Naskah ini berisi petunjuk di dalam penggunaan rambu siporhas . Rambu Siporhas biasa digunakan untuk peramalan dalam konteks berperang, dan naskah ini merupakan salah satu koleksi dari Museum aan de Stroom di kota Antwerp, Belgia . Diduga, naskah ini diperoleh dari Hans Christoffel , dia yang membunuh Raja Si Singamangaraja XII . Wichelboek 'pustaha laklak' | AE.1922.0001.1007 | Toba-Batak [volk] | Sumatra [eiland] Verwervingsdatum : 1958 | Formaat : breedte: 22.8 cm | hoogte: 14 cm | diepte: 6.3 cm Het boek is gemaakt van een met rijstwater behandelde strook bast van de alimboom, in harmonika gevouwen tot 56 bladen. Met zwarte, in water onoplosbare kleurstof, werden rijen schrifttekens aangebracht, op enkele bladzijden ook half-mens-half-dier-figuren, naast magische motieven. Van alle Batak-groepen zijn de Toba veruit de meest talrijke ; op het schiereiland Samosir, in het Tobameer, hielden zij hun oorspronkelijke cultuur lange tijd ongeschonden. In het dagelijks leven sp...
Pehu Na Pitu merupakan nama Batak yang ditujukan untuk tujuh planet, yaitu Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, dan Saturnus. Darisini lah bangsa Batak menjadikan nama-nama hari dalam seminggu, antara lain Artia (Matahari), Suma (Bulan), Anggara (Mars), Muda (Merkurius), Boraspati (Jupiter), Singkora (Venus), dan Samisara (Saturnus). Pehu Na Pitu juga digunakan datu (cendekiawan) untuk peramalan hari baik dan hari buruk. Sumber Naskah: Museum Antropologi Ubersee, Bremen | Pustaha A 12332
Cuplikan naskah (dari 159 halaman) Pustaha Laklak berisi "Tambar ni Hulit". Naskah kuno ini beraksara dan berbahasa Batak varian Batak Simalungun. Resep Obat Luka terkena Tombak : I ya pangubung hosah ni na hona Hujur ta di baliyan asa da Buhat ma hosaya ni hapur Bang dohot jarango asa da giling Asa da poroh mambuhat ay- Yek ni jarango dohot minak Asa da bayen ma di baba ni buang Ni halak // I ya pangubung hosah ni Halak di baliyan na hona Hujur asa da buhat ma tinaru Ni manuk sada na gorsing Ni da buhat rondang sanggo- Lom dohot poge dohot ha- Lahas dohot lasina hunting do- Hot hasiyor pitun na......... Sumber : Manguji Nababan
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Sampurna, Judul: PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK – Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Penulis: Mas Henry Kategori: Etika, Moral & Pepatah ═════════════════════════════════ PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduhjero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ═════════════════════════════════ ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu...
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Prasasti Yupa: Sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai Identitas dan Asal-Usul Prasasti Yupa merupakan peninggalan tertulis tertua dari Kerajaan Kutai, sebuah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara [S2]. Objek ini dikategorikan sebagai prasasti, yaitu media tulis kuno yang dipahatkan pada bahan tidak mudah rusak seperti batu, yang menandai peralihan dari zaman prasejarah ke zaman sejarah di Indonesia [S1][S3]. Secara resmi, tujuh Prasasti Yupa koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris D.2A, D.2B, D.2C, D.2D, D.175, D.176, dan D.177 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 [S5]. Istilah "yupa" sendiri merujuk pada tugu batu yang berfungsi sebagai tiang pengikat hewan kurban dalam upacara keagamaan Hindu [S2]. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan berbahasa Sanskerta, yang berdasarkan bentuk dan jenis hurufnya diperkirakan berasal dari sek...
Bahasa Sanskerta Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi Ci Aruteun, anak sungai dari Ci Sa Identitas dan Asal-Usul Prasasti Ciaruteun—alternatif disebut Prasasti Ciampea—merupakan prasasti batu berbahasa Sanskerta yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Tarumanagara [S2]. Dalam klasifikasi kebudayaan, objek ini tergolong dalam kategori Naskah Kuno dan Prasasti, yakni media tulis kuno berupa huruf atau tanda konvensional yang dipahat pada bahan tahan lama untuk merekam peristiwa penting [S1][S3]. Secara teknis, prasasti ini berdimensi 200 cm × 150 cm dan telah terdaftar sebagai cagar budaya dengan nomor registrasi 139/M/1998 tanggal 16 Juni 1998 [S2]. Daerah asal prasasti terletak di tepi Ci Aruteun, anak sungai Ci Sadane, yang secara administratif masuk dalam Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada koordinat 6°31’23,6” LS dan 106°41’28,2” BT [S2]. Sebagai bukti utama peradaban kuno, prasasti ini—bersama prasasti lain—memegang peran...