Tari Pupus Widuri (https://documents.tips) Pupus widuri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Using, yaitu pupus yang berarti daun muda dan widuri adalah nama sejenis makhluk cantik atau bidadari. Jadi, makna kata pupus widuri adalah gadis muda yang sangat cantik seperti bidadari. Tarian ini dilakukan oleh seorang gadis yang baru menanjak remaja. Tari pupus widuri merupakan gabungan dari beberapa gerak tari tradisional Banyuwangi, seperti tari seblang, tari gandrung, tari gridhoan, dan tari ngarak penganten. Gerakan tari-tarian tersebut digabung dan dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu gerak yang harmonis dan bisa membuat penonton terpesona, baik oleh gerakan maupun kecantikan penarinya. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banyuwangi-jawa-timur/
Tari Keter Wadon (https://documents.tips) Keter wadon adalah sebuah tari yang diilhami oleh kegiatan burung-burung pipit yang lincah, bebas berkeliaran di udara, mencari makan di mana-mana tanpa ada yang menghalangi, kecuali si anak nakal. Mereka beterbangan di udara, hinggap di atas pohon, bermain di telaga bening, berjemur di panas matahari sambil bercengkerama. Namun, malang karena seekor dari mereka jatuh dipanah, disumpit atau ditembak oleh seseorang yang jahil sehingga ia ditinggal pergi oleh teman¬temannya yang lari ketakutan dan mencari dunia yang lebih bebas dan aman. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banyuwangi-jawa-timur/
Tari Walang Kadung (https://documents.tips) Tari walang kadung adalah salah satu seni tradisional daerah Banyuwangi yang penciptaannya berdasarkan pengalaman atau pengamatan terhadap kehidupan walang kadung di pohon-pohon atau dedaunan. Walang kadung merupakan jenis serangga yang biasa hidup di daun-daun muda pohon jambu kluthuk (jambu batu). Jika diperhatikan, gerakan binatang ini sangat menarik, terutama pada kaki depannya, kaki belakang yang panjang tidak pernah diam, kepalanya yang tidak pernah tunduk, serta matanya yang selalu terbelalak. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banyuwangi-jawa-timur/
Tari Cengkir Gading (https://www.youtube.com) Cengkir adalah buah kelapa yang masih muda. Gading adalah jenis kelapa berwarna kuning dan pohonnya tidak terlalu tinggi. Jadi Cengkir Gading adalah buah kelapa kuning yang masih muda dengan pohon yang tidak terlalu tinggi. Bentuk buah dari jenis kelapa ini bulat, tidakterlalu besar memang. Dan dalam masyarakat Jawa sering digunakan dalam sebagai hiasan simbolik di gapura atau pintu masuk tempat resepsi pernikahan. Bahwa Cengkir Gading dimaksudkan sebagai sebuah simbol bahwa kaum muda adalah sebuah cengkir yang bentuknya bulat, jujur, polos, belum terimbas oleh pamrih yang bisa membuat satu semangat tidak lagi bulat. Pada masanya kaum muda adalah pewaris sah dari kehidupan ini. Rasanya manis memang, dan kita harus terpanggil untuk menjaga kebulatan dan energi kaum muda yang meskipun tidak menjulang tinggi tetapi tetap membumi dan berguna. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-...
Tari Selendang Kali Serayu (https://adigunaku.blogspot.co.id) Tari tersebut mengambarkan keagungan sungai Serayu yang mengalir sepanjang Banjarnegara dan banyak menghidupi lahan warga masyarakat Banjarnegara. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banjarnegara-jawa-tengah/
Tari Brenong Kepang (https://budparbanjarnegara.com) Brenong Kepang merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi ketika seorang calon pengantin laki-laki hendak melaksanakan pernikahan di zaman dahulu. Adapun syarat yang dibawa yaitu semua bentuk peralatan dapur atau memasak dan ditambah dengan berbagai sesaji. Tari ini berisi petuah buat kedua pengantin dalam berumah tangga serta kadang kala di dalamnya diselingi dengan humor. Pagelaran yang diiringi dengan Gendhing Banyumasan ini di wakili oleh dua orang dukun begalan. Yang satu mewakili pihak pengantin putri dengan ciri khas membawa “Wlira” (ruyung dari pohon Jambe), sedangkan perwakilan dari pihak putra ditandai dengan membawa “Brenong Kepang” (perabot dapur). Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banjarnegara-jawa-tengah/
Tari Ujungan ( https://www.antarafoto.com/ ) Tari Ujungan merupakan ritual meminta hujan yang dilakukan oleh masyarakat Gumelem dan sekitarnya ketika musim kemarau panjang. Melalui ritual ini, para lelaki terpilih saling memamerkan kekuatan “atosing balung, wuleding kulit” (kerasnya tulang, kuatnya kulit) yang dipadu dengan tindakan estetis. Sekilas tari Ujungan semacam olah raga tradisional yang cukup keras, menggunakan sebatang rotan untuk memukul lawannya pada bagian paha ke bawah. Semakin banyak darah yang ke luar maka semakin cepat hujan akan turun. Namun dibalik kerasnya pelaksanaaan ritual tersebut, sebenarnya ritual Ujungan memiliki tujuan yang sangat luhur bagi kontinuitas kehidupan dunia. Bahwa air adalah sebagai sumber kehidupan. Dalam pementasan karya kali ini, ditampilkan tari Ujungan yang dipadukan dengan tarian Lengger serta batik gumelem. Ujungan juga untuk meminta hujan untuk kesuburan panen, dimana panen tersebut untuk makan atau bahasa daerah htt...
Dawet Ayu Banjarnegara memang ASLI dari Banjarnegara, bukan dari daerah lain. Dawet ayu adalah minuman khas terdiri dari santan, air gula aren (juruh), dan dawet yang terbuat dari tepung beras dan tepung gelang. Dengan tambahan nangka dan durian, kelezatan dan aroma dawet benar-benar menggugah selera yang menyegarkan. Perlengkapan penjualan memakai simbul wayang Semar dan Gareng. Kedua tokoh wayang itu sangat merakyat sehingga dapat diartikan bahwa dawet adalah minuman menyegarkan yang dapat dinikmati oleh semua golongan masyarakat. Tema penampilan “Dengan tari Angkring Dawet Ayu diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan wirausaha baru pengolahan dawet ayu sehingga membantu mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat” Semar (mar) gareng (reng) jadi Mareng = kemarau. Dengan kemarau (tidak hujan) dawet ayu akan laris manis. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/01/tarian-tradisional-banjarnegara-jawa-tengah/
Perkembangan tayuban di Sumedang berawal dari bupati sumedang yaitu Pangeran Suria Kusumah Adinata (1863 – 1882) yang menyukai tari gagahan yang diiringi oleh lagu sonteng atau panglima. Selama masa periode ke-tiga bupati sumedang. Muncul sebuah anjuran bahwa para pejabat atau menak harus bisa menari, atas dasar anjuran tersebut para pejabat atau kalangan menak saling berlomba untuk belajar menari, karena bagi mereka tayuban tersebut merupakan sebuah ajang unjuk gigi dan mengangkat derajatnya sebagai kalangan terhormat. Tetapi, sekarang bukan hanya para menak yang boleh menari dalam tayuban. Tarian ini mengungkapkan kegembiraan. Gerakannya merupakan improvisasi. Secara spontanitas, penari tayub bisa menciptakan improvisatoris, tapi tetap sesuai dengan musik pengiring. Keseni...