Cimpa (Sumatera Utara) Bahan yang diperlukan: 1 kg tepung beras 1 kg gula merah 1 buah kelapa Serbuk vanili secukupnya Cara membuat: Tepung beras diencerkan dengan santan kelapa dan gula merah yang sudah dicairkan sehingga menjadi adonan yang kental. Kemudian ditambah dengan sedikit vanili. Siapkan wajan yang agak tebal, sebaiknya yang tidak lengket (teflon). Olesi sedikit minyak goreng setelah wajan panas. Masukkan adonan ± 50 cc, tutup sampai mengering kemudian dibalik, dimasak sampai matang di atas api kecil. SELAMAT MENCOBA :) Sumber: http://kuliner.ilmci.com/resep/2011/12/cimpa-sumatra-utara.aspx
Selain boi masih terdapat lagi kue tradisional yang disebut samaloyang. Alat untuk membuat kue ini disebut juga bruek samaloyang Bahannya dibuat dari tembaga yang berbentuk bunga serta diberi tangkai sebagai tempat pegangan. Seperti halnya bruek boi, bruek samaloyang juga dapat dibeli untuk memilikinya. Cara penggunaan bruek sederhana, setelah adonan kue disiapkan agak encer, lalu minyak goreng dipanaskan di perapian di dalam wajan. Setelah minyak mendidih, diambil bruek samaloyang, lalu dicelup ke dalam adonan kue. Tepung adonan melengket pada cetakan kue dan cetakan tersebut dimasukkan ke dalam minyak yang sedang mendidih. Setelah agak keras, tepung adonan tersebut dilepaskan dari cetakan dan biarkan sampai masak, bani kemudian diangkat dari dalam minyak. Membersihkan bruek samaloyang sangat mudah. Setelah selesai digunakan bruek samaloyang diolesi dengan minyak kelapa. Hal ini diperuntukkan agar pada saat penyimpanan tidak terjad...
Cething adalah sebutan alat dapur yang berfungsi sebagai tempat menaruh nasi yang sudah matang dan siap dihidangkan untuk disantap. Masyarakat Jawa dulu mengenal cething terbuat dari anyaman bambu, berujud seperti mangkuk. Anyaman bambu itu dibuat dengan diameter rata-rata sekitar 20 cm dan tinggi 16 cm. Bagian atas diberi belahan bambu berbentuk lingkaran, sementara bagian bawah diberi belahan bambu persegi empat berfungsi sebagai alas atau kaki.Pada perkembangan teknologi, cething terbuat dari logam dan plastik. Namun, cething bambu hingga saat ini masih tetap eksis, terutama dipakai di daerah pedusunan dan rumah-rumah makan yang ingin menampilkan suasana tempo dulu. Cething juga biasa disebut dengan istilah wakul. Cething sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak lama. Masyarakat Nusantara lain tentu juga sudah lama mengenalnya. Bagi masyakarat Jawa, bisa melacak istilah cething ini dalam sebuah kamus bahasa Jawa “Baoesastra Djawa” terbitan 1939 karangan W...
Tuak adalah salah satu minuman yang masuk dalam golongan alkohol, hasil fermentasi dari bahan minuman/buah yang mengandung gula. Umumnya tuak di daerah Sumatera Utara terbuat dari tanaman/pohon aren atau kelapa. Sampai sekarang, minuman tuak masih sangat merakyat di daerah Sumatera Utara apalagi untuk orang Batak Toba yang tinggal di bona pasogit atau tempat-tempat lain. Hampir di setiap kampung ada kedai yang sering dinamakan kedai tuak atau lapo tuak. Di kota Siantar dan kota-kota kecil lainnya pastilah juga terdapat beberapa kedai tuak. Walaupun tidak hanya tuak dihidangkan di kedai tersebut, namun nama kedai itu justru diambil dari minuman tuak ini. Bila meminum sedikit, tuak akan menciptakan keramahan. Semakin banyak tuak dikonsumsi maka akan mengganggu kemampuan orang yang meminum untuk mengerti kejadian-kejadian penting yang berlangsung di sekitarnya. Semakin banyak tuak diminum maka orang tersebut akan secara serius mengalami gangguan koordinasi gerak tubuh, kemamp...
Tuak ental dikenal di daerah Bali yang banyak ditumbuhi pohon ental, seperti Merita, Culik, Tianyar, Kubu. Dibuat dari sadapan air bunga pohon lontar/siwalan. Lebih berat kadar alkoholnya dibanding tuak nyuh, rasaya lebih gurih, dan cepat membuat mabuk. Sumber: https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/metuakan-tradisi-minum-tuak-di-karangasem.html?lang=id
Tuak nyuh dibuat di daerah Bali yang banyak pohon kelapanya, seperti Pikat, Pidpid, dan Gunaksa. Dibuat dari sadapan air bunga pohon kelapa. Kadar alkoholnya lebih keras dari tuak jake, peminum umumya cepat merasa pusing. Sumber: https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/metuakan-tradisi-minum-tuak-di-karangasem.html?lang=id
Tuak bayu adalah tuak yang telah tersimpan selama dua sampai tiga hari. Sumber: https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/metuakan-tradisi-minum-tuak-di-karangasem.html?lang=id
Tuak wayah adalah tuak yang telah tersimpan satu sampai dua hari. Sumber: https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/metuakan-tradisi-minum-tuak-di-karangasem.html?lang=id
Semedah adalah tuak yang rasanya lebih netral, tidak terlalu tua dan tidak terlalu masam, dan masih enak untuk diminum. Sumber: https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/metuakan-tradisi-minum-tuak-di-karangasem.html?lang=id