini berjudul Kakawin Bharatayuddha atau Bratayuda Kawi. Tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan kode naskah CS 11a dan nomer Rol 4.01. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuna dan aksara Bali ditulis di atas kertas Eropa, serta berjumlah 135 halaman dan berukuran 20 x 31 cm. Naskah ini berisi teks Jawa Kuna Kakawin Bharatayuddha, dicetak litograf tahun 1863 oleh S. Lankhout di s’Gravenhage. Awalnya, naskah asli merupakan koleksi T.S. Raffles, sekitar tahun 1815 di Jawa, kemudian dihibahkan kepada koleksi Royal Asiatic Society di London, dengan kode Raffles Java 1. Buku ini diberikan oleh Bataviaasch Genootschap pada tahun 1863, rangkap dua (CS 11a, 11b). Ekslempar yang lain terdapat di LUB, berciri LOr 2109, yang dideskripsikan dalam Pigeaud 1968: 68, Vreede 1892: 11-12, dan Cohen Syuart 1862. Dalam naskah versi ini, teks sampai pupuh 51 bait 19, sedangkan versi yang diuraikan oleh Zoetmulder (1983: 324-332) mencapai pupuh 52, bait 12. [11,14]  ...

avatar
Arum Tunjung