Namanya Oha Santa Pejo Dan Oha Po o. kedua makanan ini berbahan dasar beras ketan, kelapa parut dan Pejo atau kacang merah. Kedua makanan ini mengalami proses masak yang sama yaitu dengan cara disantan. sehingga dinamakan Oha Santa. Yang membedakan adalah taburan Pejo atau kacang merah pada oha santa pejo dan taburan kelapa parut yang dibubuhi gula merah maupun gula putih pada oha Po o. Pada masa lalu Oha santa pejo tidak ditaburi kelapa parut dan gula. Tapi di kedai Oha Po o di Sera suba, Sefo( penjual oha po o) menaburkan kelapa parut dan gula merah pada Oha Santa Pejo. Kedua oha ini sebenarnya ada dimana mana di belahan nusantara, terutama pada masyarakat Melayu. Penamaan dan istilahnya saja yang berbeda di masing masing daerah. Pada masa lalu, 0ha Po o maupun oha santa pejo biasa disuguhkan pada hajatan warga terutama memasuki hajatan Wura Bola atau Misfus sya'ban. Dalam menyambut ramadhan, nasyarakat Bima menggelar Doa Bola atau Do a Misfus Sya’ban. Harga...
Saya baru pernah menikmati kuliner ini. Pangaha Kanggia, atau kue semut,demikian warga desa Padiolo kecamatan Palibelo menyebut penganan ini yang disajikan sebagai menu berbuka puasa dalam rangka safari ramadhan Pemerintah Kabupaten Bima pada Rabu, 7 Juni 2017. Rasanya manis dan lembut. Bahanya dari tepung beras yang dikukus kemudian dimasukan dalam adonan gula merah. Menu yang cocok untuk berbuka. Entah kenapa disebut pangaha Kanggia,padahal dari bentuknya tidak sama seperti Kanggia. Menurut warga penganan ini termasuk kue khas Bima. Ada juga yang menyebutnya Baneba. Tapi di desa Padolo penganan yang manis lembut ini lebih dikenal dengan naman Pangaha Kanggia. Penganan ini sangat cocok untuk berbuka puasa karena lembut dan manis. Berbuka puasa dengan yang lembut dan manis adalah anjuran Nabi Muhammad SAW dan juga petunjuk kesehatan karena lambung kita belum bias menerima makanan yang keras terutama pada awal-awal berbuka puasa.
Disadari atau tidak, Lumajang menyimpan segudang peninggalan bersejarah dan cerita-cerita rakyat yang menyisakan kenangan-kenangan akan kebesaran masa lalu yang terkadang diiringi dengan rangkaian cerita tentang perlawanan terhadap kekuasaan yang selalu ingin menghabisi kemajemukan dan keragaman politik yang berbeda-beda. Perlawanan-perlawanan khas Lumajang ini dapat ditelusuri sampai sekarang pada nama-nama desa yang sesuai dengan cerita Babad seperti daerah Pajarakan (Randu Agung), Padali (Ranu Bedali/ Ranu Yoso), Arnon (Kutorenon/Sukodono) dan masih banyak lagi yang lainnya. Disamping itu kita dapat menemukan desa-desa yang namanya tetap dipakai sampai sekarang dan dapat dijadikan sebagai bukti perlawanan yang ada di Lumajang. Nama-nama desa yang merupakan tempat pengungsian ketika Minak Koncar (Penguasa Lumajang) mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap aman seperti desa “Bodang” yang merupakan kepanjangan dari “mbok-mb...
Kue tradisional Mbojo yang satu ini mirip krupuk. Bahkan di kampung saya sering menyebut dengan krupuk arunggina. Kadang juga disebut Renggina. Terlepas dari perbedaan penyebutan tersebut, Arunggina maupun Renggina cukup diminati oleh semua kalangan. Memakannya diwaktu panas atau dalam keadaan hangat adalah saat-saat yang tepat. Di Pasar Ama Hami Kota Bima, krupuk Arunggina sudah jarang ditemukan. Pada masa lalu, Arunggina sering dibuat ketika ada hajatanhajatan seperti acara Doa pada malam misfus sa’ban atau yang oleh orang-orang Bima dikenal dengan Do’a Bola. Bahan pembuatan Arunggina adalah beras ketan dan sedikit garam. Beras ketan direbus dengan dandan dan setelah matang dikeluarkan serta dibebentuk seperti layaknya kerupuk. Kemudian dijemur hingga kering, lalu Arunggina digoreng seperti krupuk. Kriuk renyahnya sangat terasa ketika Arunggina disajikan bersama makanan lainnya. Maraknya peredaran kerupuk dalam berbagai jenis dan cita rasa saat ini telah mengge...
Pada umumnya di Indonesia memang Jantung Pisang bisa diramu dan dibuat untuk berbagai jenis masakan. Di Bima Jantung Pisang ini bisa juga diramu dalam berbagai bentuk masakan salah satunya adalah Manggemada atau Gulai Jantung Pisang. Bahan utama kuliner ini adalah Jantung Pisang, santan kelapa dan udang. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain : 1 buah jantung pisang kapok, 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan),1 gelas santan kental dari 1 kelapa,300gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya) dan 1 butir jeruk nipis (ambil airnya). Sedangkan bumbu-bumbunya antara lain 5 buah cabe keriting, 7 butir bawang merah, 5 buah belimbing wuluh dan Garam secukupnya. Cara Membuatnya yaitu Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya) kemudianRebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong lalu diperas (buang air getirnya), lalu Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam. Masukkan santan dan air jeruk nipis, dan tera...
Jangko adalah persembahan atau wejangan yang diisi dengan berbagai jenis kue tradisional, pisang dan Oha Mina atau Oha Santa. Oha mina adalah olahan dari beras ketan yang didandang lalu dicampur dengan minyak kelapa asli buatan sendiri dengan ditaburi bawang goreng dan irisan hati atau daging. Oha Mina lebih enak diselipkan daging rusa. Pada masa lalu, Oha Mina diselipkan daging dari burung “Kawubu “ atau Ayam. Kawubu adalah sejenis burung perkutut dengan sangkar khusus yang serba tertutup dan beda dengan burung lainnya. Dagingnya sangat cocok untuk diselipkan di dalam Oha Mina. Sedangkan Oha Santa adalah olahan dari beras ketan yang didandang dan bersantan. Ada juga Oha Santa Pejo yang di dalamnya dimasukan sejenis kacang merah.
Uma Ngaha atau dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Makan. Demikianlah nama warung makan yang khusus menjual Sop Tuta Uta atau Sop Kepala Ikan. Uma Ngaha terletak di kompleks Ruko di sebelah timur kantor Dinas Dikpora Kabupaten Bima atau di jalan Seokarno Hatta sebelah barat gunung dua kota Bima. Um Ngaha telah dibuka setahun lalu dengan menu utama adalah Sop Tuta Uta (Sop Kepala Ikan), Saronco Peke atau Sop tulng Sapi, dan Palumara Tuta Uta (kepala ikan kuah asam). Sedangkan menu tambahan adalah Sop Ayam Kampung, Lalapan Ayam Kampung, lalapan ikan, bandeng presto dan nasi campur. Harga tiga menu utama dari Uma Ngaha masing-masing seharga Rp.25.000 dengan sepiring nasi putih.Memang agak mahal, tetapi sensasi rasa dari Sop Tuta Uta bikin kita tak kepikiran merogoh kocek demi mendapatkan makanan yang enak dan higienis. Kepala Ikan yang dipakai untuk Sop ini adalah ikan tuna. Untuk menambah aroma sop ditaburi daun sop dan bawang goreng. Sop Tuta Uta dimasak dengan telur, tomat dan...
Beras ketan menjadi bahan utama seluruh kue tradisional Mbojo. Salah satu jenis kue yang menggunakan beras ketan atau yang dikenal dengan Fare Keta adalah Pangaha Balu. Pangaha berarti kue. Balu adalah rasa gurih yang dihasilkan dari adonan Pangaha Balu. Yang membuat kue ini enak adalah campuran air gula merah yang dicampur di dalamnya. Kadang digunakan gula putih, tetapi Pangaha Balu lebih enak menggunakan gula merah. Warna dan aromanya juga menarik. Pangaha Balu bisa dibeli di Pasar Raya Ama Hami Kota Bima. Di kampung-kampung juga banyak penjual kue keliling yang menjual Pangaha Balu seperti di kelurahan Sadia, Santi, Penagara, Rabangodu, Nae, Salama, Tanjung, Melayu dan sejumlah kelurahan lainnya. Harga Pangaha Balu relative murah dan terjangkau. Satu buah Pangaha Balu seharga Rp.1.000. Kadang di pasar Ama Hami Kota Bima, para pedagang menjual 6 buah pangaha Balu dengan harga Rp.5.000.
Kue yang satu ini diberi nama Waji Bodi. Seperti halnya Waji atau Wajik, Waji Bodi berbahan dasar beras ketan yang dimasak dengan cara didandang. Namun setelah masak, Waji Bodi dikeringkan seperti krupuk tetapi dalam bentuk seperti Waji. Setelah kering lalu digoreng dan dilumuri dengan air gula merah atau gula putih. Waji Bodi terasa manis dan kriuk-kriuk seperti krupuk. Waji Bodi banyak dijual sepanjang jalan di pasar Sila kecamatan Bolo Kabupaten Bima dari pagi hingga malam hari. Harga satu bungkus plasik Waji Bodi adalah Rp.10.000. Dalam satu bungkus plastic terdapat sekitar 20 buah Waji Bodi yang berbentuk segi empat pajang sama sisi atau seperti kubus. Waji Bodi sangat cocok menemani perjalanan jauh untuk ngemil di atas mobil dengan pangaha bunga(kue bunga) dan kue Seroja yang biasa dijual bersama Waji Bodi. Keberadaan para penjual kue tradisional Mbojo sepanjang pasar sila dan sekitarnya perlu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah dengan menyiapkan lapak-lapak permanen y...